Lewati ke konten

Terinspirasi Catatan Kuno, Pelukis Surabaya Ridwan SS Bongkar Rahasia ‘Adu Kesaktian’ Penguasa Nusantara

| 5 menit baca |Rekreatif | 41 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi

Tradisi adu kesaktian antar kerajaan Nusantara diangkat kembali melalui lukisan “Adu Kesaktian”, mengangkat simbol kepemimpinan, spiritualitas, serta pesan kemanusiaan lintas zaman.

Nama Ridwan SS cukup dikenal di kalangan penikmat seni rupa Surabaya. Karya-karyanya kerap hadir dalam berbagai pameran dan menampilkan ketertarikannya pada tema sejarah, budaya, serta kehidupan masyarakat Nusantara.

Pelukis yang lahir di kawasan Sidosermo, Surabaya, itu kembali memperkenalkan karya terbaru berjudul Adu Kesaktian. Lukisan berbahan akrilik di atas kanvas berukuran 145 x 95 sentimeter tersebut terinspirasi dari catatan dan cerita mengenai kehidupan kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara.

Melalui karya itu, Ridwan mengangkat tradisi yang menurutnya pernah berkembang di lingkungan kerajaan-kerajaan Nusantara. “Kalau kita telusuri sejarah zaman kerajaan dulu, masyarakat pada masa itu gemar memelihara ayam jago,” kata Ridwan dari sanggar seninya di Surabaya, Kamis (18/6/2026).

Menurut Ridwan, kebiasaan tersebut tidak hanya terbatas pada ayam jago. Burung perkutut juga menjadi hewan peliharaan yang banyak dipelihara oleh kalangan istana. “Biasanya dilakukan oleh raja, patih, punggawa, hingga masyarakat laki-laki pada zamannya,” ujarnya.

Ia menilai kedua hewan tersebut memiliki kedudukan khusus dalam budaya Nusantara waktu itu. Selain sebagai hewan peliharaan, ayam jago dan burung perkutut juga menjadi simbol yang berkaitan dengan kepemimpinan. Bahkan spiritualitas, kehormatan, dan makna filosifis.

“Lukisan saya ini terinspirasi dari catatan kerajaan kuno. Di sana banyak menceritakan berbagai tradisi yang pernah berkembang di Nusantara,” kata Ridwan.

Selanjutnya, ia pun menjelaskan, jika seni rupa menjadi salah satu cara memperkenalkan kembali cerita sejarah yang pernah terjadi.

“Melalui lukisan kepada masyarakat. Kita bisa memviasualkan berbagai nilai budaya yang pernah ada waktu dulu agar lebih mudah diterima publik, “ ucap Ridwan.

Ridwan SS berpose di samping lukisan Adu Kesaktian, karya yang mengangkat tradisi kerajaan Nusantara melalui simbol ayam jago dan spiritualitas. | Dok Ridwan

#Menggali Kembali Tradisi Kerajaan Nusantara

Dalam penjelasannya, Ridwan menyebut Nusantara memiliki ratusan kerajaan yang tersebar di berbagai wilayah. Keberadaan kerajaan banyak melahirkan beragam tradisi yang menjadi bagian dari warisan budaya bangsa.

Salah satu tradisi yang menarik perhatiannya adalah kisah adu kesaktian yang melibatkan ayam jago. Dalam cerita yang menjadi sumber inspirasinya, para raja dan patih tidak selalu menyelesaikan persaingan melalui pertarungan langsung.

Sebaliknya, mereka diwakili oleh ayam jago yang dipercaya membawa kekuatan spiritual pemiliknya. Ayam tersebut menjadi representasi kehormatan, kewibawaan, dan kemampuan yang dimiliki seorang pemimpin.

Ridwan menuturkan, jika kisah tersebut berkembang dari generasi ke generasi. “Tradisi itu kemudian menjadi bagian dari cerita yang hidup di tengah masyarakat kerajaan waktu itu, “ ujar Ridwan yang juga pernah menghasilkan karya lukis, Siluet Kota, Harmoni Beton ini.

Ia mengaitkan narasi tersebut dengan perjalanan sejumlah kerajaan besar di Nusantara. Mulai dari Kerajaan Kutai yang dipimpin Raja Kudungga pada abad keempat Masehi hingga masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit.

Dalam berbagai catatan sejarah dan tradisi lisan, jelas Ridwan, ayam jago kerap kali menempati posisi penting dalam kehidupan masyarakat. Kehadirannya tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi simbol sosial dan budaya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Ridwan juga mengungkapkan, jika dalam lukisannya terdapat pesan menarik yang dapat dipetik. Persaingan yang terjadi tidak selalu harus berujung pada pertumpahan darah atau permusuhan antarmanusia.

“Hikmah yang saya tangkap dari cerita itu adalah manusia tetap harus mengedepankan cinta dan kasih sayang. Jika ingin mengetahui siapa yang unggul, cukup simbolnya yang diuji,” ujarnya.

Pesan  itu kemudian menjadi gagasan utama yang ingin Ridwan sampaikan melalui Adu Kesaktian. Karena baginya, nilai kemanusiaan justru menjadi bagian terpenting dari kisah yang diwariskan dari masa lalu.

Ridwan SS menyelesaikan detail akhir lukisan Adu Kesaktian, karya yang terinspirasi tradisi kerajaan Nusantara tentang simbol kepemimpinan dan spiritualitas. | Dok Ridwan

#Perjalanan Artistik dari Realis ke Impress Ekspresionis

Karya terbaru ini menandai fase baru dalam perjalanan kreatif Ridwan. Sebelumnya, ia dikenal melalui seri lukisan Kuda Monokrom yang mendapat perhatian publik saat dipamerkan di Surabaya sekitar dua tahun lalu.

Di balik konsistensinya berkarya, Ridwan menempuh perjalanan yang tidak instan. Ia memulai proses belajar melukis secara otodidak sebelum aktif terlibat dalam berbagai kegiatan dan pameran seni rupa yang memperkaya pengalaman artistiknya.

Pengalaman menjadi faktor utama yang membentuk cara pandang Ridwan dalam berkarya. Berangkat dari proses belajar yang dijalani secara mandiri, ia mengaku tidak membatasi dirinya pada satu pendekatan seni tertentu.

Menurut Ridwan, proses kreatif merupakan ruang untuk terus belajar dan bereksperimen. Karena itu, ia memilih membuka diri terhadap berbagai kemungkinan artistik yang dapat memperkaya bahasa visual dalam setiap karyanya.

“Saya tidak ingin terpaku pada satu aliran saja. Yang penting terus bereksplorasi dan menemukan cara baru untuk menyampaikan gagasan melalui lukisan,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, ia semakin mantap mengembangkan teknik impresionisme dalam lukisan realis. Pendekatan ini menggabungkan sapuan kuas yang lebih bebas dengan penggambaran objek yang tetap jelas dan terukur.

Teknik tersebut memberinya ruang untuk menampilkan suasana dan karakter visual yang kuat. Di sisi lain, bentuk objek tetap dapat dikenali dengan baik oleh penikmat karya.

Pendekatan itu terlihat dalam Adu Kesaktian. Sosok ayam jago menjadi pusat perhatian dengan detail yang dipertahankan, sementara permainan warna dan tekstur membangun dinamika visual pada keseluruhan bidang kanvas.

Melalui karya Adu Kesaktian ini, Ridwan berharap publik dapat melihat kembali kekayaan budaya Nusantara dari perspektif yang berbeda. Bukan hanya sebagai cerita sejarah, tetapi juga sebagai sumber nilai tentang kepemimpinan, penghormatan, dan kemanusiaan yang tetap relevan hingga sekarang.***

Data Karya
Judul: Adu Kesaktian
Perupa: Ridwan SS
Media: Acrylic on Canvas
Ukuran: 145 x 95 cm

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *