Kegiatan edukasi di lingkungan kampus Santa Maria 2 Sidoarjo mengungkap lebih dari 90 partikel mikroplastik dari enam sampel air di sekitar sekolah. Temuan ini menunjukkan bahwa polusi plastik tak lagi terbatas pada sungai dan laut, tetapi telah memasuki ruang belajar tempat anak-anak beraktivitas setiap hari.
#Puluhan Serat Mikroplastik Ditemukan di Enam Titik Pengambilan Sampel
Kegiatan pengamatan mikroplastik yang dilakukan Ecoton bersama siswa dan guru di lingkungan kampus Santa Maria 2 Sidoarjo, Jawa Timur, pada Jumat, 5 Desember 2025, menghasilkan temuan yang mengejutkan.
Lebih dari 90 partikel mikroplastik teridentifikasi dari enam sampel air, dengan jumlah tertinggi mencapai 36 partikel pada satu titik pengambilan.
Pengambilan sampel dilakukan oleh siswa kelas 9 yang tergabung dalam organisasi lingkungan Jatim Young Changemaker Academy 2025 (JAYCA 2025), didampingi guru IPA, Rikardus Pancir.

Kegiatan ini melibatkan beberapa jenjang pendidikan dalam kompleks sekolah Santa Maria 2, yang biasa dikenal kampus, mengelola lembaga pendidikan mulai KB, TK, SD hingga SMP, yang secara rutin menggunakan area-area yang menjadi lokasi pengambilan sampel.
Sampel pertama diambil dari rumah salah satu siswa di Desa Candi. Sebanyak 19 partikel fiber ditemukan, sebagian berupa serat halus berwarna yang sulit terlihat tanpa alat bantu. Serat ini diduga berasal dari pakaian sintetis atau debu plastik yang terbawa angin.
Sampel kedua, di belakang laboratorium sekolah, menunjukkan jumlah tertinggi: 36 partikel jenis fiber dengan warna merah dan biru. Lokasi yang berdekatan dengan area pergudangan diduga menjadi salah satu faktor meningkatnya kandungan partikel tersebut. Variasi warna pada mikroplastik menandakan beragam sumber pencemar, dari kemasan plastik hingga limbah domestik.
Di sampel ketiga, yang diambil siswi bernama Elin di Gedangan, tim menemukan 12 partikel fiber berwarna merah dan hijau. Elin mengaku baru menyadari bahwa air hujan yang selama ini dianggap bersih pun dapat tercemar mikroplastik.
Sampel keempat yang diambil di belakang kelas 7B mengandung sekitar 6 partikel, sementara sampel kelima dari area tata boga SMP Santa Maria mencatat 13 partikel. Sampel terakhir—berasal dari rumah seorang guru di Buduran—menunjukkan 7 partikel fiber, termasuk satu berwarna merah.
Total temuan lebih dari 90 partikel dari enam titik pengamatan memperlihatkan bahwa mikroplastik telah menyebar di berbagai lokasi yang berdekatan dengan aktivitas harian siswa.
#Kesadaran Baru Siswa: “Air Hujan pun Ternyata Mengandung Mikroplastik”
Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan data, tetapi juga membuka mata banyak siswa mengenai ancaman mikroplastik yang selama ini luput dari perhatian. Giovano, siswa kelas 9 sekaligus anggota JAYCA 2025, mengatakan bahwa temuan tersebut membuatnya memahami bahwa polusi plastik tidak selalu terlihat secara kasatmata.
“Ternyata dari hujan dan partikel-partikel kecil itu juga mengandung mikroplastik, bukan hanya yang bisa kita lihat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa langkah sederhana seperti membawa tumbler dan wadah makanan sendiri bisa menjadi kontribusi nyata untuk mengurangi sampah plastik di sekolah.
Queenby, siswa lain dari kelas 9, mengaku terkejut ketika mengetahui bahwa pembakaran sampah plastik dapat menghasilkan partikel mikroplastik yang kemudian mencemari udara.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
“Saya baru tahu kalau pembakaran sampah bisa membuat mikroplastik naik ke udara dan mencemari lingkungan,” katanya.
Reaksi para siswa menggambarkan bagaimana edukasi berbasis pengalaman langsung dapat mengubah persepsi mereka tentang bahaya plastik.
#Dampak Kesehatan dan Ekosistem Jadi Sorotan dalam Edukasi Lapangan
Selain pengumpulan sampel, tim Ecoton memberikan penjelasan tentang berbagai jenis mikroplastik – mulai fiber, fragmen, film hingga foam – beserta potensi risikonya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
Mikroplastik dalam bentuk fiber, yang paling banyak ditemukan dalam pengamatan ini, kerap berasal dari pakaian berbahan sintetis yang terlepas saat dicuci atau terbawa angin. Partikel kecil itu dapat masuk ke saluran pernapasan atau sistem pencernaan manusia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan mikroplastik jangka panjang berpotensi memicu peradangan dan gangguan hormon.
Guru IPA SMP Santa Maria, Rikardus Pancir, menilai kegiatan observasi ini sebagai pengalaman yang memperkuat pemahaman siswa. “Kegiatan ini sangat memberi manfaat, terutama karena siswa bisa melihat langsung data dan fenomena di lingkungan mereka sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sekolah memiliki program literasi sains rutin, namun kegiatan lapangan seperti ini membuat materi menjadi lebih membumi dan relevan bagi peserta didik.
#Peringatan Serius: Mikroplastik Telah Masuk ke Lingkungan Pendidikan
Temuan di lingkungan kampus Santa Maria 2 Sidoarjo menegaskan bahwa pencemaran mikroplastik bukan hanya persoalan sungai besar atau laut, tetapi telah hadir di lingkungan sekolah—ruang aman tempat ribuan anak belajar dan berinteraksi setiap hari.
Fakta bahwa air hujan, area kelas, halaman, hingga rumah siswa dan guru mengandung mikroplastik menjadi sinyal mendesak untuk meningkatkan pengelolaan sampah dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Kegiatan semacam ini direkomendasikan untuk dilakukan secara berkala, tidak hanya di sekolah Santa Maria, tetapi juga di berbagai lembaga pendidikan lain. Edukasi berbasis bukti nyata terbukti mampu mendorong perubahan perilaku siswa, sekaligus menjadi titik awal kesadaran lingkungan yang lebih luas di tengah ancaman polusi plastik yang kian mengkhawatirkan.***

*) Siti Nor Shofiyah adalah Koordinator GrowGreen, yang sedang studi independen di ECOTON, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya Prodi Ilmu Komunikasi Angkata 2023, berkontribusi penulisan artikel ini.