Edukasi lingkungan bukan lagi sebatas ceramah. ECOTON membuktikannya di SMAN 1 Driyorejo dengan mengajak siswa belajar lewat praktik nyata menguji kandungan mikroplastik pada produk perawatan tubuh dan air hujan. Hasil pengamatan mengejutkan siswa dan mendorong mereka mulai mempertanyakan kebiasaan sehari-hari.
#Percobaan yang Mengubah Cara Pandang Siswa Soal Mikroplastik

KEGIATAN sosialisasi mikroplastik yang diselenggarakan Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) di SMAN 1 Driyorejo, Gresik, Jawa Timur, Senin 24 November 2025, menghadirkan energi belajar yang tak biasa.
Selama dua jam, sejak pukul 10.00 hingga 12.00 WIB, kelas X-7 berubah menjadi ruang eksplorasi ilmiah—penuh keingintahuan, percobaan, dan percakapan kritis tentang lingkungan.
Puluhan siswa yang rata-rata tergabung dalam Jawa Timur Young Changemaker Academy 2025 (JAYCA 2025) terlihat sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan.
Sesi dimulai dengan pengantar interaktif mengenai isu mikroplastik. Alih-alih hanya menyampaikan konsep, fasilitator mengajak siswa menautkan persoalan mikroplastik dengan keseharian mereka, mulai dari sabun mandi, kosmetik, pakaian sintetis, hingga makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Sorotan utama muncul saat sesi uji mikroplastik menggunakan aplikasi Beat the Microbead. Seorang siswa meminjamkan lotion miliknya untuk diuji, dan layar ponsel langsung menunjukkan indikator kandungan mikroplastik.
Suasana kelas seketika riuh, kombinasi antara kaget, penasaran, dan saling melempar komentar. Temuan itu menjadi titik balik diskusi. Produk perawatan tubuh yang selama ini dianggap aman dan biasa tiba-tiba terasa begitu dekat dengan persoalan pencemaran plastik.
Kesadaran baru tercermin dari respons para siswa. “Saya kira ini hanya teori. Tapi setelah praktik, ternyata masalahnya dekat sekali. Baru tahu kalau produk yang saya pakai bisa mengandung mikroplastik,” ucap seorang siswa dengan nada terkejut.
Siswa lain menimpali, “Acaranya menarik, mudah dipahami, dan bikin saya lebih peduli sama lingkungan.”
#Belajar Meneliti: Dari Menyaring Sampel Hingga Mengamati Partikel Plastik

Setelah sesi uji produk, kegiatan berlanjut ke praktik penelitian mikroplastik pada sampel air hujan. Siswa membawa sampel masing-masing, kemudian memulai rangkaian pengujian, menyaring air hujan dengan mistic can, meneteskan aquades hasil saringan ke cawan petri, dan mengamati partikel dengan saksama.
Begitu masuk tahap observasi, ruangan menjadi penuh desis percakapan dan seruan kecil saat partikel mencurigakan mulai terlihat.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelBeberapa siswa mengidentifikasi serpihan mikroskopis berwarna kebiruan dan kemerahan. diduga hasil degradasi plastik. Ada pula yang menemukan filamen tipis seperti benang, diduga berasal dari pakaian sintetis. Guru dan pemateri mengarahkan diskusi tanpa memotong rasa ingin tahu siswa, membuat kelas hidup sebagai “laboratorium pembelajaran” yang membebaskan rasa penasaran.
Praktik ini menunjukkan bahwa edukasi lingkungan menjadi lebih bermakna ketika siswa dapat “melihat sendiri” persoalan yang sedang mereka pelajari.
Thara Bening, pemateri dari ECOTON, menegaskan bahwa pelibatan aktif siswa adalah kunci penting dalam proses pembelajaran lingkungan.
“Kami ingin membawa isu mikroplastik lebih dekat kepada siswa, karena merekalah yang akan menentukan masa depan lingkungan kita, “ kata Thara. Sosialisasi seperti ini bukan hanya menyampaikan materi, tapi memberi pengalaman langsung agar mereka paham dan peduli,” imbuhnya.
#Dukungan Sekolah dan Harapan Perubahan Kebiasaan Sehari-hari
Kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari agenda rutin ECOTON untuk memperluas jangkauan edukasi publik melalui sekolah. SMAN 1 Driyorejo mendukung penuh program ini, melihat pentingnya pendidikan lingkungan yang aplikatif dan relevan.
Respons positif para siswa memperlihatkan bahwa pendekatan belajar berbasis praktik langsung jauh lebih efektif dibanding sekadar ceramah satu arah. Banyak siswa mengaku baru mengetahui bahwa produk yang mereka gunakan setiap hari dan air hujan di sekitar rumah dapat mengandung mikroplastik. Kesadaran baru ini mendorong mereka mulai mempertanyakan pilihan pribadi dan kebiasaan konsumsi.
Thara pun berharap momentum ini tidak berhenti di satu sesi sosialisasi saja, tetapi menjadi pemicu sekolah untuk mengembangkan program lingkungan berkelanjutan. “Misalnya kampanye produk ramah lingkungan, kurikulum proyek penelitian air hujan, hingga bank data pemantauan mikroplastik berbasis sekolah, “ saran Thara.
Sosialisasi di SMAN 1 Driyorejo bukan hanya tentang statistik dan bahaya mikroplastik, tetapi tentang pengalaman belajar yang menyentuh kesadaran. Sebab di balik percobaan sederhana, kata Thara, tersimpan pesan besar.
“Perubahan perilaku bisa dimulai dari pengetahuan yang dekat dengan kehidupan pelakunya. Jika setiap sekolah memberi ruang pembelajaran seperti ini, generasi muda bukan hanya memahami masalah lingkungan, tetapi juga tumbuh sebagai bagian dari solusinya, “ jelasnya mengakhiri.***