SEJAK akhir 1960-an, para peneliti laut menyaksikan serpihan plastik kecil bertebaran: dari sampah kapal hingga potongan mikro yang menempel di plankton. Tapi baru tahun 2004, Richard C. Thompson resmi memperkenalkan istilah mikroplastik — mulai detik itu riset global pun berubah.
Tahun 2008, sebuah lokakarya internasional menetapkan, plastik partikel berukuran < 5 mm sekarang disebut mikroplastik, ukuran yang memungkinkan masuk ke dalam tubuh organisme laut. Definisi itu membuka bab baru untuk pemahaman pencemaran halus yang meluas.
#Mulai dari serpihan besar, hingga butiran yang terlewat
Isu pencemaran plastik laut bukan perkara baru. Sejak akhir 1960-an, ilmuwan memperingatkan penumpukan sampah plastik besar di lautan, kantong, botol, jaring yang rusak. Namun, dalam dekade 1970-an mulai muncul laporan, potongan-potongan plastik kecil ditemukan dalam sampel plankton. Ini menjadi tanda bahwa fragmentasi plastik besar ke kecil bukanlah hal masa depan, melainkan sudah berjalan.
Ketika Thompson dan timnya di University of Plymouth melakukan pemantauan sedimen dan plankton, mereka menemukan bahwa fragmen plastik mikroskopis telah meningkat sejak 1960an dan 70an. Colecting‐museum specimens kemudian menunjukkan bahwa bahkan kasus-kain serangga (caddisfly) dari tahun 1971 dan 1986 mengandung partikel plastik mikroskopis — mengindikasikan bahwa “mikroplastik” sudah ada jauh sebelum istilahnya lahir. (Catatan: meskipun spesifik tahun tersebut tidak selalu disebut dalam tiap publikasi yang diakses, tren historis ini mendapat dukungan riset.)

#Istilah “mikroplastik” lahir dan riset melesat
Pada 7 Mei 2004, Richard C. Thompson mempublikasikan makalah berjudul “Lost at Sea: Where Is All the Plastic?” yang kemudian dikenal sebagai tonggak awal penggunaan istilah mikroplastik. Dalam makalah itu ia bersama timnya menunjukkan bahwa potongan plastik kecil (kurang dari 5 mm) tersebar di lingkungan laut dan telah dikonsumsi oleh organisme laut.
Penciptaan istilah ini bukan hanya soal kata bagus — melainkan perubahan paradigma: plastik bukan hanya botol atau kantong besar yang bisa dilihat, tetapi juga fragmen kecil yang tersebar secara luas dan jauh lebih sulit dikendalikan. Thompson dalam wawancara menyebut bahwa sejak makalah itu, minat ilmiah dan publik melonjak secara dramatis: “Kami melihat bahwa serpihan itu ada dari Kutub utara hingga palung dalam. ”

#Definisi < 5 mm dan kenapa ukuran itu penting
Setelah istilah mikroplastik diperkenalkan, muncul kebutuhan definisi yang baku agar riset berbeda bisa saling dibandingkan. Pada 2008, sebuah lokakarya internasional yang difasilitasi oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menetapkan bahwa mikroplastik adalah partikel plastik yang berukuran kurang dari 5 milimeter. NOAA sendiri menyebut bahwa partikel plastik yang panjangnya kurang dari lima milimeter — sekitar ukuran penghapus pensil — disebut mikroplastik.
Kenapa ukuran 5 mm penting? Karena partikel lebih kecil dari itu memiliki potensi yang lebih besar:
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
- Mudah dikonsumsi oleh organisme laut (plankton, ikan kecil) karena ukurannya mendekati ukuran makanan alami mereka.
- Sulit dideteksi dan dihapus dari lingkungan dibanding plastik besar.
- Memiliki kemampuan untuk berpindah melalui rantai makanan, dan membawa polutan (logam berat, aditif plastik) yang menempel padanya.
Dengan definisi ini muncul pula perkembangan metode sampling, protokol laboratorium, dan basis data global tentang mikroplastik.
#Dampak, tantangan, dan seberapa jauh kita melangkah
Kini riset menunjukkan bahwa mikroplastik telah ditemukan hampir di semua habitat: di laut terbuka, sedimen pantai, es kutub, sungai, air minum bahkan udara. Partikel kecil ini punya efek ganda: selain secara fisik dikonsumsi oleh organisme laut, mikroplastik juga berfungsi sebagai pembawa bahan kimia berbahaya seperti aditif plastik dan logam berat — yang berpotensi mengganggu sistem biologis.
Namun tantangannya tetap besar:
- Metode pengumpulan dan identifikasi partikel sangat kecil (mikro hingga nano) masih belum sepenuhnya terstandarisasi.
- Plastik besar yang sudah ada di lingkungan terus terfragmentasi menjadi mikroplastik — artinya, meskipun produksi plastik baru bisa dikurangi, plastik legacy belum selesai masalahnya.
- Kebijakan dan regulasi masih tertinggal dibanding kecepatan penyebaran dan akumulasi mikroplastik. Thompson menyebut bahwa setelah 20 tahun riset, “kita punya cukup bukti untuk aksi global.”
Jalan ke depan? Diperlukan kolaborasi antar riset, industri dan kebijakan publik:
- Mengurangi plastik sekali pakai dan merancang plastik yang mudah terkelola atau tak menghasilkan fragmen mikro.
- Meningkatkan sistem pengelolaan limbah agar fragmentasi plastik besar ke mikroplastik bisa ditekan.
- Memperkuat standar monitoring dan membangun basis data global untuk melacak mikroplastik secara sistematis.
Seperti yang dikatakan Thompson: bukan hanya riset lagi — “ini waktunya untuk bertindak.”***