Lewati ke konten

Bambu Runcing: Dari Senjata Rakyat Jadi Penunjuk Arah

| 5 menit baca |Rekreatif | 16 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Supriyadi

Monumen Bambu Runcing menjulang di tengah hiruk-pikuk Surabaya, menyaksikan bagaimana maknanya bergeser dari simbol perlawanan menjadi patokan arah bagi warga kota.

“Belok kiri bambu runcing.”

Kalimat itu meluncur ringan, hampir tanpa beban. Ungkapan yang selalu hidup dari percakapan sopir taksi daring, kurir ekspedisi, pegawai kantor, hingga mahasiswa yang baru pertama kali menjejak Surabaya. Monumen Bambu Runcing lebih sering hadir sebagai koordinat, bukan sebagai ingatan sejarah.

Lima bilah bambu menjulang di perempatan Jalan Panglima Sudirman. Tingginya tak sama, seolah meniru bambu yang tumbuh liar di kebun-kebun kampung. Di sekelilingnya, mesin kendaraan meraung, lampu lalu lintas berkedip, dan gedung-gedung perkantoran berdiri dengan wajah kaca yang memantulkan matahari kota.

Surabaya bergerak cepat. Dan di tengah kecepatan itu, sejarah sering kali hanya sempat disapa sekilas.

Arif, 39 tahun, pengemudi ojek daring, mengaku hampir setiap hari melintas di sana. “Kalau kasih alamat, ya bilangnya dekat bambu runcing,” katanya, saat terjadi obrolan dengan saya, Kamis, (12/2/2026).

Ia tahu betul monumen yang diresmikan Gubernur Jawa Timur, Prijosoedarmo, 25 Mei 1981, berhubungan dengan perjuangan kemerdekaan. Tapi detailnya? Tidak pernah benar-benar ia dengar.

Begitulah monumen bekerja di kota modern. Monumen itu hadir sebagai benda, tetapi tidak selalu sebagai cerita.

Padahal, bambu runcing bukan sekadar bambu yang diraut tajam. Senjata sederhana itu adalah metafora tentang rakyat yang tak punya apa-apa, kecuali keberanian. Dalam masa revolusi, terutama menjelang dan sesudah 10 November 1945, bambu runcing menjadi simbol improvisasi.

Benda bukan senjata pabrikan, bukan pula produk barak militer. Bambu runcing lahir dari halaman rumah, dari kebun belakang, dari tangan-tangan yang gemetar namun tekadnya tak goyah.

Drama Peringatan Hari Pahlawan. Adegan rakyat melawan penjajah dengan bambu runcing kembali ditampilkan dalam Surabaya Membara di Tugu Pahlawan, simbol keberanian Surabaya yang tak lekang waktu. | | Foto: MC Jatim/Henry

#Dibangun Sebagai Lambang Keberanian Kolektif

Sejarawan Surabaya, Dr. Purnawan Basundoro, dalam sejumlah tulisannya tentang sejarah kota dan revolusi sosial di Surabaya, menekankan bahwa perlawanan rakyat Surabaya bukan hanya soal heroisme militer, tetapi juga tentang mobilisasi warga sipil  secara luas.

Ia banyak menjelaskan bagaimana identitas “arek Suroboyo” terbentuk dari keberanian kolektif, bukan semata figur tunggal pahlawan.

Bambu runcing, dalam konteks itu, simbol tanpa wajah. Dibangun tidak menunjuk satu nama, satu pangkat, atau satu gelar. Tapi menunjuk rakyat.

Slamet, 65 tahun, yang tinggal tak jauh dari kawasan itu sejak muda, masih ingat cerita orang tuanya. “Dulu sering dibilang itu senjata wong cilik,” ujarnya.

Cerita itu tidak ia baca di buku. Ia dengar dari mulut ke mulut, di beranda rumah, di sela-sela obrolan selepas magrib.

Namun, generasi yang tumbuh dengan gawai di tangan lebih akrab dengan peta digital ketimbang kisah lisan. Monumen Bambu Runcing tetap berdiri, tetapi narasinya tak lagi berkelindan dalam percakapan sehari-hari.

Sejarawan lain yang banyak menulis tentang Surabaya, Dr. Dukut Imam Widodo, dalam berbagai artikelnya di media dan kajian sejarah kota, menyebut, Surabaya bisa disebut “kota memori”, kota yang memuat banyak jejak sejarah kolektif. Tetapi ingat itu selalu pudar oleh geliat modernisasi.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Bahkan Dukut pernah mengucap, ruang-ruang kota sering kali kehilangan konteks sejarah ketika tidak dihadirkan melalui penanda naratif yang memadai.

Dalam kumpulan tulisannya di Soerabaia Tempo Doeloe, “Monumen Bambu Runcing merupakan ikon khas Kota Surabaya dan juga simbol perjuangan arek‑arek Suroboyo melawan penjajah. “

Barangkali itu yang terjadi pada Bambu Runcing. Monumen itu berdiri di ruang yang sangat fungsional. Bukan taman sunyi yang mengajak orang berhenti dan merenung. Tapi bangun itu berdiri di simpang jalan, tempat orang justru ingin segera bergerak.

Rina, 28 tahun, karyawan swasta, mengaku lebih mengenalnya sebagai titik temu. “Kalau janjian, bilangnya ketemu dekat bambu runcing. Soal sejarahnya, jujur nggak terlalu paham,” katanya.

Keberanian Arek Suroboyo. Meski hanya bersenjatakan bambu runcing, semangat arek-arek Suroboyo tak pernah mundur melawan Jepang. Foto: IDN Times/Reza Iqbal

Tak ada papan informasi yang cukup menjelaskan konteksnya. Tak ada narasi visual yang mengajak orang berhenti lebih lama dari lampu merah. Tanpa cerita, simbol mudah menjadi dekorasi.

Padahal, bambu runcing menyimpan ironi yang dalam, Dalam sejarah pernah menjadi senajata perlawanan dan lambang ketimpangan kekuatan. Di satu sisi, tentara kolonial dengan senjata modern. Di sisi lain, rakyat dengan bambu yang diraut.

Tetapi justru dari ketimpangan itu lahir keberanian. Keyakinan bahwa kemerdekaan tidak selalu ditentukan oleh kecanggihan alat, melainkan oleh tekad yang tak bisa diukur.

Dalam banyak cerita lisan, bambu runcing bahkan diyakini membawa kekuatan moral. Bukan alat fisik belaka, melainkan penopang psikologis. Sebuah sugesti kolektif bahwa rakyat tidak sendirian.

Kini, sugesti itu mungkin tak lagi terasa di tengah deru klakson. Namun monumen itu belum benar-benar kehilangan maknanya. Ia hanya bergeser.

Dari simbol perlawanan menjadi penunjuk arah. Di situlah paradoks kota bekerja. Sejarah tidak selalu hilang; kadang sejarah itu hanya berubah fungsi. Memorial itu menunggu dibaca ulang, dituturkan kembali, diberi konteks yang membuatnya relevan bagi generasi yang tak mengalami perang, tetapi hidup dalam tantangan zaman yang lain.

Monumen Bambu Runcing tetap berdiri. Patung peringatan itu tak bergerak, sementara Surabaya terus melaju. Barangkali suatu hari, di antara lampu merah dan kemacetan, seseorang akan berhenti sejenak. Bukan untuk bertanya arah, melainkan untuk bertanya,  siapa yang dulu menggenggam bambu itu, dan dengan keberanian seperti apa mereka melangkah?

Di tengah kota yang terus bergerak, bambu runcing masih menunggu untuk kembali dimaknai.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *