- Dua unit trash boom Kali Tebu cegah 75,7 ton sampah liar masuk perairan.
- Sebanyak 89,7 persen sampah sungai merupakan limbah residu yang sulit didaur ulang.
- Pemantauan dua bulan mencatat rata-rata pengumpulan sampah mencapai 1.263 kilogram per hari.
- Kebocoran sungai buktikan sistem pengelolaan sampah darat Surabaya belum terintegrasi dengan baik.
- Pemulung informal minim perlindungan sosial meski berperan penting menekan timbulan limbah kota.
PROGRAM Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK), bentukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) mencatat sebanyak 75.781,92 kilogram sampah berhasil dicegah masuk ke perairan Selat Madura. Capaian ini diperoleh dari pengoperasian dua unit trash boom di segmen tengah dan hulu Kali Tebu, Surabaya.
Selama 61 hari pemantauan sejak 11 Mei – 31 Juli 2026, rata-rata pengumpulan sampah mencapai 1.263 kilogram per hari. Kegiatan pengangkutan serta pemilahan sampah ini melibatkan 44 relawan secara aktif.
Dalam dialog tentang Pengelolaan Sampah Terintegrasi dan Penguatan Pekerja Sektor Persampahan Informal di Kota Surabaya bertemakan “Dari Sungai Menuju Kesejahteraan #SungaiLestari Surabaya. Manajer Data dan Informasi Program MOZAIK, Alaika Rahmatullah, mengatakan data pemantauan di Kali Tebu menunjukkan kebocoran sampah ke sungai masih menjadi tantangan serius.
Ia menyebut kondisi demikian itu, menjadi indikator jika sistem pengelolaan sampah di daratan belum terintegrasi secara optimal sehingga masih memungkinkan sampah terbawa ke badan sungai.
“Data pemantauan Kali Tebu menunjukkan persoalan sampah sungai (Kali Tebu) mencerminkan belum terintegrasinya sistem pengelolaan dari rumah tangga hingga pengolahan akhir,” ujar Alex, sapaan sarjana Biologi ini dalam dialog, Jumat (31/7/2026).

#Lonjakan Volume dan Dominasi Residu
Data MOZAIK mencatat volume sampah sungai terus meningkat selama periode pemantauan. Pada Mei terkumpul 13.433,77 kilogram, melonjak menjadi 41.661,65 kilogram pada Juni, dan mencapai 20.686,50 kilogram pada Juli.
Peningkatan volume tersebut dipengaruhi optimalisasi operasi trash boom serta kegiatan pembersihan sungai. Selain pengangkutan, tim juga melakukan pemilahan terhadap 60.524,33 kilogram sampah selama 62 hari.
Hasil pemilahan memperlihatkan 89,7 persen sampah merupakan material residu yang sulit didaur ulang. Sementara itu, sampah organik hanya mencakup 5,2 persen dan material daur ulang sebesar 5,1 persen.
Tingginya angka residu menunjukkan mayoritas limbah terbawa ke sungai karena gagal tertangani di darat. Kondisi ini menjadi ancaman nyata bagi kelestarian ekosistem perairan Kota Surabaya.
Secara akumulatif, Program MOZAIK telah mengumpulkan total 289,8 ton sampah dari berbagai kegiatan pemberdayaan. Sebanyak 6,96 ton material daur ulang berhasil disalurkan kembali ke rantai pengumpulan.
Program ini juga membentuk Kampung MOZAIK di Kelurahan Simokerto dan bermitra dengan empat sekolah. Kegiatan menjangkau 2.114 peserta serta melibatkan lebih dari 1.200 perempuan.
#Jurang Pemisah Sistem Pengelolaan Darat
Kebocoran sampah ini menjadi tantangan besar bagi Surabaya yang menghasilkan 1.810 ton sampah per hari. Meskipun cakupan layanan kota mencapai 99 persen, sekitar 600 ton sampah tetap berakhir di TPA Benowo.
Pemerintah Kota Surabaya telah menyediakan fasilitas PLTSa Benowo berkapasitas 1.000 ton per hari. Kota ini juga didukung 12 TPS3R, 30 fasilitas composting, dan Pusat Olah Organik.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Namun, alokasi anggaran pengelolaan persampahan daerah yang sebesar 3 persen masih perlu dioptimalkan. Integrasi pengolahan dari hulu ke hilir menjadi kunci utama mencegah kebocoran limbah.
Dialog publik ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Pengelolaan sampah tidak boleh berhenti pada tahap pengangkutan menuju tempat pemrosesan akhir semata.

#Sektor Informal dan Potret Kerentanan
Di luar paparan data teknis, dialog juga mengangkat kehidupan pekerja sektor persampahan informal melalui kajian Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) yang dilakukan ECOTON.
Peneliti GEDSI ECOTON, Firly Mas’ulatul Janah, membagikan kisah Sule (58), pemulung perempuan asal Bangkalan yang telah menetap di Tambak Wedi, Surabaya.
“Beliau ini telah menetap selama 15 tahun di Surabaya bersama keluarganya. Sebelum memulung, beliau sempat berjualan es dengan modal Rp150.000, tetapi usahanya mengalami kerugian sehingga akhirnya beralih menjadi pemulung untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” kata Firly.
Firly menjelaskan, penghasilan Sule tidak menentu. Dalam empat hari bekerja, ia pernah hanya memperoleh sekitar Rp90.000, sehingga kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi dengan pendapatan yang terbatas.
“Setiap hari pukul 08.00 hingga 11.00, Bu Sule ini berjalan kaki mengumpulkan botol plastik, plastik HDPE, kardus, dan barang bekas lainnya. Setelah itu, beliau memilah sendiri seluruh hasil temuannya di sekitar Jembatan Tanah Merah Utara sebelum dijual kepada pengepul,” ujar Firly.
Menurut Firly, seluruh proses pemilahan dilakukan secara manual. Label dan tutup botol plastik dilepas satu per satu sebelum dijual. Botol plastik dihargai sekitar Rp3.000 per kilogram, sedangkan plastik HDPE dijual Rp2.000 per kilogram.
Untuk menjual kardus, Sule harus menunggu hingga terkumpul dalam jumlah cukup banyak. “Kalau kardusnya sedikit, beliau justru rugi karena harus membayar ongkos becak sekitar Rp5.000 sampai Rp10.000 untuk mengangkutnya ke pengepul di Bulak Banteng,” tutur Firly.
Firly berpandangan kisah Sule menggambarkan betapa besarnya kontribusi pekerja informal dalam mengurangi sampah yang berakhir di lingkungan. Namun, menurutnya, para pemulung masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari perlindungan sosial, keselamatan kerja, hingga pengakuan dalam sistem pengelolaan sampah perkotaan.
“ECOTON telah menawarkan kepada beliau kolaborasi. Kami mengajak beliau mengambil botol plastik dan barang bekas yang masih bernilai ekonomi langsung dari trash boom yang telah kami pasang di Kali Tebu,” ujar Firly.***