Setelah hampir satu dekade menanamkan budaya peduli lingkungan, SD Muhammadiyah 1 Wringinanom di Gresik menerima penghargaan Sekolah Ekologis dari Ecoton bertepatan dengan Milad ke-21 sekolah.
SD Muhammadiyah 1 Wringinanom, Kabupaten Gresik, menerima Piagam Penghargaan Program Sekolah Ekologis dari Ecoton. Penghargaan diberikan bertepatan dengan peringatan Milad ke-21 sekolah.
Penghargaan sekaligus menandai pengakuan atas upaya sekolah dalam membangun budaya peduli lingkungan sejak 2016. Program yang dijalankan lebih terstruktur itu, mulai 2018 dengan melibatkan guru, siswa, orang tua, serta mitra lingkungan.
Perwakilan Ecoton, Tonis Afrianto, mengatakan Program Sekolah Ekologis dirancang untuk menumbuhkan kebiasaan menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
“Program Sekolah Ekologis ini untuk membentuk budaya peduli lingkungan di sekolah dan kehidupan sehari-hari. Manfaatnya diharapkan kembali ke masyarakat melalui kebiasaan baik yang dibawa siswa ke rumah dan lingkungannya,” kata Tonis, Sabtu, 9 Mei 2026.
Selain piagam penghargaan, Ecoton menyerahkan Modul Sekolah Ekologis yang berisi panduan pembelajaran lingkungan untuk guru dan siswa. Modul itu mencakup empat tema utama, yaitu pengelolaan sampah, energi terbarukan, konservasi keanekaragaman hayati, dan pangan sehat.
“Program Sekolah Ekologis kami rancang untuk menanamkan kebiasaan menjaga lingkungan sejak dini. Agar anak-anak tidak hanya belajar tentang sampah, energi, keanekaragaman hayati, dan pangan sehat di kelas, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, “ jelas Tonis. “Harapannya, kebiasaan baik itu terbawa ke rumah dan memberi dampak nyata bagi masyarakat serta lingkungan sekitar”.

#Pendidikan Lingkungan Menjadi Budaya Sekolah
Sementara itu Kepala SD Muhammadiyah 1 Wringinanom, Kholiq Idris, mengatakan juga akan selalu menjaga komitmen menjadikan sekolahnya sebagai sekolah ekologis. Menurutnya, sayang jika bangunan sekolah ekologis ini ditinggalkan begitu saja setelah memperoleh penghargaan ini.
“Sejak dulu kami memiliki komitmen menjadikan sekolah ini sebagai sekolah ekologis. Banyak usaha yang kami lakukan bersama seluruh warga sekolah dan para mitra lingkungan,” ujarnya.
Upaya ini telah membuahkan sejumlah penghargaan, mulai dari Adiwiyata sekolah di tingkat kabupaten, provinsi, maupuan nasional, juga Adiwiyata Mandiri yang diraih pada 2025.
Hal ini juga dibenarkan Koordinator Adiwiyata sekolah, Khoirun Nisa’. Dalam kesempatan berbincang ia mengatakan, pendidikan lingkungan yang selama ini dilakukan sudah terintegrasi langsung dengan proses belajar mengajar.
“Misi sekolah kami salah satunya membentuk perilaku peduli lingkungan dan budaya lingkungan. Karena itu, program sekolah ekologis dan Adiwiyata kami kaitkan langsung dengan pembelajaran di kelas,” kata dia.
Praktik itu terlihat dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Mulai dari kantin sekolah yang tidak menyediakan plastik sekali pakai. Sekolah juga menyediakan refill store sebagai alternatif bagi produk berkemasan sachet. Setiap kelas menggunakan galon isi ulang untuk menggantikan air minum kemasan.
“Penghargaan ini menjadi pengingat bahwa komitmen kami untuk membangun sekolah ekologis harus terus dijaga. Akan sangat disayangkan jika budaya peduli lingkungan yang telah kami bangun selama bertahun-tahun berhenti setelah penghargaan ini diterima. Justru ini menjadi motivasi untuk terus menanamkan kebiasaan baik kepada seluruh warga sekolah,” jelas Idris selanjutnya.
Sampah organik diolah menjadi kompos menggunakan bata terawang. Untuk pengelolaan sampah anorganik, sekolah bekerja sama dengan TPS 3R Wringinanom.
Sekolah juga membentuk kader lingkungan bernama Eco Warrior. Kelompok ini bertugas melakukan inspeksi sampah plastik di kelas setiap pekan serta menyusun buku bertema lingkungan setiap tahun.
“Pengelolaan sampah di sekolah tidak hanya menjadi kegiatan tambahan, tetapi bagian dari pembelajaran sehari-hari. Anak-anak juga terlibat langsung membuat kompos, memilah sampah, hingga memantau penggunaan plastik. Melalui Eco Warrior, mereka belajar menjadi teladan dan mengajak teman-temannya untuk menjaga lingkungan,” urai Nisa’.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp

#Siswa Belajar dari Sungai dan Rumah
Baik penjelasan Kholiq Idris maupun Khoirun Nisa’ memang benar adanya. Jika melihat lokasi sekolah yang berbatasan langsung dengan Kali Surabaya, juga dimanfaatkan sebagai laboratorium alam oleh para siswa bersama Ecoton.
Para siswa kerap mempelajari kualitas air dengan menggunakan metode biotilik mengamati organisme yang hidup di sungai itu.
“Anak-anak belajar mengamati biota sungai sebagai indikator apakah sungai masih bersih atau sudah tercemar,” ujar Nisa’.
Dua anggota Eco Warrior, Zahrotul Azizah dan Erlen Gladys Hermanu, mengaku memperoleh banyak pengetahuan praktis dari kegiatan tersebut.
“Kami belajar banyak tentang cara mengolah sampah, membuat kompos, dan eco-enzyme. Kegiatan ini membuat kami lebih peduli agar lingkungan menjadi lebih baik dan lebih bersih,” kata Zahrotul.
Erlen mengatakan kebiasaan yang dipelajari di sekolah mulai diterapkan di rumah.
“Dulu saya sering menggunakan plastik sekali pakai. Sekarang saya membawa tumbler, tempat makan sendiri, dan tas belanja agar mengurangi sampah plastik,” ujar Erlen.
Zahrotul mengingatkan pentingnya menjaga sungai dari pencemaran.
“Jangan buang sampah sembarangan, apalagi di sungai. Sungai adalah tempat hidup ikan dan banyak makhluk lainnya. Kalau sungai tercemar, kehidupan mereka juga terancam,” katanya.
Menurut Khoirun Nisa’, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi perilaku siswa dan warga sekolah. Sosialisasi harus terus dilakukan agar kebiasaan baik tetap bertahan.
“Kalau sosialisasi tidak dilakukan secara terus-menerus, kebiasaan baik itu bisa hilang. Karena itu kami terus menanamkan karakter peduli lingkungan agar anak-anak memiliki kesadaran sendiri tanpa harus disuruh,” kata dia.
Ecoton berharap keberhasilan SD Muhammadiyah 1 Wringinanom dapat menjadi contoh bagi sekolah lain di Indonesia untuk menjadikan pendidikan lingkungan sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa.***

Artikel ini dikirim pers release oleh Amalia Fibrianty, M.I.Kom, Media and Communications Officer Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON).