Bambu Runcing: Dari Senjata Rakyat Jadi Penunjuk Arah
12 February 2026
Monumen Bambu Runcing menjulang di tengah hiruk-pikuk Surabaya, menyaksikan bagaimana maknanya bergeser dari simbol perlawanan menjadi patokan arah bagi warga kota. “Belok kiri bambu runcing.” Kalimat itu meluncur ringan, hampir tanpa beban. Ungkapan yang selalu hidup dari percakapan sopir taksi daring, kurir ekspedisi, pegawai kantor, hingga mahasiswa yang baru pertama kali menjejak Surabaya. Monumen Bambu Runcing lebih sering hadir sebagai koordinat, bukan sebagai ingatan sejarah. Lima bilah bambu menjulang di perempatan Jalan Panglima Sudirman. Tingginya tak sama, seolah meniru bambu yang tumbuh liar di kebun-kebun kampung. Di sekelilingnya, mesin kendaraan meraung, lampu lalu lintas berkedip, dan gedung-gedung perkantoran berdiri dengan…