Lewati ke konten

Sungai Jadi Lautan Sabun: Ketika Desa Balongmasin Mojokerto Disulap Jadi “Spa Alam”

| 4 menit baca |Ekologis | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Fio Atmadja Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

WARGA Desa Balongmasin, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dibuat kaget bukan main pada Ahad pagi, (26/10/2025). Sungai Sumber Pasinan yang biasanya mengalir tenang tiba-tiba berubah jadi seperti “spa alami raksasa”. Busa putih menumpuk di bawah dam dan jembatan, bergulung-gulung seperti krim cappuccino yang salah tempat.

“Kayak sabun cair tumpah satu drum,” celetuk salah satu warga yang masih tak percaya melihat air sungai berubah jadi lautan busa.

Dari sisi barat dam, air tampak keruh kehitaman. Sementara di bawah jembatan, busa putih menutupi hampir seluruh permukaan air. Belum ada warga yang jatuh sakit, tapi pemandangan itu cukup membuat banyak orang waswas, ini bukan sekadar “busa indah”, melainkan tanda ada yang tidak beres di aliran sungai kita.

#Siapa Biang Keroknya? Dugaan Limbah Mulai Mengapung ke Permukaan

Sampai sekarang, belum ada yang bisa memastikan siapa sebenarnya “penyumbang sabun” di Sungai Sumber Pasinan. Tapi beberapa petunjuk mulai muncul. Ada yang bilang limbah rumah tangga, ada yang menuding aktivitas cuci kendaraan, dan ada pula yang curiga, jangan-jangan ada pembuangan limbah cair dari industri rumahan di sekitar aliran.

“Kalau kita lihat, turbulensi alirannya tidak begitu deras,” ujar Afrianto Rahmawan dari Brantas Mbois, lembaga lingkungan yang fokus pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. “Mestinya DLH Mojokerto harus turun dan ngecek. Di sepanjang sungai ini ada kemungkinan perusahaan yang menyumbangkan bahan kimia seperti surfaktan ke aliran ini.”

Tumpukan sampah plastik di bawah jembatan semakin memperkuat dugaan itu. Busa yang menggumpal dan tersangkut jelas bukan fenomena alam biasa. Air yang dulu jernih kini berubah warna, dan aromanya – yah, mari kita akui – sudah tidak sedap lagi dihirup.

Kandungan kimia seperti surfaktan, zat pembentuk busa yang umum ditemukan dalam sabun dan deterjen, bisa membuat busa bertahan lama di permukaan air. Jadi, kalau benar ini penyebabnya, sungai ini bukan sedang “mandi sabun”, tapi sedang menjerit pelan karena tercemar.

Afri tak tinggal diam. Ia mengambil sampel air untuk diuji di laboratorium, mencari jawaban ilmiah dari misteri busa putih yang memenuhi sungai itu.

Fenomena ini jadi pengingat bahwa pencemaran lingkungan sering kali datang tanpa suara, pelan, lembut, tapi meninggalkan jejak berbusa di sungai, dan di hati nurani kita.

#DLH Turun Gunung:  “Sudah Kami Verifikasi, Akan Ditelusuri ke Sumbernya”

Menanggapi kejadian ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto langsung bergerak cepat. Kabid Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, Elia Sutanti, mengonfirmasi bahwa timnya sudah melakukan verifikasi lapangan pada hari yang sama, Minggu (26/10/2025).

“Sudah kemarin kami lakukan verifikasi lapangan, segera ditindaklanjuti ke sumbernya,” ujar Elia, Senin (27/10/2025).

DLH kini tengah menelusuri hulu sungai untuk mencari sumber pasti dari busa putih tersebut. Sambil menunggu hasil laboratorium, warga diminta waspada dan tidak menggunakan air sungai untuk keperluan rumah tangga dulu.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sungai Sumbr Pasinan kini jadi pengingat sederhana, kalau alam sudah berbusa, mungkin bukan waktunya selfie, tapi saatnya refleksi.

#Verifikasi, Sampel, dan Penelusuran Hulu

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto, Rachmat Suharyono, memastikan pihaknya sudah meninjau langsung lokasi sungai yang berbusa itu.

“Kami akan melakukan verifikasi lanjutan untuk penyisiran sampai lokasi titik pembuangan di pipa yang berada di belakang pondok pesantren,” jelas Rachmat, Senin (27/10/2025).

DLH juga bakal mengambil sampel air untuk diuji laboratorium, dengan waktu yang menyesuaikan kondisi, terutama saat busa muncul dan hujan reda. Dari hasil uji nanti, kata Rachmat, akan terlihat jelas kadar bahan pencemar seperti deterjen, minyak, lemak, nitrit, nitrat, hingga fosfat. Semua itu bisa menjadi petunjuk dari mana asal busa putih itu sebenarnya.

“Sesuai regulasi, semua kegiatan yang menghasilkan air limbah wajib melakukan pengelolaan, sesuai dengan ketentuan PP 22 Tahun 2021 maupun Permen LHK Nomor 11 Tahun 2025,” tegasnya.

Dengan kata lain, siapa pun yang punya usaha dan menghasilkan limbah cair, tak boleh main buang sembarangan ke sungai, karena sungai bukan tempat cuci dosa.

#Saat Sungai Tak Bisa Bicara Lagi

Fenomena ini bukan pertama kali terjadi di Mojokerto, tapi tiap kali muncul, rasanya tetap bikin resah. Sungai yang dulu jernih kini berbusa, airnya berbau, dan permukaannya dipenuhi sisa-sisa plastik yang tersangkut di tumpukan busa.

Mungkin alam sedang memberi kode halus, bahwa ada yang salah dalam cara kita memperlakukan air. Kalau busa ini benar berasal dari limbah manusia, berarti sungai kita bukan sedang “mendadak bersih”, tapi sedang “menjerit dalam wangi sabun”.

Dan kalau alam sudah berbusa, mungkin bukan waktunya berswafoto di jembatan, tapi waktunya kita bertanya, siapa yang sebenarnya kotor, sungainya, atau kita yang membiarkannya?***

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *