Lewati ke konten

Terminal Jatirogo Tuban: Hidup Segan, Mati Tak Dianggap, Mirip Rumah Mantan

| 3 menit baca |Sorotan | 15 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Hamim Anwar Editor: Marga Bagus

TUBAN – Di Tuban, ada satu bangunan megah yang sekarang nasibnya mirip akun Facebook jaman warnet: nggak dihapus, tapi juga nggak dipakai. Namanya Terminal Jatirogo.

Waktu dibangun, terminal ini digadang-gadang bakal jadi pusat pergerakan manusia: dari selatan ke utara, dari desa ke kota, dari calon pengantin ke rumah mertua. Harapannya indah. Realitanya? Sepi. Lebih rame angin sepoi-sepoi dan sawah di belakangnya ketimbang ruang tunggunya.

Ketua Fraksi Gerindra DPRD Tuban, Elis Yuanita Dewi, sampai angkat suara. Menurutnya, jangan buru-buru nyalahin masyarakat yang lebih doyan naik motor atau mobil pribadi. Problem terminal ini jauh lebih kompleks. Angkutan tuanya bikin ilfeel, jadwal keberangkatan kacau, sampai toilet yang, kata Elis, “lebih mirip film horor ketimbang fasilitas publik.”

“Sekarang masyarakat punya kendaraan pribadi, wajar kalau mereka males naik angkutan umum yang jelek, penuh karat, dan berangkatnya nggak jelas,” sindir Elis, sebagaimana dikutip Radar Tuban, Senin (29/9/2025).

Dan yang bikin hati tambah perih, Terminal Jatirogo ini bukan terminal abal-abal. Ia dibangun pakai duit negara, fasilitas lengkap, desain lumayan. Tapi ya gitu, yang paling sering numpang sekarang cuma angin lewat… plus kambing tetangga yang kadang nyasar masuk.

Terminal yang dulunya diharapkan jadi denyut nadi transportasi, kini malah mirip panggung kosong: megah, tapi tanpa penonton.

#Mas Lindra Ditantang: Hidupkan Lagi atau Tinggal Nama

Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky, ditantang warga: terminal ini jangan cuma jadi monumen nostalgia proyek masa lalu. Hidupkan lagi, biar beneran kepakai, bukan sekadar papan nama berdebu dengan cat yang makin pudar.

Masalahnya, zaman sudah berubah. Orang lebih seneng naik motor, pesen ojol, atau ikut travel yang jemput sampai depan rumah. Bus-bus besar pun sering males masuk terminal, lebih betah ngetem di pinggir jalan sambil ngopi di warung. Jadi ya wajar kalau Terminal Jatirogo nasibnya mirip rumah mantan: ada, tapi jarang banget yang mau mampir.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Mas Lindra—begitu panggilan akrabnya—memang sering ketiban PR beginian: gimana caranya ngidupin infrastruktur yang di atas kertas sudah bagus, tapi di lapangan nggak nyambung sama kebiasaan masyarakat. PR yang bikin kepala pejabat pening, karena jujur saja, lebih gampang motong pita proyek baru ketimbang ngurus bangunan lama yang terlanjur mangkrak.

Sebagai jurus penyelamat, Mas Lindra lewat program Bus Si Mas Ganteng sudah nitip satu unit di Jatirogo. Bus ini nggak cuma buat pelajar, tapi juga bisa dipakai masyarakat umum. Setidaknya, ada tanda-tanda kehidupan. Walau untuk sementara, terminalnya masih lebih sering disambangi angin semilir ketimbang antrean penumpang.

#Terminal Itu Perlu, Asal Nggak Salah Konsep

Sebenarnya, terminal itu tetap penting. Bukan cuma soal tempat naik-turun bus, tapi juga untuk ngatur lalu lintas, ngurangi semrawut di jalan, dan tentu aja, biar warung kopi di sekitar ikut hidup.

Cuma ya itu, terminal butuh konsep baru. Jangan cuma bikin bangunan megah terus ditinggal. Harus dipikir, gimana cara bikin masyarakat betah? Mungkin bisa jadi pusat UMKM, bisa ada tempat hiburan rakyat, atau minimal jadi rest area yang beneran rame. Kalau perlu, sekalian bikin WiFi gratis biar anak-anak nongkrong sambil main Mobile Legends.

Kalau enggak, ya nasib Terminal Jatirogo cuma tinggal nama. Jadi bahan obrolan warung kopi, terus hilang ditelan berita-berita baru.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *