Lewati ke konten

Kresek Juara, Saset Jadi Runner-up: Liga Sampah Plastik di Sungai Selokambang Bondowoso

| 4 menit baca |Sorotan | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus

BONDOWOSO – Kalau ada Liga 1 versi sampah plastik, Bondowoso sudah punya hasil klasemennya. Puncak klasemen: tas kresek dengan raihan 51%. Di bawahnya, runner-up setia: saset kopi sekali seduh dengan 14%. Sisanya? Cemilan, mie instan, rokok mild, sampai plastik sabun cuci. Sungguh, daftar ini mirip belanjaan warung kelontong tapi versi nyemplung di sungai.

Itu semua terkuak dalam peringatan Hari Sungai Internasional di Sungai Selokambang, Bondowoso (28/9/2025). Komunitas Sarka Space barengan Ecoton, siswa pecinta alam SMA Bondowoso, Komunitas Mahasiswa Bondowoso, DLH, UPT SDA Wilayah Sampen Setail, plus DPRD Bondowoso, turun langsung aksi bersih-bersih. Hasilnya? 619,95 kg sampah plastik alias 33 sak penuh, dengan 6.997 lembar plastik yang sukses diaudit mereknya.

“Ini bukan sekadar kerja bakti ala bapak RT tiap Minggu pagi. Dari hasil audit, kita tahu siapa juara pencemar sungai,” kata Alaika Rahmatullah peneliti dari Ecoton.

Dan betul, para jawara sampah itu seakan ikut lomba 17-an: kresek jadi juara tarik tambang, saset kopi unggul di balap karung, sementara bungkus rokok dan mie instan cukup puas di lomba kelereng.

#Bondowoso, Kota Sejuta Mikroplastik

Bondowoso bukan cuma punya tape dan kawah Ijen. Sekarang ada “oleh-oleh baru”: mikroplastik di udara dan sungai.

Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, bilang kalau hasil uji mereka agak bikin merinding. Di Jalan HOS Cokroaminoto saja, udara mengandung 7 partikel mikroplastik dalam 2 jam. Sedangkan di Sungai Balekambang, ada 28 partikel per 10 liter air. Jenisnya macam-macam: filamen, fiber, fragmen.

Bayangin, lagi nongkrong di alun-alun sambil makan sate, bisa jadi paru-paru kita juga ikut “ngemil” fiber plastik.

Dan jangan kira plastik ini berhenti di sungai. Menurut Rafika, mikroplastik sudah ditemukan dalam ketuban ibu hamil sampai otak manusia. Jadi kalau orang Bondowoso makin gampang lupa, jangan buru-buru salahkan faktor umur. Bisa jadi ada fragmen plastik nongkrong di neuron.

#Solusi: Dari Surat Edaran Bupati sampai Aksi Kecil

Masalah sampah plastik di Bondowoso memang pelik. Tiap hari ada 60–65 ton sampah nyelonong ke TPA, sementara luas TPA cuma 1,5 hektar. Kepala DLH Bondowoso, Aries Agung Sungkowo, mengaku Pemkab sudah bikin Surat Edaran Bupati No.270/2025 yang mewajibkan warga mengelola sampah mandiri, turunan dari Perbup 44/2023 soal pengurangan plastik sekali pakai.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Bagus sih, tinggal nunggu warga mau patuh apa nggak. Soalnya kadang aturan kayak gini mirip janji diet: semangat di minggu pertama, balik makan gorengan di minggu kedua.

Makanya, Sarka Space mendorong “aksi kecil dampak besar” seperti memilah sampah dari rumah. “Kalau kita nggak mulai, ya siap-siap aja mandi mikroplastik tiap hari,” kata Tiara Sukmawardani, ketua panitia acara.

Dari DPRD, Sinung Sudrajat juga ikut nimbrung. Ia mengingatkan pepatah lama, “Salah satu tanda akhir zaman adalah kali ilang kedunge.” Bahasa gampangnya: sungai kita makin dangkal dan kotor. Kalau sungai sudah nggak bisa jadi sumber kehidupan, mungkin yang tersisa cuma jadi sumber konten reels Instagram.

#Empat Tuntutan Ala Sarka Space

Biar nggak sekadar kerja bakti lalu selesai, komunitas ini juga ngasih PR ke Pemkab Bondowoso:

  1. Perbaiki tata kelola sampah: perbanyak TPS3R, gencarkan sosialisasi pengurangan plastik sekali pakai.
  2. Produsen jangan cuma jualan, tapi ikut tanggung jawab. Bahasa kerennya: Extended Producer Responsibility (EPR).
  3. Bentuk satgas khusus yang libatkan pegiat lingkungan buat edukasi, monitoring, dan evaluasi.
  4. Tegakkan sanksi ke pelaku usaha yang masih ngeyel pakai plastik sekali pakai, sambil dorong alternatif zero waste.

Sederhana kok, yang diminta cuma keadilan. Kalau masyarakat diminta bawa tas kain, produsen juga jangan seenaknya produksi miliaran saset tiap bulan. Jangan sampai rakyat disuruh diet plastik, sementara pabrik tetap doyan ngeluarin bungkus sekali pakai.

Pada akhirnya, cerita Sungai Selokambang ini jadi semacam cermin: Bondowoso sedang menabung masa depan. Kalau tabungannya plastik, ya jangan heran kalau yang dipanen nanti adalah udara penuh fiber dan air penuh fragmen.

Jadi, mari kita pilih: mau terus minum kopi saset sambil nyampah di sungai, atau beralih ke kopi tubruk sambil menyelamatkan anak cucu dari “warisan mikroplastik”?***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *