Lewati ke konten

Pohon Pisang di Tengah Jalan, Tanda Kesabaran Warga Brudu Jombang Sudah di Ujung Tangkai

| 3 menit baca |Sorotan | 22 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

ADA BANYAK cara warga menyampaikan protes ke pemerintah. Ada yang kirim surat terbuka, ada yang bikin spanduk sindiran, dan ada pula yang memilih cara paling alami, menanam pohon pisang. Seperti yang dilakukan warga Dusun Kedungurip, Desa Brudu, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Sudah 12 tahun jalan penghubung antar-desa di sana rusak parah. Sudah ditimbun berkali-kali, tapi hasilnya nihil. Kalau hujan dua jam saja, air menggenang, lubang-lubang berubah jadi kubangan, dan anak-anak sekolah terpaksa berselancar dengan sepeda ontel mereka.

Akhirnya warga sepakat, “Kalau pemerintah belum mau tanam beton, ya kita tanam pisang aja dulu.” Maka sejak Rabu (22/10/2025), sekitar 30 pohon pisang berdiri gagah di tengah jalan sepanjang 600 meter itu. Sebuah aksi yang tidak hanya simbolik, tapi juga estetik, sekaligus sedikit tragikomik.

#Dari Urugan ke Urusan: Pemerintah Desa Minta Warga Sabar Lagi

Menurut Kepala Desa Brudu, Ahmad Efendi, jalan itu terakhir dibangun tahun 2013. Dua belas tahun lalu, ketika harga BBM masih Rp6.500, sinetron Tukang Bubur Naik Haji baru mulai tayang, dan belum ada yang tahu apa itu Omnibus Law.

Efendi mengaku bukan tidak mau memperbaiki, tapi jalan itu sering dilewati truk-truk bermuatan besar. Kalau hanya diaspal, bakal cepat rusak lagi. “Kami sudah ajukan ke Dana Desa, tapi bertahap. Rencananya baru bisa dibangun tahun 2027,” ujarnya, yang dikutip dikutip media lokal.

Tahun 2027, kawan. Artinya, kalau warga Dusun Kedungurip sabar, mungkin pohon pisang itu sudah berbuah dua kali sebelum beton menyentuh tanah.

#Antara Pisang dan Pajak: Warga Bayar, Jalan Tak Lancar

Yang bikin miris, warga Dusun Kedungurip sebenarnya bukan warga abai. Mereka justru termasuk bagian dari masyarakat paling taat pajak di Kabupaten Jombang. Berdasarkan data terakhir, penerimaan pajak daerah sudah mencapai Rp262,39 miliar, atau 91,63 persen dari target per 30 September 2025.

Bahkan Kecamatan Sumobito, tempat jalan rusak itu berada, masuk tujuh besar kecamatan tercepat dalam pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB-P2). Daftar kecamatan teladan ini diisi oleh Ngoro, Ploso, Kudu, Wonosalam, Plandaan, Tembelang, dan Sumobito.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Dalam acara Anugerah Pajak 2025 di Alun-Alun Jombang, Sabtu malam (25/10/2025), Bupati Jombang, Warsubi, membawa kabar manis soal capaian itu. “Alhamdulillah,” katanya, “ini bukti komitmen dan kesadaran masyarakat dalam mendukung pembangunan daerah.”

Kabar manis, memang. Tapi di Dusun Kedungurip, rasa manis itu seperti gula di atas pisang goreng, nikmat di mulut, getir di jalan. Bayangkan, warga rajin bayar pajak, tapi masih harus melintasi jalan yang lebih cocok disebut jalur off-road desa. Kadang yang tercepat bayar pajak justru paling lama menikmati hasilnya. Ironi yang bikin kepala geleng, tapi dompet tetap terbuka setiap jatuh tempo PBB.

#Pohon Pisang Sebagai Monumen Kesabaran

Kini, pohon-pohon pisang itu tumbuh di tengah jalan, jadi semacam “monumen protes” yang tak perlu orasi. Setiap pengguna jalan lewat, langsung paham: ini bukan kebun, tapi seruan.

Rumadi (63), warga yang ikut menanam, bilang warga tak akan mencabutnya sampai jalan benar-benar diperbaiki. “Kalau belum dicor, ya biar aja pisangnya di situ,” tegasnya.

Di tengah hiruk-pikuk politik, target PAD, dan jargon pembangunan berkelanjutan, Dusun Kedungurip mengingatkan satu hal sederhana: pembangunan bukan cuma angka, tapi rasa keadilan yang tumbuh dari tanah—kadang bersama pohon pisang.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *