Lewati ke konten

Pemuda Surabaya Menyerahkan Dasa Cita, Eri Cahyadi Menjawab dengan Janji Anggaran dan Timsus Super Cepat 2026

| 4 menit baca |Ide | 18 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

BULAN Bakti Karang Taruna 2025 mendadak terasa seperti sidang kabinet mini. Para pemuda Surabaya menyerahkan “Dasa Cita” yang isinya 10 tuntutan strategis berisi harapan, keresahan, dan sedikit nada ultimatum.

Uniknya, Wali Kota Eri Cahyadi bukannya tersinggung, malah langsung mengangguk, menyetujui, dan menyiapkan anggaran khusus.

Dengan gaya khasnya yang blak-blakan, Eri meminta para pemuda tidak “manja” dan siap bekerja dari bawah. Namun, ia juga menyiapkan tim khusus, anggaran Rp5 juta per RW, hingga kebijakan prioritas tenaga kerja lokal. Dalam tempo satu minggu, semua harus bergerak. Pemuda Surabaya pun merasa akhirnya didengar.

#Dasa Cita, Aspirasi Pemuda yang Lebih Mirip Rapot Tebalan

Bulan Bakti Karang Taruna (BBKT) 2025 di Surabaya rupanya tidak hanya berisi foto-foto seremonial dengan banner besar dan spanduk penuh logo sponsor. Acara puncaknya berubah menjadi ruang audiensi raksasa ketika Karang Taruna Surabaya menyerahkan sebuah dokumen bernama “Dasa Cita” kepada Wali Kota Eri Cahyadi.

Judulnya sederhana, isinya tidak. Sepuluh poin aspirasi itu lebih mirip ringkasan keresahan kolektif pemuda Surabaya dari tingkat RT hingga kecamatan, lengkap dengan tuntutan yang sudah dipoles rapi agar tidak terdengar seperti pengaduan online.

Yang menarik, bukan hanya substansinya yang kuat, tapi cara penyusunannya. Dasa Cita ini dikumpulkan mulai dari obrolan media sosial, diskusi offline, sampai kiriman tulisan tangan dari pemuda yang mungkin menulis sambil menahan marah karena pengangguran masih tinggi. Hasilnya: sebuah dokumen aspirasi yang—dalam kata-kata anak sekarang—“ngena banget.”

#Eri Cahyadi Tidak Hanya Menjawab, Tapi Ikut Menambah PR Pemuda

Alih-alih menganggap dokumen itu sebagai laporan tahunan yang bisa ditunda responsnya sampai tahun depan (seperti kebiasaan sebagian pejabat), Eri Cahyadi langsung menyambutnya dengan penuh semangat.

Ia bahkan bilang bahwa Dasa Cita selaras dengan rencana Pemkot 2026. Dalam bahasa sederhana, “Tenang, iki wes tak siapno.”

Salah satu poin paling seksi adalah rencana alokasi anggaran Rp5 juta per RW. Uangnya tidak dijatuhkan begitu saja seperti hujan lembut, tapi harus lewat proposal pemuda. “Biar jelas, biar ada pertanggungjawaban,” kata Eri. Ini adalah cara halus untuk mengatakan, “Duit ada, tapi jangan ngelunjak.”

Namun yang lebih menarik adalah respon filosofis Eri. Ia meminta para pemuda tidak mudah menyerah ketika pekerjaan yang datang tidak selaras dengan visi kerja AC dan meja rapi.

Menurutnya, masa depan tidak selalu datang lewat lift; kadang harus naik tangga, panas-panasan, sambil bawa kotak peralatan. “Orang berhasil itu memulai dari bawah,” ujarnya, seperti motivator yang sedang “on fire”.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Prioritas Tenaga Kerja Lokal, UMKM Surabaya Bukan Pemain Cadangan

Salah satu isi Dasa Cita yang paling banyak disorot adalah tuntutan agar investasi besar di Surabaya tidak hanya dihitung sebagai prestasi, tetapi juga berdampak pada masyarakat lokal.

Banyak hotel dan restoran berdiri megah, tapi tenaga kerjanya malah banyak yang berasal dari luar kota. Bagi pemuda Surabaya, ini seperti menonton pertandingan di stadion sendiri tapi disuruh duduk di tribun ekonomi.

Eri langsung menyambar isu ini. Ia meminta hotel untuk menggunakan jasa lokal, minimal untuk sleeper, sandal hotel, laundry, hingga suplai operasional. Ini bukan proteksionisme, tapi keadilan versi Surabaya, “Kalau panen, ojo mung tetanggane sing ngerasakno.”

UMKM Surabaya pun dianggap wajib dapat jatah, bukan cuma tepuk tangan. Langkah ini tentu membuat banyak pelaku usaha lokal mengangguk puas sambil berharap “nanti beneran jalan ya, Pak.”

#Timsus Karang Taruna: Bukan Avengers, Tapi Kerjanya Mirip

Untuk memastikan semua janji dan aspirasi tidak berubah menjadi wacana yang akan dikenang tapi tidak diingat, Eri menugaskan pembentukan Tim Khusus (Timsus) Karang Taruna. Mulai minggu depan, bukan bulan depan. Timsus harus bergerak bersama perangkat daerah memetakan kebutuhan industri, peluang kerja, dan kecocokan skill pemuda lokal.

Rasanya seperti pesan singkat, “Ayo kerjo bareng, tapi cepet.”

Ketua Karang Taruna Surabaya, Febryan Kiswanto, menyambutnya dengan sikap siap, mantap, dan mungkin sedikit deg-degan karena tenggat waktunya sangat Wali Kota sekali,  singkat dan to the point.

Tapi bagi pemuda Surabaya, ini era baru, era ketika aspirasi tidak hanya ditulis, tapi ditindaklanjuti.

Dalam 2026, Surabaya tampaknya tidak hanya menyiapkan proyek fisik, tapi juga proyek mental: memadukan semangat pemuda, kebijakan pemerintah, dan harapan agar investasi benar-benar membuat arek-arek Suroboyo tidak hanya menjadi penonton, tetapi pemain inti di kotanya sendiri.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *