Lewati ke konten

SMPN 218 Jakarta Kembangkan Sekolah Minim Sampah

| 5 menit baca |Mikroplastik | 2 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Pers Release Editor: Supriyadi

Kantin bebas plastik, riset mikroplastik, dan kebun sekolah jadi strategi SMPN 218 Jakarta membangun budaya lingkungan berkelanjutan.

SMPN 218 Jakarta memperkuat komitmen pengurangan sampah plastik melalui program Microplastic Journey bersama Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton). Kegiatan yang melibatkan lebih dari 200 siswa itu menjadi bagian dari upaya sekolah membangun budaya zerowaste school.

Kepala SMPN 218 Jakarta Wenny Resdyaty mengatakan, program itu digelar untuk memperkuat kebiasaan memilah sampah sekaligus mendorong pengurangan plastik sekali pakai dari lingkungan sekolah hingga rumah tangga.

“Pengurangan sampah plastik sekali pakai memang harus dimulai dari sekolah. Kami membudayakan siswa-siswi untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Melalui kantin sekolah, budaya minim sampah plastik sudah kami mulai. Harapan kami menular ke setiap keluarga siswa-siswi SMPN 218,” kata Wenny, Ahad, 24 Mei 2026.

Kantin sekolah menjadi titik awal penerapan kebijakan SMPN 218. Seluruh jajanan disajikan tanpa kemasan plastik sekali pakai. Pengelola kantin, juga mulai mengurangi penggunaan karton makanan berlapis plastik.

“Pola konsumsi ramah lingkungan kami perkenalkan lewat makanan, serta buah hasil kebun sekolah,” ujar Wenny.

Sekolah berharap perubahan perilaku perlu dibangun dari kebiasaan harian. Karena itu, siswa diwajibkan membawa tumbler dan tempat makan guna ulang, melalui persetujuan antara orang tua dan pihak sekolah.

Wenny mengatakan, praktik penelitian mikroplastik bersama Ecoton juga memberi pemahaman baru kepada siswa, mengenai dampak plastik terhadap lingkungan dan kesehatan.

“Setelah praktik penelitian mikroplastik, siswa memahami bahwa plastik ternyata lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya. Setelah kegiatan brand audit, besoknya sekolah langsung menerapkan pilah sampah sesuai INGUB per 10 Mei bahwa semua wajib pilah sampah,” tutur Wenny.

Sekolah juga membentuk agen perubahan lingkungan. Setiap kelas memilih 10 siswa yang bertugas mengajak teman sekelas memilah sampah serta menekan penggunaan plastik sekali pakai di area sekolah.

“Harapan kami, setelah kegiatan ini SMPN 218 bisa menjadi sekolah PAHLAWAN LINGKUNGAN,” kata Wenny.

Kepala SMPN 218 Jakarta Wenny Resdyaty (dua dari kanan, berkacamata) bersama Pengawas Paket Jakarta Selatan Wilayah II Pesta Maria Yance Sinaga dan Heeju dari Korea Green Foundation mengamati majalah dinding karya pelajar yang menampilkan berbagai upaya pengurangan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah dan rumah tangga. | Foto: Ecoton

#Praktik Mikroplastik Masuk Ruang Kelas

Program Microplastic Journey dibuka dengan pertunjukan tari tradisional, musik, dan drama literasi berjudul Menu Rahasia di Piring Kita. Pementasan itu mengangkat persoalan sampah plastik yang dapat kembali masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan.

Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini, penelitian mikroplastik menggunakan mikroskop. Siswa diajak mengamati partikel plastik berukuran kecil yang berpotensi mencemari air dan bahan pangan. Metode itu dipilih agar persoalan lingkungan dapat dipahami, melalui praktik langsung di ruang belajar.

Pengawas Paket Jakarta Selatan Wilayah II Pesta Maria Yance Sinaga menilai, model pembelajaran seperti itu penting, karena siswa dapat memahami masalah lingkungan melalui pengalaman nyata.

“Dari 4.531 sekolah SD sampai SMA, hanya SMPN 218 yang banyak tanamannya dan bisa mengolah hasil tanamannya sendiri. Saya sangat senang ada kegiatan penelitian mikroplastik menggunakan mikroskop yang mengajak anak-anak belajar langsung,” ujar Maria.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Menurut Maria, sekolah perlu menjadi ruang edukasi kesehatan lingkungan. Jakarta menghadapi tekanan dari pencemaran udara, pengelolaan sampah, serta kualitas lingkungan perkotaan yang mengkhawatirkan.

“Selamatkan udara dengan menanam lebih banyak tanaman. Selamatkan air dengan mengolah sampah dan jangan membuang sampah ke sungai maupun laut,” kata Maria.

“Setiap sekolah diharapkan benar-benar menerapkan zerowaste school. Bersih-bersih tidak cukup, targetnya harus menuju nol sampah dari sekolah,” tambahnya.

Kegiatan lingkungan juga diperkuat lewat kebun sekolah. Siswa memanen rempah seperti kunyit dan jahe yang ditanam di area sekolah. Ada pula kader tanaman yang merawat toga serta area hijau sekolah.

Kebun itu menjadi bagian dari pembelajaran yang menghubungkan isu pangan, kesehatan, dan keberlanjutan.

Heeju dari Korea Green Foundation menyerahkan merchandise kepada Klenting dan Izzati, siswa kelas 8, usai meraih juara dalam lomba mading bertema pengurangan plastik sekali pakai. | Foto: Ecoton

#Dampak Program Meluas ke Rumah Tangga

Perubahan perilaku mulai menjangkau keluarga siswa. Salah satu indikator terlihat dari lomba mading zine bertema aksi nyata pilah sampah dan pengurangan plastik sekali pakai.

Juara pertama diraih Klenting dan Izzati dari kelas 8. Karya mereka mengangkat kebiasaan memilah sampah dari rumah sebagai langkah awal pengurangan limbah.

“Saya sangat senang bisa terlibat di kegiatan Microplastic Journey karena bisa meneliti mikroplastik langsung. Tema madingnya tentang pilah sampah dari rumah dan mengurangi plastik sekali pakai. Besoknya ibu saya langsung menerapkannya di rumah. Sekarang rumah kami sudah punya sampah terpilah dan semua wajib memilah sampah,” ujar Izzati.

Panitia juga membagikan merchandise berupa boneka kura-kura endemik dan gantungan kunci harimau Indonesia berbahan plastik daur ulang ecocycle, hasil kolaborasi dengan Korean Green Foundation.

Bagi sekolah, perubahan perilaku lingkungan tidak cukup berhenti di acara seremonial. Kebiasaan membawa wadah pakai ulang, memilah sampah, serta menekan konsumsi plastik diarahkan menjadi bagian dari rutinitas siswa.

Dari kantin bebas plastik, penelitian mikroplastik, kebun sekolah, hingga pelibatan siswa sebagai agen perubahan, SMPN 218 Jakarta berupaya membangun model pendidikan lingkungan berbasis praktik.

Pola itu diharapkan memperluas budaya minim sampah dari sekolah ke rumah tangga sekaligus memperkuat kesadaran lingkungan di tengah krisis sampah plastik Jakarta. ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *