Lewati ke konten

Make Mangrove Green Again di Pesisir Surabaya

| 6 menit baca |Mikroplastik | 29 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Aksi bersih mangrove di pesisir Surabaya mempertemukan mahasiswa lintas kampus dan seorang vlogger Korea, menyatukan kepedulian lintas negara demi menghidupkan kembali ekosistem pesisir.

Pesisir Surabaya belum sepenuhnya ramai. Angin laut berhembus pelan, menyapu deretan mangrove yang tumbuh rapat di garis pantai pada Sabtu, 24 Januari 2026. Namun di balik hijau yang seharusnya menenangkan, terselip pemandangan yang mengusik: plastik-plastik kusam, tali tampar, kemasan sekali pakai, dan potongan limbah rumah tangga yang tersangkut di akar-akar mangrove.

Betapa erat jeratan sampah plastik di mangrove. Alaika Rahmatullah, Kepala Divisi Edukasi dan Kampanye Ecoton, mengerahkan tenaga untuk menarik dan mengurai plastik yang membelit akar mangrove | Foto: Supriyadi

Di lokasi inilah kegiatan bertemakan “Make Our Mangrove Green Again” digelar. Sejumlah mahasiswa yang tengah mengikuti program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton) turun langsung membersihkan kawasan mangrove dari sampah.

Mereka datang dari latar belakang keilmuan berbeda, namun dipertemukan kegelisahan yang sama, tentang rusaknya ekosistem pesisir akibat ulah manusia yang berlangsung pelan, berulang, dan kerap dinormalisasi. Di hadapan mangrove yang terjerat sampah, kegelisahan itu menemukan wujud nyatanya.

Kegiatan ini bukan sekadar aksi bersih-bersih.  Tapi upaya yang menjelma menjadi ruang refleksi tentang relasi manusia dengan alam. Tentu saja tentang hak atas lingkungan yang bersih, tanggung jawab yang semestinya dipikul bersama, serta pilihan-pilihan kecil sehari-hari yang kerap dianggap sepele, namun berdampak panjang bagi keberlanjutan pesisir.

#Menagih Hak yang Perlahan Hilang

Di sela kegiatan, Aeshnina Azzahara Aqilani, Co-Captain River Warrior, berdiri di antara mangrove sambil memandangi sampah yang baru saja dikumpulkan. Baginya, aksi ini mungkin sederhana, namun maknanya jauh lebih dalam.

“Setidaknya kita mencoba,” ujarnya. “Sebagai manusia, kita punya hak untuk menikmati alam yang bersih. Kita berhak melihat pemandangan tanpa sampah plastik, berhak piknik tanpa rasa khawatir.”

Namun hak itu, menurut Nina, kini semakin sulit dipenuhi. Terlalu banyak faktor yang membuat lingkungan kian tercemar, dan ironisnya, manusia juga menjadi bagian dari masalah tersebut. “Kita bisa lihat sendiri, hak itu tidak bisa kita penuhi karena perbuatan kita juga,” katanya.

Dari kegiatan ini, ia berharap ada sesuatu yang benar-benar dibawa pulang oleh para peserta, bukan hanya pengalaman, tetapi perubahan cara berpikir.

“Kita bisa lebih bijak menggunakan plastik, lebih berpikir jauh sebelum memakai dan membuangnya,” ucapnya.

Narasi tentang hak atas lingkungan yang bersih bukan sekadar jargon. Di hadapan mangrove yang terjerat sampah, hak itu terasa nyata sekaligus rapuh.

Aeshnina Azzahra Bebas, Co-Captain River Warrior, mengurai sampah plastik yang menjerat akar mangrove saat aksi Make Our Mangrove Green Again di pesisir Surabaya | Foto: Supriyadi

#Mangrove, Benteng Alam yang Terlilit Sampah

Mangrove bukan sekadar deretan pohon di pesisir. Ekosistem ini merupakan benteng alami yang melindungi daratan dari abrasi, menahan gelombang, sekaligus rumah bagi beragam biota.

Namun fungsi vital itu terancam ketika sampah plastik dan tali-tali sintetis melilit akarnya. Hal ini sangat dirasakan Fatimah, mahasiswa Biologi UIN Sunan Ampel Surabaya, menyebut kondisi mangrove di lokasi kegiatan cukup memprihatinkan.

“Cukup banyak sampahnya,” katanya. “Padahal mangrove punya fungsi yang hebat, menahan ombak, abrasi, dan banyak hal lain.”

Ia menunjuk akar-akar mangrove yang terbelit tali dan plastik. Menurutnya, lilitan sampah semacam ini bukan hanya merusak secara visual, tetapi juga bisa berakibat fatal. “Akar-akar yang kelilit bisa menyebabkan mangrove yang sudah kita jaga baik-baik ini mati,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan Fildza Sabrina Vansyachroni, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember. Ini pengalaman pertamanya terlibat langsung dalam aksi clean up mangrove. Ia mengaku terkejut melihat betapa sulitnya melepaskan sampah dari batang dan akar pohon.

“Sampahnya itu mengikat pohonnya sampai melilit-lilit. Dibukanya susah banget,” katanya. “Orang-orang buang sampah gampang banget, tapi kita yang bersihin susahnya luar biasa.”

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam. Bagi Fildza, mangrove bukan sekadar objek konservasi, melainkan penopang kehidupan manusia. “Ini semua buat kita. Nafas kita juga dari sini,” ujarnya lirih.

Vlogger asal Korea, Young, berjalan menyusuri kawasan pesisir Surabaya di antara tumbuhan mangrove saat kegiatan Make Our Mangrove Green Again | Foto: Supriyadi

#Dari Pesisir Surabaya, Harapan Itu Disemai

Aksi ini melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi: Program Studi Agribisnis Universitas Negeri Jember, Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang, serta Biologi UIN Sunan Ampel Surabaya. Perbedaan latar belakang keilmuan justru memperkaya cara pandang mereka dalam membaca persoalan lingkungan pesisir.

Dianira Chrisna Putri, mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang, menilai persoalan sampah tidak semata persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesadaran dan etika sosial.

“Kalau buang sampah jangan sembarangan,” katanya tegas. “Karena benar-benar malu. Kita nemuin barang yang seharusnya tidak dibuang di sini, tapi ada di sini.”

Baginya, pencemaran lingkungan adalah cermin dari sikap abai di ruang publik. Ketika sampah ditemukan di kawasan mangrove, itu mencerminkan kelalaian bersama yang selama ini dibiarkan berlangsung.

Langkah-langkah kecil menuju perubahan. Peserta Make Our Mangrove Green Again berjalan menyusuri pesisir Surabaya menuju lokasi kegiatan | Foto: Supriyadi

Di antara barisan mahasiswa, hadir sosok yang menarik perhatian, Young, seorang vlogger asal Korea. Dengan gawai di tangan, ia merekam aktivitas bersih-bersih sambil sesekali ikut memungut sampah. Kehadirannya menjadi penanda, kalau kepedulian terhadap lingkungan melampaui batas negara dan latar belakang budaya.

Young memperkenalkan komunitas yang ia gagas, Oh My Earth! We Are Only Visitors on This Earth, sebuah pesan reflektif yang menegaskan, manusia sejatinya hanyalah tamu di bumi, bukan pemiliknya.

Bagi Young, kesadaran sebagai “pengunjung” seharusnya melahirkan sikap hormat dan tanggung jawab dalam memperlakukan alam.

“Saya hanya berpikir, lain kali ketika saya kembali ke sini, mungkin akan semakin banyak orang datang ke sini,” ujarnya.

Ia berharap kehadiran manusia di kawasan pesisir tidak sebatas berkunjung, tetapi juga diiringi dengan aktivitas-aktivitas positif yang menumbuhkan kepedulian.

Meski dikenal sebagai vlogger, Young mengaku pengalaman membersihkan mangrove di Surabaya memberinya kesan mendalam. “Hari ini adalah pengalaman yang sangat istimewa bagi saya. Kita akan kembali bersama segera,” katanya sambil tersenyum.

Ia juga menjelaskan makna namanya dengan nada ringan namun reflektif. “Young artinya muda. Setiap hari, setiap waktu, tetap muda. Bukan tua.” Kata “muda” baginya menjadi simbol semangat lintas generasi dan lintas negara dalam menjaga bumi.

Di akhir kegiatan, tumpukan sampah yang berhasil dikumpulkan memang tidak serta-merta menghapus persoalan besar pencemaran pesisir. Namun di antara lumpur, akar mangrove, dan keringat para mahasiswa, tumbuh sesuatu yang lebih penting yaitu, kesadaran.

“Make Our Mangrove Green Again” bukan hanya ajakan untuk membersihkan pesisir, tetapi juga seruan untuk menata ulang hubungan manusia dengan alam.

Dari Surabaya, para mahasiswa ini mengirim pesan sederhana namun mendesak, menjaga mangrove berarti menjaga hak hidup yang lebih layak, hari ini dan di masa depan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *