Surabaya kembali menjadi ruang perlawanan gagasan ketika bedah buku #ResetIndonesia: Gagasan tentang Indonesia baru menghadirkan suara lintas generasi yang resah terhadap arah bangsa dan kerusakan sistemik negara.
Surabaya, kota yang lekat dengan sejarah perlawanan dan keberania, kembali menjadi saksi sebuah diskursus penting tentang arah masa depan bangsa, pada Sabtu, 27 Desember 2025. Di tengah hiruk-pikuk metropolitan, sebuah bedah buku berjudul #Reset Indonesia; Gagasan tentang Indonesia baru digelar, membawa kegelisahan kolektif tentang kondisi dan arah gerak republik hari ini.

Buku ini bukan sekadar catatan kritik biasa. Karya ini merupakan narasi lintas generasi yang ditulis oleh empat penulis dari rentang usia berbeda: Farid Gaban (Baby Boomer), Dandhy Dwi Laksono (Generasi X), Yusuf Priambodo (Milenial), dan Benaya Harobu (Generasi Z).
Perbedaan generasi itu justru menjadi kekuatan, menghadirkan perspektif yang saling mengisi dalam membaca kerusakan sistemik Indonesia.
Kehadiran #ResetIndonesia di Surabaya memiliki resonansi tersendiri. Sebelumnya, diskusi buku ini sempat mengalami pembubaran di Madiun, memantik kontroversi dan perdebatan publik.
Di Surabaya, meski panitia juga menghadapi kendala perizinan dan tantangan administratif, ruang diskusi tetap berhasil diwujudkan. Hal ini menegaskan bahwa gagasan untuk “me-reset” sistem yang dianggap rusak tidak mudah dibungkam oleh sekat-sekat birokrasi.
#Diskusi Lintas Generasi: Tanpa Benaya, Tetap Membara
Mulai Sore hingga malam, diskusi itu diisi oleh tiga dari empat penulis. Farid Gaban, Dandhy Laksono, dan Yusuf Priambodo hadir berbagi pandangan. Sementara Benaya Harobu, penulis termuda, berhalangan hadir karena harus kembali ke kediamannya untuk merayakan ibadah Natal.
Ketidakhadiran Benaya tidak mengurangi intensitas diskusi. Justru, tiga penulis yang hadir tampil sebagai representasi estafet pemikiran lintas generasi yang saling menguatkan.
Farid Gaban menyajikan pembacaan yang kaya data dan sejarah kebijakan publik. Dandhy membedah ketimpangan struktural sosial-ekonomi dengan ketajaman khas aktivisme dan dokumenter. Sementara Yusuf Priambodo menghadirkan sudut pandang milenial, membaca krisis sekaligus peluang perubahan.
Gagasan utama #ResetIndonesia sederhana namun radikal: berhenti sejenak, menengok kerusakan mesin negara, lalu berani menekan tombol reset demi mengembalikan Indonesia ke cita-cita proklamasi yang sejati.

#Momen “Menonjok”: Kritik Terbuka terhadap Koperasi Merah Putih
Puncak diskusi terjadi ketika seorang peserta melontarkan pertanyaan tajam mengenai fenomena Koperasi Merah Putih. Pertanyaan ini seolah membuka kotak pandora tentang bagaimana instrumen ekonomi kerakyatan kerap diselewengkan oleh kekuasaan.
Farid Gaban merespons tanpa basa-basi. “Koperasi Merah Putih itu menipu. Koperasi yang seharusnya lahir dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat justru dikelola oleh negara yang tidak paham apa itu koperasi.”
Pernyataan tersebut menghunjam langsung ke jantung persoalan. Menurut Farid, pemerintah memaksakan model ekonomi top-down dengan label “koperasi”, padahal secara prinsipil bertentangan dengan esensi koperasi itu sendiri.
#Mengembalikan Marwah Koperasi: Dari Bung Hatta hingga Eropa
Farid mengajak audiens menengok kembali sejarah. Ia menyebut Mohammad Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia, namun dengan jujur mengakui bahwa pemikiran Hatta juga lahir dari proses belajar.
“Bung Hatta juga tidak orisinal sepenuhnya. Beliau belajar dari praktik koperasi di Eropa.”
Hal ini, menurut Farid, menegaskan bahwa koperasi adalah gagasan universal berbasis solidaritas dan kerja sama, bukan proyek negara, apalagi instruksi birokrasi.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Ia menambahkan, jauh sebelum pemerintah mempopulerkan Koperasi Merah Putih, komunitasnya telah mempraktikkan ekonomi koperatif. Bahkan, ekspedisi jurnalistik dan produksi dokumenter mereka selama ini dibiayai melalui mekanisme koperasi.
#Koperasi Multimedia dan Borok Koperasi Merah Putih
Salah satu praktik yang dibagikan adalah Koperasi Multimedia. Di Indonesia, koperasi kerap dipersempit maknanya sebagai lembaga simpan pinjam. Farid dan rekan-rekannya justru mendobrak batasan itu. Produksi kreatif, film dan fotografi dikelola secara kolektif.
Begitu juga pada Kepemilikan bersama, seperti alat produksi dan karya dimiliki anggota, juga gerakan sosial-politik. koperasi harus diposisikan sebagai alat perubahan
“Prinsip-prinsip inilah yang dirusak oleh Koperasi Merah Putih,” tegas Farid.
Farid kemudian mengurai lebih jauh mengapa Koperasi Merah Putih dianggap merusak konsep ekonomi rakyat. Skema yang dipaparkan menunjukkan beban berat sejak awal.
Sejak awal pendirian, skema Koperasi Merah Putih sudah menempatkan anggotanya dalam posisi rentan. Bahkan sebelum roda usaha benar-benar berputar, koperasi ini telah dibebani hutang hingga Rp3 miliar.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp1,5 miliar dialokasikan khusus untuk pembangunan gudang dan gerai. Ironisnya, proyek pengadaan infrastruktur tersebut kerap tidak dikelola secara mandiri oleh anggota koperasi, melainkan justru jatuh ke tangan oligarki lokal yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan.
Kondisi ini semakin problematik ketika kegagalan usaha berujung pada ancaman gagal bayar, sebab Dana Desa kemudian dijadikan sebagai jaminan. Alih-alih memperkuat ekonomi rakyat, skema semacam ini justru mempertaruhkan aset desa demi kepentingan segelintir pihak.
“Belum mulai saja sudah berhutang, dan aset desa dipertaruhkan untuk kepentingan segelintir orang,” kata Farid.
#Pesan untuk Indonesia: Belajar Lagi, Reset Lagi
Diskusi ini menjadi sinyal bagi aktivis, akademisi, dan warga sipil yang hadir. #ResetIndonesia membedah persoalan-persoalan sistemik semacam ini secara terang dan tanpa kompromi.
Pesan utamanya jelas, jika Indonesia ingin diperbaiki, maka konsep ekonomi kerakyatan harus dipelajari ulang, bukan dipalsukan.
Kegagalan sistem hari ini, menurut para penulis, berakar pada ketidakmauan pengambil kebijakan mendengar suara dari bawah, serta kegemaran menciptakan solusi artifisial yang hanya menguntungkan kroni.
Surabaya, dengan sejarah perlawanannya, menjadi tempat yang tepat untuk menyalakan kembali api kritik. Meski Benaya Harobu, wakil Generasi Z, tidak hadir secara fisik, suaranya tetap hidup dalam halaman buku yang menegaskan satu hal: masa depan Indonesia tidak bisa dibiarkan berjalan di atas rel yang rusak.
Indonesia perlu di-reset. Dan langkah pertama dari reset itu adalah keberanian untuk jujur terhadap kerusakan yang ada, sebagaimana Farid Gaban dengan lantang menggugat koperasi semu yang mengatasnamakan rakyat.***