Lewati ke konten

Kompos Hybrid Ecoton, Cara Praktis Olah Sampah Organik

| 3 menit baca |Advertisement | 17 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Ecoton mengenalkan kompos hybrid dari tong bekas sebagai solusi sederhana pengolahan sampah rumah tangga, meminimalkan bau, sekaligus mendorong pemilahan sejak dari dapur.

Pengelolaan sampah rumah tangga kerap berhenti sebagai wacana. Bau, lalat, dan anggapan ribet membuat upaya mengolah sampah organik sering berakhir di tempat pembuangan akhir.

Menjawab persoalan itu, Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) memperkenalkan metode kompos hybrid, sebuah cara praktis dan sederhana yang bisa dilakukan dari rumah.

Metode ini memanfaatkan dua wadah dari tong bekas. Tong pertama berkapasitas sekitar 25 kilogram digunakan sebagai wadah utama kompos, tempat sampah organik rumah tangga seperti sisa makanan, sayuran, dan daun dikumpulkan. Sementara tong kedua berupa kaleng berukuran 5 kilogram diisi dengan tanah kering atau awur-awur, yang berfungsi sebagai penetral bau.

Cara kerjanya sederhana. Setiap sampah organik yang dimasukkan ke tong utama akan ditutup dengan lapisan tipis tanah kering. Ketika proses pembusukan memunculkan aroma tak sedap, tanah kering dari kaleng kecil diwur-awurkan ke dalam tong kompos hingga bau berkurang.

Tanah berfungsi menyerap kelembapan berlebih dan membantu proses dekomposisi berjalan lebih stabil.

Metode ini disebut “hybrid” karena menggabungkan prinsip kompos basah dan kering. Tidak memerlukan aktivator kimia, tidak bergantung pada alat mahal, dan bisa diterapkan di ruang terbatas, termasuk di lingkungan perkotaan.

Dengan pendekatan ini, kompos tak lagi menjadi aktivitas yang rumit, melainkan rutinitas ringan yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari.

Lebih dari sekadar mengolah sampah, kompos hybrid juga menjadi alat edukasi yang efektif. Rumah tangga secara tidak langsung diajak memahami siklus sampah yang mereka hasilkan, dari dapur hingga tanah.

#Pemilahan Sampah Dimulai dari Dapur

Divisi Media dan Komunikasi Ecoton, Amalia Febrianty, menjelaskan, kompos hybrid bukan hanya soal mengurangi bau atau menghasilkan pupuk, melainkan membangun kebiasaan baru dalam memilah sampah.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Cara seperti ini bisa dibilan cara yang paling tepat dan paling realistis diterapkan di rumah. Sekaligus sangat tepat digunakan sebagai sarana pemilahan sampah,” ujar Amalia, Kamis, (5/1/2026).

Menurutnya, dua wadah yang digunakan dalam kompos hybrid secara otomatis melatih keluarga membedakan sampah organik dan anorganik. Sampah organik masuk ke tong kompos, sedangkan sampah anorganik seperti plastik, logam, dan kaca bisa dipilah terpisah untuk didaur ulang.

“Adapun sampah residu yang tidak dapat diolah atau dimanfaatkan kembali dapat langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA),” jelas Amalia.

Pemilahan sejak dari rumah menjadi kunci penting dalam mengurangi beban tempat pembuangan akhir. Selama ini, sebagian besar sampah rumah tangga tercampur, menyulitkan proses pengolahan lanjutan dan mempercepat penumpukan di TPA.

“Dengan kompos hybrid, volume sampah yang dibuang ke TPA dapat ditekan secara signifikan,” urainya.

Amalia menekankan, pendekatan sederhana justru menjadi kekuatan metode ini. Tidak ada tuntutan kesempurnaan, tidak ada target rumit. Yang dibutuhkan hanyalah konsistensi dan kesediaan untuk mencoba. “Kalau masyarakat bisa mengolah sampah organiknya sendiri, maka masalah sampah kota sebenarnya sudah berkurang banyak,” katanya.

Ecoton berharap kompos hybrid dapat direplikasi secara luas, tidak hanya oleh individu, tetapi juga oleh komunitas, sekolah, hingga kantor.

Dari tong bekas dan tanah kering, lahir sebuah praktik kecil yang memberi dampak besar, mengubah sampah menjadi sumber daya, dan mengembalikan tanggung jawab lingkungan ke tempat paling awal, yaitu rumah.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *