- Peringatan Hari Sungai Sedunia di Kali Tebu Surabaya bongkar bahaya mikroplastik. Dari pelajar hingga kader KSH syok temukan partikel plastik menempel di kulit!
- Mobil Mimo hadir di SMPN 58 Surabaya! Warga dan siswa kaget menyaksikan langsung mikroplastik tak kasatmata yang berisiko mengancam kesehatan serta lingkungan perkotaan.
- Sering bakar sampah atau buang limbah ke sungai? Awas, mikroplastik bisa terbang dan menempel di kulit! Simak kesaksian warga Surabaya dalam edukasi Mimo.
- Pelajar SMPN 31 Surabaya baru sadar plastik tak pernah benar-benar hilang. Intip bagaimana edukasi laboratorium keliling Mimo mendorong aksi nyata pemilahan sampah mandiri.
- Pengelolaan bank sampah di Surabaya masih terkendala limbah kotor. Lewat aksi #SungaiLestari di Kali Tebu, warga diajak bergerak memutus rantai polusi mikroplastik dari rumah.
KEGIATAN edukasi dan penelitian mikroplastik yang digelar dalam peringatan Hari Sungai Sedunia di halaman SMPN 58 Surabaya, Kawasan Kali Tebu, memantik perhatian para pengunjung. Tingginya ancaman cemaran mikroplastik di lingkungan perkotaan menjadi perhatian serius bagi masyarakat setempat.
Ancaman tersebut mengemuka dari kesaksian para pelajar SMP Negeri 31 Surabaya, saat hadir di lokasi acara. Hingga kader lingkungan RW di kawasan Simokerto dan Bulak Banteng, Surabaya.
Kesadaran akan bahaya mikroplastik kini mulai dihayati generasi muda. Alvaro Alamsyah Putra, siswa kelas 8 SMPN 31 Surabaya, mengaku terkejut saat mengetahui sifat asli sampah plastik yang tidak bisa terurai secara sempurna di alam.
“Aku kaget, kukira plastik kalau sudah terurai bisa hilang secara sempurna. Ternyata masih ada partikel kecil-kecil yang dinamakan mikroplastik,” ujar Alvaro saat mengikuti edukasi bersama rekan sekolahnya, Muhammad Aditya Ekal Wicaksono, pada Ahad (27/9/2026).
Pemahaman ini mendorong Alvaro mengubah perilaku harian, seperti rutin mencuci tangan serta menghindari kebiasaan yang berpotensi menyebarkan polusi mikroplastik. Ia juga mengajak masyarakat untuk memotong rantai pencemaran dari sumbernya.
“Aku berusaha menghindari aktivitas seperti membakar sampah plastik atau membuang sampah sembarangan,” tambahnya.

#Cemaran Menempel di Kulit
Ancaman serupa disaksikan langsung oleh Mistinah, Kader Surabaya Hebat (KSH) dari RW 13 Simokerto, saat mendatangi Mobil Laboratorium Mikroplastik (Mimo). Melalui pengamatan mikroskop, terdeteksi adanya partikel mikroplastik jenis fragmen dan fiber yang menempel di permukaan kulit tangannya.
“Mikroplastik ini terbawa angin dari aktivitas pembakaran sampah dan pembuangan limbah ke sungai, lalu menempel di kulit,” kata Mistinah.
Untuk menekan praktik pencemaran di lingkungannya, Mistinah menerapkan langkah tegas terhadap warga yang kedapatan membuang sampah sembarangan ke aliran sungai.
“Kalau menemukan warga membuang sampah ke sungai, langsung saya foto dan laporkan ke Ketua RW. Langkah ini efektif memberi efek jera dan membuat pelaku malu sehingga tidak mengulanginya lagi,” tegasnya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

#Tantangan Pemilahan di Bank Sampah
Di sisi hilir, pengelolaan sampah plastik masih menghadapi kendala teknis akibat rendahnya pemilahan dari rumah tangga. Yunia, pengurus Bank Sampah RW 02 Bulak Banteng, menyoroti banyaknya jenis plastik yang tidak bernilai jual serta kondisi sampah yang disetor warga.
“Sampah jenis mika makanan umumnya tidak diterima karena tidak ada nilainya, sementara styrofoam dihargai sangat murah karena bobotnya yang ringan,” jelas Yunia.
Selain masalah jenis bahan, kebiasaan warga menyetor sampah dalam kondisi kotor—seperti tercemar sisa makanan atau minyak—menurunkan nilai ekonomis sampah dan menyulitkan petugas pemilah.
“Perlu edukasi berkelanjutan agar masyarakat memilah dan membersihkan sampah plastik dari rumah. Jika sampah dalam keadaan bersih, nilainya lebih tinggi dan tidak menyusahkan tim di bank sampah,” ungkapnya.
#Edukasi Keliling Lewat Mobil Mimo
Edukasi interaktif ini dapat terlaksana berkat hadirnya Microplastic Mobile Laboratory (Mimo), mobil laboratorium mikroplastik keliling pertama di Indonesia. Mimo dihadirkan oleh organisasi lingkungan Ecoton melalui program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK).
Kawasan Kali Tebu—sungai sepanjang 4,95 kilometer tempat acara berlangsung—menjadi salah satu titik fokus dari gerakan #SungaiLestari. Program yang telah berlangsung sejak Juni 2026 ini didukung penuh oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), serta United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia.
Melalui edukasi lintas generasi yang menyasar lingkungan sekolah hingga kader pemukiman ini, diharapkan timbul perubahan perilaku masyarakat Surabaya dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghentikan pembakaran sampah liar, serta memperkuat pemilahan sampah mandiri dari rumah.***