Di balik tumpukan plastik yang setiap hari mereka pilah, para perempuan pemilah sampah di Gresik ternyata menyimpan 23 senyawa berbahaya dalam tubuh. Temuan riset Indonesia–Korea ini membuka tabir gelap soal paparan racun plastik yang selama ini tak terlihat, tetapi bekerja pelan dan mematikan bagi kesehatan mereka.
#Tubuh yang Jadi Penampung Racun, Bukan Sekadar Memilah Sampah

Indonesia sedang duduk di atas bom waktu bernama sampah plastik. Proporsinya mencapai 12–17% dari total sampah nasional, dan lebih dari 40% dibiarkan tanpa pengelolaan yang benar.
Akibatnya, plastik dibakar sembarangan, hanyut ke sungai, atau menumpuk seperti bukit kecil yang terus tumbuh. Tapi yang sering terlupa adalah mereka yang hidup paling dekat dengan ancaman itu: perempuan pemilah sampah.
Plastik bukan sekadar barang sekali pakai. Ia membawa lebih dari 16.000 bahan kimia, dengan setidaknya 4.200 tergolong berbahaya—mulai dari pengganggu hormon, pemicu kanker, hingga zat yang dapat mengusik perkembangan janin. Dan kini, sebuah penelitian terbaru mengonfirmasi bahwa racun-racun itu masuk ke tubuh manusia, terutama mereka yang setiap hari bergulat dengan sampah plastik.
WIOEH Korea Selatan, ECOTON, dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga melakukan biomonitoring pada 32 perempuan di Gresik, Jawa Timur. Dari darah dan urin mereka, 23 bahan kimia berbahaya muncul di seluruh peserta, dan kadarnya melesat jauh pada kelompok pekerja pemilah. “Ini tidak bisa dianggap sepele,” tegas Dr. Won Kim, peneliti utama.

#BPA, Ftalat, hingga Timbal: Racun yang Menggerogoti Masa Depan Perempuan
Hasil penelitian itu ibarat membuka kotak hitam. BPA dan ftalat – dua biang kerok yang sering disebut dalam isu kesehatan reproduksi – muncul dalam kadar tinggi pada para pemilah sampah. Senyawa ini dikenal lihai mengacaukan hormon, memengaruhi metabolisme, bahkan mengganggu kemampuan tubuh mengatur organ reproduksi.
Yang lebih mencemaskan adalah temuan timbal (Pb) pada seluruh peserta, dengan kadar lebih tinggi dibanding populasi umum di negara maju.
Timbal adalah musuh lama dalam dunia Kesehatan. Racun ini menurunkan kecerdasan, merusak perkembangan otak janin, dan mendorong tekanan darah tinggi. Jika paparan ini berulang setiap hari, dampaknya tidak berhenti pada satu generasi saja, unsur ini bisa menempel hingga cucu.
“Paparan seperti ini tidak boleh dinormalisasi. Ini menyangkut kesehatan perempuan dan masa depan keluarga mereka,” ujar Dr. Lestari Sudaryanti dari Fakultas Kedokteran UNAIR.
Debu mikroplastik yang terhirup, asap pembakaran liar, hingga kontak terus-menerus dengan plastik kotor membuat tubuh para pekerja seperti menjadi laboratorium tak sengaja yang mencatat jejak racun satu per satu.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

#Sistem Sampah yang Bocor, Negara yang Lambat, dan Pekerja yang Menanggung Akibat

Dari penelitian ini, satu pesan besar muncul, sistem pengelolaan sampah Indonesia sedang bocor di banyak titik, dan pekerja pemilah sampah adalah korban pertama. Ketika 60% sampah plastik tidak terkelola, ketika pembakaran liar dibiarkan, ketika fasilitas pemilahan minim, ketika masker dan APD masih dianggap barang mewah, maka yang terjadi adalah tubuh-tubuh pekerja informal menjadi benteng terakhir—benteng yang terus terkikis.
“Kalau urin para pekerja sudah penuh senyawa berbahaya, itu artinya ada masalah besar dalam tata kelola sampah kita,” tegas Dr. Daru Setyorini dari ECOTON.
Para pemilah sampah ini bekerja sambil menahan napas: bukan karena bau, tetapi karena risiko yang setiap hari mengejar. Mereka mengangkat, memilah, mengemas, dan menyentuh material yang seharusnya diproses dengan perlindungan ketat. Namun kenyataannya, mereka bekerja dengan tangan kosong.
Penelitian ini bukan hanya rangkaian angka. Ini potret paling telanjang dari bagaimana negara lambat mengurus sampah, dan betapa mahal harga yang dibayar mereka yang berada di akar persoalan.
Sudah saatnya pemerintah bergerak: memperkuat regulasi bahan kimia berbahaya, melindungi pekerja informal, menyediakan fasilitas pengelolaan sampah yang aman, dan menghentikan banjir plastik sekali pakai. Karena ketika racun sudah bersarang di tubuh perempuan pekerja, itu bukan lagi isu lingkungan. Itu isu kemanusiaan.***