Lewati ke konten

Njemburis Secara Kolektif di Kampus B Unair Surabaya: ECOTON Gelar Pameran yang Bikin Kita Berhenti Gunakan Plastik Sekali Pakai

| 6 menit baca |Ekologis | 25 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

KATA OARANG, cinta bisa buta. Tapi ternyata bukan cuma cinta, air hujan juga sekarang buta arah. Karena di setiap tetesnya, tersembunyi butiran mikroplastik mungil yang nekat masuk ke tubuh kita. Kecil, tapi efeknya bisa bikin otak nge-lag.

ECOTON dan BEM FISIP Unair tahu cara bikin orang sadar tanpa ceramah panjang, lewat Pameran Mikroplastik, Rabu, 12 November 2025 di Taman FISIP Kampus B Universitas Airlangga Suarabaya. Bukan pameran seni biasa, tapi pameran yang bikin kamu mikir ulang soal air, plastik, dan kebodohan kolektif.

#Mikroplastik: dari laut ke lambung, dari hujan ke otak

Coba bayangkan, kamu menengadah ke langit di hari hujan. Romantis, ya? Tapi tunggu dulu—di antara tetesan air itu, ada partikel plastik berukuran mikrometer yang nyelonong masuk ke sistem pernapasanmu. Kalau itu bukan tragedi modern, entah apa. Alam yang dulu memberi kehidupan, sekarang meneteskan residu peradaban.

Menurut Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON), mikroplastik kini sudah ditemukan di hampir semua sumber air, termasuk hujan. Plastik sekali pakai yang kamu buang minggu lalu mungkin sekarang sudah bereinkarnasi jadi partikel halus yang kamu hirup hari ini. Karma cepat sekali kerjanya.

“Kami menemukan mikroplastik bahkan di air hujan yang jatuh di daerah pegunungan, seperti di Malang kemarin, yang kami lakukan penelitian Artinya, partikel ini sudah menyebar ke atmosfer dan ikut dalam siklus air. Jadi bukan cuma laut yang tercemar, tapi juga langit,” ujar Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik ECOTON, lewat pesan tertulisnya, Selasa (11/11/2025).

Nah, lewat pameran ini, ECOTON ingin menegaskan bahwa isu plastik bukan cuma urusan daur ulang atau sedotan stainless. Ini persoalan tubuh manusia, tentang otak dan hormon, tentang bagaimana kebodohan struktural bisa tumbuh dari hal sepele seperti botol air minum. Karena kalau kita tetap cuek, mungkin nanti “kegoblokan” akan jadi penyakit endemik baru.

Di lokasi pameran (besok), pengunjung akan disambut instalasi visual yang absurd tapi menohok, air keran raksasa yang mengalirkan botol-botol kecil, patung manusia berbalut plastik, dan layar mikroskop yang memperlihatkan mikroplastik menari-nari di bawah lensa. Menyeramkan, tapi memesona. Macam film horor versi akademis, di mana monster utamanya bukan zombie, melainkan kebiasaan konsumtif manusia modern.

“Kami sengaja bikin visualnya ekstrem biar orang berhenti nganggep isu plastik itu lucu-lucuan. Kalau sudah lihat sendiri mikroplastik di air hujan yang kamu bawa, kamu bakal mikir dua kali sebelum beli air mineral botolan,” kata Moh Alaika Rahmatullah, atau akrab disapa Alex, tim kampanye ECOTON.

Alex menambahkan, pameran ini memang sengaja dibuat provokatif. Biar mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum sadar bahwa plastik bukan cuma sampah visual di jalan, tapi juga racun tak kasat mata yang mengendap di tubuh. “Masalahnya, kita nggak sadar. Kita minum, makan, dan mandi dengan plastik setiap hari, tapi masih santai. Nah, pameran ini tujuannya bikin orang nggak bisa santai lagi,” ujarnya.

Ecoton

#Bawalah Sampel Air Hujanmu, Jangan Bawa Ekspektasi

Konsep acaranya sederhana tapi jenius, pengunjung diminta membawa sampel air hujan dari rumah masing-masing. Di lokasi, tim ECOTON akan memeriksa kandungan mikroplastiknya. Jadi, kamu bisa tahu apakah air di atap rumahmu layak diminum, atau justru cocok dijadikan bahan penelitian zombie apocalypse.

Pameran ini bukan ajang selfie dengan backdrop botol plastik warna-warni. Ini ajakan untuk menatap kenyataan yang selama ini kita abaikan, bahwa plastik bukan cuma masalah laut atau sampah jalanan, tapi masalah biologis yang sudah menembus batas tubuh manusia. Biar tidak cuma teriak “save the earth” di caption Instagram, tapi juga tahu kenapa bumi teriak balik minta tolong.

“Biasanya orang baru percaya kalau lihat sendiri. Makanya kami minta pengunjung bawa air hujan dari rumah masing-masing. Begitu dilihat di mikroskop dan nemu serpihan plastiknya, ekspresinya langsung berubah dari ‘wah lucu’ jadi ‘anjir ini di paru-paruku juga?’”
kata Alex sambil tertawa getir.

ECOTON dan BEM FISIP Unair mengubah taman kampus jadi laboratorium terbuka. Mahasiswa yang biasanya sibuk revisi skripsi atau cari sinyal Zoom, kali ini diajak meneliti partikel yang ukurannya lebih kecil dari alasan mantan mereka menghilang. Dan hasilnya bikin kening berkerut, hampir semua sampel air hujan mengandung mikroplastik. Bukan di Jakarta saja, tapi juga di kawasan yang jauh dari industri.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Setiap tetes air hujan yang diuji memperlihatkan pola yang sama, potongan serat, fragmen, hingga film plastik dari kemasan yang terurai di udara. Dan dari situ, pesan moralnya makin jelas: mikroplastik bukan lagi soal sampah yang “nanti dibersihkan”, tapi tentang tubuh manusia yang pelan-pelan jadi tong sampah molekuler.

Beberapa riset, termasuk yang dikutip ECOTON, menyebutkan partikel mikroplastik dapat memengaruhi sistem hormon dan fungsi kognitif. Otak, yang seharusnya jadi pusat kendali paling canggih, kini ikut diserbu oleh residu industri. Jadi ketika ECOTON menulis slogan “mikroplastik meningkatkan kegoblokan”, itu bukan sekadar hiperbola untuk clickbait. Itu riset dengan nada sarkasme, karena kadang cuma humor yang bisa menembus kepala keras manusia modern.

Malang bukan cuma kota sejuk dan penuh kenangan, tapi juga tumpukan plastik yang makin nggak karuan. Setiap hujan turun, sampah dari kota ikut hanyut ke sungai—menyisakan mikroplastik di air, tanah, bahkan di tubuh kita. ECOTON menyerukan: Malang darurat plastik! Saatnya kurangi, tolak, dan lawan budaya plastik sekali pakai sebelum kota ini tenggelam dalam kenyamanan palsu. | Foto: Ecoton

#Njemburis, Tapi Bikin Melek

Slogan utama pameran ini bikin ngakak sekaligus mikir, “Mikroplastik Meningkatkan Kegoblokan & Menyebabkan Wajah Jadi Njemburis.” Kalimat ini khas gaya ECOTON—jenaka tapi nyelekit. Bahasa akamsi, anak kampung sini, yang sengaja dipakai agar pesan soal lingkungan tidak terasa seperti seminar formal, tapi kayak obrolan warung kopi yang tiba-tiba menyentuh hati nurani.

“Njemburis” dalam bahasa Jawa berarti kusam, kucel, atau jelek. Tapi di konteks pameran ini, maknanya jauh lebih dalam. “Njemburis itu simbol wajah kita yang kehilangan kesadaran ekologis,” ujar Prigi Arisandi, pendiri ECOTON.

“Wajah masyarakat yang memuja kenyamanan instan, tapi lupa bahwa plastik tidak pernah benar-benar hilang,” tandasnya.

Dengan cara itu, ECOTON mengubah ejekan jadi refleksi. Karena sebenarnya, kalau alam bisa bicara, mungkin ia juga mau bilang, manusia sekarang bukan cuma njemburis mukanya, tapi juga pikirannya, terlalu malas untuk berubah, terlalu nyaman hidup dalam polusi yang disamarkan wangi pewangi ruangan.

Di antara instalasi pameran, ada juga petugas memakai hazmat suit putih lengkap, berjalan di sekitar area pameran. “Bukan untuk drama pandemi,” jelas Prigi, sambil tersenyum miring.

“Tapi untuk menunjukkan bahwa plastik sudah jadi racun harian. Mereka memeriksa, mencatat, dan menjelaskan kepada pengunjung dengan sabar. Mirip dosen pembimbing yang baik, tapi kali ini yang dibedah bukan proposal, melainkan air hujan,” ucapnya.

Visual itu jadi adegan paling menarik di pameran, antara lucu dan menyeramkan. Beberapa pengunjung bahkan refleks menutup botol minumnya sambil bergumam, “jangan-jangan ini juga isinya plastik.” Dan di situlah keberhasilan ECOTON, membuat isu lingkungan yang biasanya membosankan jadi pengalaman yang menggugah sekaligus menggelitik.

Lewat pameran berdurasi delapan jam ini, ECOTON ingin membuktikan bahwa kampus tak boleh berhenti di teori. Bahwa menara gading ilmu pengetahuan seharusnya juga jadi menara perlawanan terhadap krisis lingkungan.

Karena kalau bukan mahasiswa yang bergerak, siapa lagi? Pemerintah? Ah, mereka masih sibuk potong pita di pabrik plastik sambil bilang, “kita dukung ekonomi hijau.” Ironis, kan?***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *