Lewati ke konten

Siswa MI Babussalam Krian Belajar Lingkungan Lewat Praktik di Ecoton

| 4 menit baca |Mikroplastik | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Redaksi

Kunjungan edukatif siswa MI Babussalam Krian membuka pemahaman tentang mikroplastik, pengelolaan sampah, serta pemantauan sungai melalui praktik langsung yang membangun

Sebanyak 25 siswa kelas 4 dan 5 MI Babussalam Krian, Sidoarjo, mengikuti kunjungan edukatif ke Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Kegiatan dirancang untuk memperkenalkan isu lingkungan sejak dini, mulai dari mikroplastik hingga konservasi sungai.

Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, bersama guru pendamping Siti Nur Masrufah Dewi dan Annisa Fitriani saat penyerahan cenderamata sebagai tanda apresiasi kegiatan edukasi. | Dok. Ecoton

Didampingi dua guru, Siti Nur Masrufah Dewi dan Annisa Fitriani, para siswa menjalani pembelajaran berbasis station. Lima pos materi disiapkan, meliputi pengenalan mikroplastik dan dampaknya, pemilahan sampah, pembuatan eco enzyme, metode biotilik sungai, serta pengenalan program Refilin yang mendorong penggunaan ulang kemasan.

Tujuan kunjungan ini untuk mengenalkan mikroplastik, cara memilah limbah, eco enzyme, dan banyak hal lainnya. Anak-anak justru menyerap informasi jauh lebih banyak dari yang dibayangkan,” kata Annisa di sela kunjungan, Rabu, 6 Mei 2026.

Di laboratorium, siswa mengamati bentuk mikroplastik melalui mikroskop. Pengalaman visual langsung membuat konsep yang semula abstrak menjadi lebih konkret. Setelah sesi observasi, setiap kelompok mempresentasikan hasil pembelajaran di hadapan teman-teman.

“Dari belajar ini anak-anak tidak hanya mengenal istilah mikroplastik dan pengelolaan sampah, tetapi Ecoton juga pehaman praktiknya secara langsung kepada anak-anak, “ ucap Annisa.

“Pembelajaran seperti ini membuat mereka lebih mudah mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari,” imbuh Annisa.

Pendekatan pembelajaran yang interaktif dinilai dia cukup efektif membangun pemahaman. “Siswa tidak hanya menerima materi, melainkan juga terlibat langsung (ini yang menarik) terlibat langsung dalam praktik ya bisa saja sederhana tapi relevan dengan kehidupan sehari-hari, “ terang Annisa.

#Antusiasme Siswa dan Ancaman Mikroplastik

Sementara itu respons siswa juga  menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap isu lingkungan. Nazril, salah satu peserta, mengungkapkan kegembiraannya setelah mengikuti kegiatan. “Senang sekali di sini, ingin kembali lagi,” ujarNazril singkat.

Para siswa sedang mengamati mikroplastik menggunakan mikroskop di laboratorium Ecoton. | Dok. Ecoton

Safana, peserta lain, senang melihat temuan yang dianggap mengejutkan. “Ternyata dalam tubuh manusia ada mikroplastik yang tidak terlihat. Kalau membeli makanan sebaiknya tidak menggunakan plastik, gunakan wadah yang bisa dipakai ulang, ‘ ucapnya.

Ketua Pelaksana Microguardians 2026, Wahyu Baitullah, mahsiswa yang sedang studi independen, menjelaskan jika materi yang disampaikan mencakup pemahaman secara menyeluruh. Mulai dari definisi, jenis, sumber, dampak, hingga langkah penanggulangan mikroplastik.

“Mikroplastik sudah menjadi ancaman nyata bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Pengetahuan pelajar masih terbatas, sehingga edukasi sejak dini menjadi kebutuhan,” ujar Wahyu.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Masih kata Wahyu, pendekatan edukasi seperti ini bertujuan membentuk kepekaan terhadap lingkungan. Harapannya, peserta mampu menerapkan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya memahami konsep.

“Dengan mampu memahami, di sini siswa akan mampu atau peduli terhadap lingkungan, “ ucapnya

Kunjungan ini sekaligus menjadi pengingat tentang urgensi pendidikan lingkungan. Polusi plastik tidak berhenti pada pencemaran visual, melainkan berpotensi masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan.

“Risiko jangka panjang berkaitan dengan kesehatan semakin menjadi perhatian serius di kalangan anak-anak, “ jelas Wahyu.

Para siswa menerima materi tentang pentingnya menjaga lingkungan selama sesi pembelajaran di Ecoton. | Dok. Ecoton

Hal ini, lanjut Wahyu, pengetahuan dasar mengenai pengelolaan sampah perlu ditanamkan sejak usia sekolah. “Kebiasaan memilah sampah, mengurangi plastik sekali pakai, hingga memahami dampak limbah dapat membentuk pola hidup yang lebih bertanggung jawab, ‘ jelas Wahyu.

Sementara itu, guru pendamping lain, Siti Nur Masrufah Dewi menilai metode pembelajaran yang diterapkan ECOTON mampu mendorong peserta didik untuk terlibat aktif dalam isu lingkungan. Pendekatan ini dinilai relevan untuk diterapkan di berbagai jenjang pendidikan dan menjadi bagian dari praktik keseharian di sekolah.

“Pembelajaran seperti ini membuka ruang bagi siswa untuk memahami persoalan lingkungan secara langsung dan mendorong mereka ikut berperan dalam solusi,” ujar Dewi.

Ajakan ECoton ini, menegaskan bahwa krisis lingkungan memerlukan respons kolektif. Tanpa langkah nyata, beban ekologis akan semakin berat bagi generasi mendatang. Kegiatan seperti yang diikuti siswa MI Babussalam menjadi contoh bahwa perubahan dapat dimulai dari ruang belajar yang sederhana.***

 

Artikel ini dikirim oleh Amalia Fibrianty, M.I.Kom, Media and Communications Officer Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON). Penulisan artikel ini turut didukung oleh mahasiswa Biologi UINSA Surabaya yang sedang menjalani studi independen di Ecoton.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *