AKHIRNYA, kita sampai juga di titik ini. Satu tahun sudah Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka duduk di kursi RI-1 dan RI-2. Seratus dua belas kali rapat kabinet, puluhan kunjungan kerja, dan entah berapa kali “gemoy moment” yang viral di TikTok.
Tiga ratus enam puluh lima hari. Waktu yang cukup untuk menanam cabai sampai panen, tapi terasa sebentar kalau melihat betapa cepatnya peta politik berubah. Rasanya baru kemarin debat pilpres masih panas, sekarang semua mantan rival sudah akur, makan sepiring bertiga, dan posting bareng di Instagram dengan caption “Demi persatuan bangsa”.
Selamat datang di Kabinet Merah Putih, kabinet yang lebih mirip angkringan politik nasional. Semua mantan lawan kini duduk satu tikar, makan nasi kucing bersama sambil pura-pura lupa siapa dulu yang nyindir siapa.
#Makan Gratis, Tapi Bebannya Mahal
Program unggulan yang paling sering dijual tentu Makan Bergizi Gratis (MBG). Premisnya sederhana, kalau perut kenyang, rakyat senang, stunting hilang, dan approval rating naik.
Secara laporan, program ini memang manis. Tapi begitu turun ke lapangan, ternyata manajemennya ribet kayak mau mudik pakai mobil tanpa AC. Koordinasi antar kementerian bikin pusing tujuh keliling, bahkan mungkin si koki di dapur sekolah lebih stres daripada menterinya.
Pemerintah bangga karena sudah menjangkau jutaan anak. Tapi rakyat kecil bertanya, gizinya cukup nggak? Jangan-jangan cuma kenyang karbo tapi defisit protein dan serat.
Namun, satu hal pasti, politik memberi makan itu selalu laku. Karena buat rakyat kecil, satu piring nasi nyata jauh lebih bergizi daripada janji politik yang cuma bisa dimakan pakai imajinasi.
#Omnibus Law Politik: Semua Dirangkul, Oposisi Tinggal Cerita
Kalau ada penghargaan “The Best Political Hugger of The Year”, sudah pasti jatuh ke Presiden Prabowo. Dulu diserang, sekarang dirangkul. Dulu oposisi, sekarang menteri.
Koalisi Indonesia Maju kini makin gemuk, saking gemuknya, DPR seperti kos-kosan tanpa penghuni oposan.
PDI Perjuangan dan Mbak Mega memilih jadi “penyeimbang”. Tapi di tengah koalisi supermayoritas, “penyeimbang” itu kadang terasa kayak sendok plastik di rumah makan Padang, ada sih, tapi nggak kepakai kalau nasinya sudah dilahap semua.
Kondisi ini membuat parlemen super tenang. Tenang banget. Saking tenangnya, kita jadi rindu dengar teriakan “interupsi!” yang dulu bisa bikin politik terasa hidup. Sekarang, semua tenang… seperti lagu pengantar tidur demokrasi.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel#Reformasi Birokrasi dan Aplikasi yang Lebih Banyak dari Penggunanya
Pemerintah juga getol mendorong reformasi birokrasi dan digitalisasi pemerintahan. Katanya, mau bikin pelayanan publik lebih efisien, biar nggak lelet kayak sistem antrean online rumah sakit.
Bagus, tapi jangan lupa, kecepatan tanpa arah itu namanya nyasar. Merampingkan aturan oke, asal bukan buat mempercepat jalan tol kepentingan. Lalu soal digitalisasi, hampir semua kementerian bikin aplikasi. Tapi masalahnya, jumlah aplikasinya lebih banyak dari jumlah sinyal di pelosok.
Di Jakarta mungkin lancar. Tapi di pedalaman Papua, sinyal masih timbul-tenggelam kayak ghosting mantan.
#Menghapus Utang UMKM: Antara Kasih Sayang dan Ketagihan Pinjaman
Satu lagi yang cukup gemoy. Eh…, menggembirakan. Adalah wacana penghapusan utang macet UMKM. Akhirnya negara terlihat punya hati. Tapi seperti biasa, iblisnya ada di detail, gimana biar mereka nggak utang lagi tahun depan?
Menghapus utang itu mudah, menciptakan sistem ekonomi yang bikin UMKM bisa hidup mandiri itu yang susah. Jangan sampai kebijakan ini cuma jadi semacam “healing finansial” sementara sebelum stres datang lagi di 2026.
#Politik Indonesia, Antara Ketawa dan Pusing
Satu tahun Prabowo-Gibran berjalan seperti sinetron Ramadan, kadang menghibur, kadang bikin tepuk jidat, tapi tetap kita tonton setiap hari.
Kita boleh protes, boleh nyinyir, tapi pada akhirnya, kita tetap harus waras. Karena politik di negeri ini memang aneh, semakin absurd, semakin menghibur.
Selama perut kenyang dan dompet (sedikit) tebal, rakyat masih bisa tertawa di tengah drama istana yang gemoy tapi bikin pusing.
Selamat ulang tahun, pemerintahan Prabowo-Gibran. Semoga ke depan makin bergizi, bukan cuma di piring, tapi juga di kebijakannya.***