Lewati ke konten

Mozaik di Kali Tebu: Langkah Kecil Menuju SDG’s Surabaya

| 5 menit baca |Eksploratif | 21 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Catatan tentang Kali Tebu di Surabaya utara, sungai yang memudar kejernihannya, diapit harapan transportasi air dan kerja sunyi para pegiat lingkungan.

 Tulisan 1

Udara di Surabaya utara terasa berat aku rasakan. Bukan karena panas yang menggantung, melainkan juga aroma yang menyeruak dari badan air yang mengalir pelan di hadapanku, pada pagi itu, Kamis, 16 April 2026.

Kali Tebu, namanya di hadapanku itu. Sebutan pertama kali aku dengar dari Amiruddin Muttaqin, Person In Charge (PIC) Mission On Zero Plastic Leakage (Mozaik). Sebuah project yang digagas kawan-kawan Ecological Conservatioan and Wetlands Observation (Ecoton),  yang bekerjasama dengan United Nations Development Programme (UNDP).

Amir, begitu ia biasa disapa, sejak Februari 2026 memulai menapaki Kali Tebu: memetakan, mengamati, juga mendengar cerita-cerita warga. Dari tepian ke tepian, ia mengumpulkan cerita yang tak selalu mudah ditemukan.

Dalam setiap menceritakan, ia mengucapkan dengan nada datar, seperti menyimpan banyak cerita yang belum selesai diucapkan. “Sebagian warga masih mengingat air yang jernih saat itu,” katanya suatu siang. “Sebagian lain hanya mengenal kondisi sekarang—air keruh, bau, dan sulit didekati.”

Di antara dua ingatan itu, Kali Tebu mengalir seperti ruang yang menampung waktu. Ada masa lalu yang terus diceritakan ulang, dan ada kenyataan hari ini yang tak bisa dihindari. Mengamati aliran sungai itu, memang tak lagi memantulkan langit dengan jernih. Hanya yang aku dapati bau sungai yang terus menyerang penciumanku.

“Sungai itu selalu punya cerita panjang,” kata Amir selanjutnya. “Kalau kita mau memahami kondisinya sekarang, harus melihat perjalanan itu secara utuh.”

Amir pun menjelaskan, hulu Kali Tebu berada di Kapasmadya Baru dan Simokerto. Alirannya bergerak ke Sidotopo Wetan, Tanah Kali Kedinding, lalu menuju hilir di Bulak Banteng hingga Tambak Wedi.

“Kalau panjang sungai ini, sekitar 5 kilometer, dengan lebar antara 20 sampai 25 meter, “ sebut Amir.

Angka-angka itu kemudian menjadi catatanku. Lalu kutulis pelan, satu per satu. Memang terdengar teknis. Namun pada kenyataannya, maknanya terasa jauh lebih dalam: ini sungai yang hidup berdampingan dengan ribuan orang, kepadatan penduduk, menanggung tekanan yang terus bertambah dari waktu ke waktu.

Warga memancing di tepian Kali Tebu di tengah kondisi air yang dipenuhi busa dan limbah, mencerminkan kedekatan sekaligus kerentanan lingkungan sungai terhadap aktivitas manusia. | Foto: Supriyadi

#Di Antara Rencana dan Kenyataan

Barangkali kita masih belum ditenggelamkan lupa. Tentang pemerintah Kota Surabaya yang pernah merancang masa depan sungai-sungai di kota itu. Ada empat aliran besar, kalau tak keliru aku sebut yang dipetakan sebagai jalur transportasi air: Kalimas, Jagir, Branjangan, dan Greges.

Hal itu, tentu saja membawa degup gembira, berimajinasi betapa indahnya Kota Surabaya. Ketika sungai sudah mulai dipandang sebagai ruang yang bisa kembali dihidupkan, untuk mobilitas, wisata, hingga distribusi barang.

Siapapun pasti akan mengatakan, gagasan ini  menarik dan terdengar menjanjikan. Jalan raya yang kian padat membutuhkan alternatif. Sungai, yang selama ini terpinggirkan, diberi kesempatan untuk kembali menjadi urat nadi Kota Surabaya.

Kalimas menjadi prioritas. Panjangnya sekitar 14 kilometer, lebar rata-rata 35 meter. Jalur wisata sudah berjalan, tinggal diperluas.

Jagir menyusul, dengan lintasan yang menghubungkan kawasan pintu air hingga mangrove Wonorejo. Dua sungai lain diarahkan untuk logistik, menghubungkan kawasan industri dan pelabuhan.

Dalam catatan cukup bagus aku rasa gagasan itu. Tahap demi tahap disusun: masterplan, lokasi dermaga, studi kelayakan, hingga regulasi. Semua menunggu waktu untuk diwujudkan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Tetapi di tepi Kali Tebu, bayangan itu terasa jauh. Air yang sudah menghitam, bau yang menusuk, dan busa yang kadang muncul di permukaan menghadirkan pertanyaan yang sulit terhindarkan: bagaimana mungkin sungai menjadi jalur transportasi ketika kualitas dasarnya belum pulih?

Tim Mozaik sedang mengukur lebar Kali Tebu, Surabaya, sebagai bagian dari pemetaan lokasi pemasangan alat penangkap sampah untuk mengurangi pencemaran sungai. | Foto: Supriyadi

#Kali Tebu dan Waktu yang Menumpuk

Kali Tebu hari ini merupakan hasil dari akumulasi panjang. Tidak ada satu peristiwa tunggal yang mengubah wajah sungai itu. Yang terjadi, perubahan itu datang perlahan, mengikuti pertumbuhan kota, kepadatan kawasan, serta cara manusia memperlakukan air yang mengalir di samping rumah.

“Ada masa ketika airnya masih jernih,” tutur Yulis Arwoko, Ketua RW 13 Simokerto, dalam percakapan yang diceritakan kembali oleh Muhammad Isomudin, Project Officer Mozaik. “Orang masih bisa melihat dasar sungai.”

Ungkapan itu tentu membuka ingatan kolektif warga yang tinggal di sekitar Kali Tebu. Cerita tentang anak-anak bermain di tepian sungai, air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, hingga relasi yang dekat antara manusia dan sungai kembali mengemuka.

Kini, relasi itu berubah. Sungai menjadi ruang yang dijauhi. Air tidak lagi mengundang, melainkan menghadirkan tanda bahaya yang perlu segera diatasi.

Amiruddin Muttaqin menyebut rencana pemasangan trash boom—alat penjaring sampah—sebagai langkah awal. Ukuran sungai telah dihitung, titik pemasangan mulai dipetakan. Upaya kecil diharapkan memberi dampak nyata.

“Kami mulai dari yang bisa dilakukan. Mengurangi sampah yang masuk menjadi langkah awal yang penting,” ujarnya.

Di sekeliling bantaran, aktivitas warga tetap berlangsung. Sebagian berbincang, lainnya melintas tanpa menoleh ke arah sungai. Kehidupan berjalan berdampingan dengan kondisi yang ada, seolah menjadi bagian dari keseharian yang sulit diubah.

Kali Tebu mengalir pelan, membawa segala yang masuk ke dalamnya. Sungai tidak memilih dan tidak menolak. Aliran itu menerima, lalu mengalirkan.

Pada titik  itulah, sungai menjadi cermin. Aliran itu memantulkan cara kota memperlakukan ruang hidupnya. Rencana besar seperti pengembangan transportasi air memberi harapan, sementara kerja-kerja kecil di lapangan menjadi pijakan. Di antara keduanya terdapat jarak yang menuntut kesungguhan.

Langkah meninggalkan tepian Kali Tebu menyisakan perasaan campur aduk. Kegelisahan terasa nyata, harapan tetap menyala.

Program Mozaik dikaitkan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada pengelolaan air bersih, pengurangan sampah, dan pembangunan kota berkelanjutan.

Kondisi Kali Tebu menjadi pengingat bahwa pertumbuhan kota tidak selalu sejalan dengan kualitas lingkungan. Kepadatan penduduk, aktivitas ekonomi, serta pola konsumsi memberi tekanan besar terhadap ekosistem sungai.

Perubahan membutuhkan waktu. Proses pemulihan menuntut konsistensi kebijakan, partisipasi masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor. Sungai yang bersih lahir dari perilaku kolektif yang terjaga.

Kali Tebu tetap mengalir di tengah kota yang hidup. Pertanyaan yang tersisa menyangkut cara manusia memperlakukan lingkungan tempat tinggalnya.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *