Lewati ke konten

Kedai Tanah Senja: Ngopi di Tepi Sungai, Bukan di Tepi Kehancuran Lingkungan

| 4 menit baca |Ide | 7 dibaca

JOMBANG – Biasanya, kalau dengar kata “kedai kopi”, bayangan kita langsung ke tempat dengan lampu redup, playlist galau Akad, dan meja-meja kecil yang isinya anak muda sibuk main laptop. Nah, di Wonosalam, Jombang, ada satu kedai yang beda: Kedai Tanah Senja. Bedanya apa? Bukan jualan kopi pakai topping keju leleh, tapi karena konsepnya ramah lingkungan. Sesuatu yang jarang ditemui di dunia perkopian yang kadang lebih banyak menghasilkan sampah plastik daripada menghasilkan mantan.

#Ngopi Sambil Dengar Sungai, Bukan Suara Knalpot

Kedai ini dibangun di tepi sungai, lengkap dengan gemericik air yang bisa bikin hati adem. Kalau biasanya nongkrong ditemani suara knalpot brong tetangga, di sini gantinya suara air dan angin. Bangunannya juga unik: joglo klasik dua lantai. Jadi, kalau lantai bawah sudah penuh sama rombongan yang sibuk update story, Anda bisa naik ke atas, pura-pura jadi penulis indie yang sedang mencari inspirasi senja.

Selain itu, lokasinya di Wonosalam bikin suasana makin mantap. Udaranya dingin, pemandangan hijau, dan bonusnya: Anda bisa ngerasa seperti karakter utama film indie, yang lagi “kabur dari hiruk pikuk kota”.

#Anti Take Away, Pro Take Your Time

Satu hal yang bikin Kedai Tanah Senja berbeda adalah aturan “tidak melayani take away”. Jadi kalau Anda terbiasa beli kopi cuma buat dipajang di feed Instagram dengan caption “coffee is life”, siap-siap kecewa. Konsep ini sengaja dibuat agar orang benar-benar ngopi di tempat. Duduk, ngobrol, atau sekadar menikmati waktu tanpa buru-buru.

Bahkan, sedotan plastik di sini sudah diganti dengan stainless. Jadi kalau Anda masih ngotot cari plastik sekali pakai, siap-siap dianggap sebagai makhluk langka yang sebentar lagi masuk daftar merah WWF. Kedai ini serius soal lingkungan, bukan sekadar jualan jargon.

#Menu Sederhana, Hati Hangat

Kalau mendengar “konsep ramah lingkungan”, mungkin Anda membayangkan menu mahal dan ribet, macam cappuccino oat milk infused lavender. Tapi jangan salah, menu di sini justru sederhana: nasi goreng, bakmi, dan aneka wedang yang pas diminum di udara dingin Wonosalam.

Harga? Masih manusiawi. Cocok untuk dompet mahasiswa, bukan harga “cafe kucing impor” yang bisa bikin saldo e-wallet langsung megap-megap.

Jadi, di sini, nongkrong itu bukan tentang pamer, tapi tentang perut kenyang, hati tenang.

#Dari Relawan Lingkungan ke Barista Senja

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Pengelolanya, Afrianto Rahmawan, bukan orang sembarangan. Selain buka kedai, ia juga aktif jadi relawan di LSM lingkungan. Jadi wajar kalau konsep kedai ini penuh dengan pesan menjaga bumi. Nama “Tanah Senja” sendiri dipilih karena dianggap sebagai tempat damai—pas banget sama atmosfer yang ditawarkan.

Bayangkan: nongkrong di bangunan joglo, ditemani suara sungai, sambil tahu kalau kedai yang Anda datangi tidak merusak alam. Rasanya jauh lebih nikmat ketimbang nongkrong di tempat yang AC-nya dingin tapi sampah plastiknya menumpuk.

#Nongkrong Bukan Sekadar Gaya

Kedai Tanah Senja jadi pengingat bahwa nongkrong bisa punya makna. Nongkrong itu nggak harus sibuk cari spot aesthetic, nggak harus buang sampah sembarangan, dan nggak harus menggadaikan separuh gaji demi secangkir kopi. Nongkrong bisa ramah lingkungan, ramah dompet, dan tetap ramah hati.

Apalagi di zaman sekarang, di mana “nongkrong” kadang cuma jadi alasan biar bisa update story “healing tipis-tipis”. Di Tanah Senja, healing-nya betulan: alamnya asli, udaranya segar, dan konsepnya bikin kita belajar untuk lebih pelan dalam hidup.

#Senja, Kopi, dan Harapan

Singkatnya, Kedai Tanah Senja ini bukan sekadar kedai kopi. Ia adalah kombinasi antara tempat nongkrong, ruang belajar tentang lingkungan, dan spot healing yang ramah isi dompet.

Kalau kata orang bijak: “Mari rawat bumi, sebelum bumi marah dan nyuruh kita nongkrongnya pindah ke planet lain.”

Jadi, kalau suatu hari Anda ke Wonosalam, jangan cuma cari durian atau kopi ekselsa. Sempatkan mampir ke Kedai Tanah Senja, tempat di mana kopi, senja, dan kepedulian pada bumi duduk semeja.***

 

Fio Atmaja, jurnalis Mojokerto yang sedang tugas liputan di Jombang berkontribusi atas artikel ini. | Editor: Supriyadi

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *