Lewati ke konten

Mimpi Indah Bondowoso: Bayar Pajak Pakai Sampah, Dapat Bonus Sungai Bersih

| 3 menit baca |Sorotan | 7 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Amiruddin Muttaqin Editor: Supriyadi

 BONDOWOSO – Bondowoso baru saja bikin gebrakan. Setelah sehari sebelumnya rame-rame bersihin Sungai Selokambang dan menemukan fakta pahit: 51,4% sampahnya adalah kresek dan 14,6% sachet kopi, kini giliran komunitas Sarka Space, ECOTON, dan Pemkab Bondowoso duduk bareng di Wisma Wakil Bupati, Senin (29/9/2025). Pertemuan ini bukan sekadar ngopi, tapi serius mikirin cara biar sungai kita nggak terus-menerus jadi etalase gratis Indomaret.

#Dari Perbup ke Perang Kresek

Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Syafi’i, kayaknya paham betul kalau plastik sekali pakai itu musuh bersama. “Kita sudah keluarkan Surat Edaran turunan dari Perbup Nomor 44 Tahun 2023. Tinggal kita gandeng DLH dan pegiat lingkungan untuk sosialisasi pengurangan plastik,” katanya dengan nada serius.

Kalau pakai Bahasa warung kopi: Bondowoso ini udah punya aturan. Cuma, PR-nya adalah bikin aturan itu turun dari meja pejabat ke dapur ibu-ibu. Sebab, kalau masih ada budaya “sekali masak, sekali buang plastik”, sungai bakal tetap jadi keranjang sampah raksasa.

#OPD juga Bisa Nyampah

Menariknya, BPBD dan BPMD lewat Drs. Sigit Purnomo juga nggak mau kalah. “Kami ingin mendorong masing-masing OPD dipaksa untuk tertib dalam pengelolaan sampah,” katanya. Bayangin, kalau dinas aja masih males milah sampah, gimana mau nyuruh warga?

Sigit janji siap kasih fasilitas dan logistik buat bersih-bersih. Istilahnya, OPD bukan cuma bikin spanduk “Say No to Plastic”, tapi juga jadi panutan. Walaupun kita tahu, kadang OPD itu lebih rajin bikin rapat ketimbang ngelipet kardus bekas.

#Data Ngeri dari Sungai

Ketua Sarka Space, Ahmad Quraisy, datang bawa data. Dari brand audit kemarin, mayoritas sampah di Selokambang ya kresek sama sachet kopi. “Kalau dipilah sejak rumah, kita bisa cegah sampah ini nyemplung ke sungai,” ujarnya.

Sementara Rafika Aprilianti, peneliti dari ECOTON bikin suasana makin hening. Ia bilang, “Air sungai dan udara Bondowoso positif terkontaminasi mikroplastik. Partikel ini bisa masuk ke tubuh manusia lewat air, udara, dan makanan. Ukurannya kecil, bisa menembus organ vital, memicu gangguan hormon, peradangan, bahkan risiko kanker.”

Jleb. Jadi kayak iklan horror, minum kopi sachet, kreseknya ke sungai, plastiknya balik lagi ke badan kita dalam bentuk kanker.

#Dari Bayar Pajak Pakai Sampah ke Kampung Zero Waste

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Kepala DLH Bondowoso, Aries Agung, ngasih contoh manis. Katanya ada bank sampah perumahan Istana Bondowoso, di mana warganya bisa bayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) pakai sampah. “Harus ada sanksi juga supaya aturan jalan. APBDes sudah mewajibkan anggaran untuk pengelolaan sampah,” kata Agung.

Wakil Bupati menutup audiensi dengan kalimat yang cukup ngegas: “Saya berharap ini tidak berhenti sebagai diskusi, tapi juga dieksekusi. Kalau bisa sampai tingkat RT. Kita gaungkan kembali Bondowoso Berseri dan bebas sampah.”

#Catatan Kecil dari Warung Kopi

Kalau beneran jalan, kampung zero waste ini bisa jadi sejarah baru. Bayangin, desa-desa di Bondowoso bisa terkenal bukan karena tapenya aja, tapi juga karena jadi pionir bebas sampah.

Tapi ya gitu, kita semua tahu: aturan bisa diteken dalam sehari, tapi merubah kebiasaan buang sampah sembarangan butuh bertahun-tahun. Semoga saja Bondowoso nggak berhenti di jargon. Sebab sungai nggak butuh poster “cintai lingkungan”, sungai cuma butuh kita berhenti nyampah.

“Air sungai dan udara Bondowoso positif terkontaminasi mikroplastik… partikel ini bisa masuk ke tubuh manusia melalui air, udara, dan makanan,” – Rafika Aprilianti, ECOTON.

Kalau udah kayak gini, kita semua mestinya sadar: plastik sekali pakai itu musuh bersama, bukan sekadar masalah ibu rumah tangga yang lupa bawa tas belanja.***

 

*) Artikel ini turut berkontribusi Amiruddin Muttaqin, aktivis lingkungan di Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), lewat rilis resmi yang ia kirimkan. | Chief Editor: TitikTerang

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *