Lewati ke konten

Pelatihan Jurnalisme Kekinian RPS Bekali Mahasiswa Sikap Kritis Hadapi Derasnya Informasi Era AI

| 4 menit baca |Ide | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Hamim Anwar Editor: Marga Bagus
Terverifikasi Bukti

Derasnya arus informasi di era kecerdasan buatan membuat batas antara fakta dan manipulasi makin tipis. Di tengah situasi ini, RPS mengajak mahasiswa dari berbagai kampus di Tuban menghidupkan kembali sikap jurnalistik: skeptis, teliti, dan bertanggung jawab. Pelatihan ini membuka mata para peserta bahwa literasi media bukan lagi pilihan—melainkan kebutuhan.

#RPS Dorong Mahasiswa Jadi Garda Depan Literasi Media

Ronggolawe Press Solidarity (RPS) kembali hadir dengan semangat baru, membawa jurnalisme kekinian ke ruang-ruang kampus. Pelatihan digelar di Universitas Ronggolawe pada 27 November 2025 dan berlanjut di Institut Ilmu Kesehatan Nahdlatul Ulama (IIKNU) Tuban pada 1 Desember 2025.

Mahasiswa dari IIKNU, Unirow, dan STIE Muhammadiyah berkumpul untuk mempelajari jurnalisme yang relevan dengan perkembangan zama. Bukan sekadar menulis berita, tetapi memahami ekosistem informasi yang semakin kompleks.

RPS mengajak mahasiswa IIKNU, Unirow, dan STIE Muhammadiyah memahami jurnalisme yang lebih kritis dan bertanggung jawab, lewat pelatihan literasi media di kampus. | Foto: Hamim

Acara dibuka oleh Wakil Rektor 3 IIKNU, Tri Yunita Fitria Damayanti STR.Keb M.Kes, serta mendapat dukungan dari sejumlah perusahaan, mulai dari PT SBI hingga Pupuk Indonesia.

Besarnya dukungan ini menunjukkan bahwa literasi media kini menjadi kepentingan bersama, bukan lagi hanya ranah komunitas pers.

Ketua RPS, Khoirul Huda, menegaskan bahwa pelatihan tahun ini berbeda dari sebelumnya. Jika pada tahun-tahun lalu RPS lebih banyak menyasar siswa SMA, kini mahasiswa dipilih karena dinilai lebih siap menjadi penggerak informasi yang bertanggung jawab di tengah derasnya arus konten digital.

“Jurnalisme itu tidak hanya menyampaikan informasi. Ada fungsi hiburan, kontrol sosial, hingga pendidikan. Siapa tahu, dari pelatihan ini mahasiswa menemukan minatnya di dunia jurnalistik,” ujarnya.

#Bahaya Konten Palsu di Era Kecerdasan Buatan

Salah satu materi paling penting datang dari Edy Purnomo, narasumber yang membahas ancaman baru di dunia digital, konten palsu berbasis AI. Menurutnya, teknologi seperti deepfake, voice cloning, dan AI generated text membuat manipulasi informasi tampil halus, rapi, dan sangat meyakinkan.

“Konten bisa dibuat dalam hitungan menit dan viral lebih cepat daripada klarifikasi,” jelasnya. Dampaknya nyata, reputasi seseorang bisa hancur sebelum sempat memberikan pembelaan.

Edy memaparkan empat bentuk konten palsu yang kini sering muncul, deepfake video, meniru wajah atau suara orang tertentu, gambar rekayasa, menempatkan seseorang dalam situasi yang tidak pernah terjadi dan audio palsu, yang terdengar seperti suara tokoh asli, sertA teks manipulatif, mulai chat palsu hingga artikel bohong yang membangun narasi tertentu.

Bagi jurnalis muda maupun masyarakat umum, jebakan ini sangat berbahaya jika dijadikan dasar opini atau liputan tanpa verifikasi. “Aturannya sederhana, jika tidak bisa diverifikasi, jangan dipublikasikan,” tegasnya.

#Sikap Jurnalistik: Perisai Penting di Dunia Serba Viral

Edy menekankan bahwa mahasiswa perlu menjaga sikap jurnalistik sebagai benteng pertama menghadapi derasnya informasi. Sikap ini mencakup skeptisisme, kebiasaan memeriksa ulang sumber, dan kemampuan memilah emosi dari fakta.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Ketika menemukan konten yang terlalu dramatis, jangan langsung percaya. Tanyakan, apakah ini masuk akal? Apa bukti pendukungnya? Siapa yang pertama menyebarkan?” paparnya.

Sikap skeptis, menurutnya, bukan hanya bagian dari kerja jurnalistik, tetapi perlindungan profesional.

Verifikasi dapat dilakukan dengan alat sederhana, reverse image search, pemeriksaan metadata, hingga membandingkan informasi di media kredibel. Dalam banyak kasus, langkah-langkah kecil seperti ini bisa mencegah publik termakan manipulasi.

Dari ruang kuliah menuju ruang publik—mahasiswa Tuban dilatih RPS untuk menjadi penggerak literasi media dan penyebar informasi yang berintegritas. | Foto: Hamim

#Harapan Terbentuknya Pers Kampus yang Aktif dan Kritis

Khoirul Huda juga mendorong agar pascapelatihan, kampus-kampus peserta membentuk atau menghidupkan kembali lembaga pers mahasiswa. Ia menilai bahwa pers kampus dapat mengasah kemampuan menulis, menjadi ruang kreativitas, sekaligus menjadi jembatan komunikasi antara kampus dan masyarakat.

“Pers adalah pilar keempat demokrasi. Demokrasi tanpa kontrol tidak sehat,” tegasnya.

Ia juga menyebut bahwa mahasiswa dengan latar belakang berbeda bisa memperkaya ekosistem jurnalistik kampus. Mahasiswa kesehatan dapat menulis isu kesehatan dengan gaya populer, mahasiswa ekonomi dapat membahas isu finansial, dan mahasiswa pendidikan bisa mengangkat problem dunia belajar-mengajar. Semua latar belakang dapat berpadu memperluas perspektif publik.

Sementara itu, Wakil Rektor 3 IIKNU, Tri Yunita Fitria Damayanti STR.Keb Mkes, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya pelatihan tersebut. Ia menilai kegiatan ini “bak gayung bersambut” dengan rencana IIKNU yang memang ingin menggelar pelatihan jurnalistik internal.

Perwakilan perusahaan pendukung juga membuka ruang kolaborasi lanjutan, khususnya untuk program kesehatan dan pengabdian masyarakat. Bahkan, ada keinginan untuk mengadakan pelatihan lanjutan di level yang lebih advance.

Pelatihan ini resmi dibuka dengan penyerahan cinderamata kepada para pendukung. Namun lebih dari itu, kegiatan ini membuka jalan bagi mahasiswa untuk memahami bahwa menjadi jurnalis, atau sekadar berperilaku seperti jurnalis, adalah kompetensi yang semakin penting di era informasi tanpa batas.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *