Lewati ke konten

Uji Mikroplastik Udara di Jombang, Pelajar Madrasah Al Hikam Temukan Pencemaran Akut

| 6 menit baca |Mikroplastik | 14 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Pelajar Madrasah Al Hikam Jombang menemukan mikroplastik di udara yang mereka hirup sehari-hari, menyadarkan ancaman pencemaran tak kasat mata terhadap kesehatan manusia dan lingkungan hidup.

Udara pagi di Jombang, Senin (19/1/2026), tampak biasa saja. Tidak ada bau menyengat, tidak pula kepulan asap pekat yang kerap menjadi penanda pencemaran. Namun di balik udara yang terlihat bersih itu, ancaman tak kasat mata justru mengintai.

Perempatan Sengon, Jombang, menjadi salah satu titik dengan temuan mikroplastik udara tertinggi berdasarkan hasil pengamatan Ecoton dalam uji kualitas udara. | Foto: Ecoton

Lembaga kajian lingkungan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menggelar kegiatan uji mikroplastik di udara bersama siswa dan guru Madrasah Al Hikam Jombang. Kegiatan ini menjadi bagian dari kampanye edukasi publik bertajuk Hentikan Pencemaran Udara!, yang menyoroti ancaman serius polusi udara terhadap kesehatan manusia dan lingkungan hidup.

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut berlangsung di ruang Adiwiyata Madrasah Al Hikam dan diikuti oleh siswa Madrasah Aliyah (MA) serta Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Hikam yang berlokasi di Desa Jatirejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Para siswa diajak mengenali sumber pencemaran udara sekaligus memahami bahaya partikel mikroplastik yang selama ini kerap luput dari perhatian.

#Udara Bersih yang Menipu

Pendiri Ecoton Prigi Arisandi, yang menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut, mengatakan selama ini masyarakat masih memiliki persepsi keliru terkait keberadaan mikroplastik.

“Banyak orang mengira mikroplastik hanya ada di sungai dan laut. Padahal, partikel mikroplastik juga ada di udara dan bisa masuk ke tubuh manusia melalui pernapasan,” ujar Prigi.

Menurut Prigi, mikroplastik di udara berasal dari berbagai sumber. Pembakaran sampah plastik, abrasi ban kendaraan bermotor, emisi industri, hingga degradasi limbah plastik di lingkungan terbuka menjadi penyumbang utama partikel mikroplastik yang melayang di udara.

Partikel-partikel tersebut tidak kasat mata dan dapat terhirup manusia tanpa disadari. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena memiliki sistem pernapasan yang belum sepenuhnya berkembang.

“Anak-anak adalah kelompok paling rentan. Mereka menghirup udara lebih banyak dibanding berat tubuhnya. Jika udara sudah tercemar mikroplastik, maka risiko kesehatan jangka panjang sangat serius,” ujarnya.

Kesadaran itu mulai tumbuh di kalangan siswa. Salah satu siswa Araria Achmad Bahi Abiyasa, kelas IX mengaku, sebelum mengikuti kegiatan tersebut, ia menganggap mikroplastik hanyalah potongan plastik kecil yang tidak berbahaya.

Namun setelah mengikuti kegiatan uji mikroplastik udara, pandangannya berubah. Ia jika mikroplastik berdampak serius terhadap lingkungan dan kesehatan.

“Awalnya saya kira plastik itu cuma potongan kecil saja. Tapi ternyata meskipun kecil, efeknya bisa sangat besar,” ujarnya.

Selain itu Abiyasa juga menilai kegiatan ini disampaikan dengan cara yang inovatif dan mudah dipahami. Menurutnya, materi yang dibawakan mendorong siswa untuk berpikir kritis tentang kebiasaan sehari-hari, terutama dalam penggunaan plastik sekali pakai.

Kepala Madrasah Al Hikam Jombang, Maftuhah Mustiqowati, menyampaikan pentingnya pendidikan lingkungan sejak dini kepada siswa dalam kegiatan uji mikroplastik udara bersama Ecoton. | Foto: Ecoton

#Edukasi Lingkungan Sejak Dini

Dalam kegiatan tersebut, Ecoton juga menekankan penerapan prinsip Reduce, Reduce, Reduce, baru Reuse, selanjutnya Recycle dengan urutan prioritas yang jelas. Para peserta didik diajak memahami jika langkah paling penting dalam pengelolaan sampah plastik adalah mengurangi penggunaannya.

Kegiatan edukasi ini berjalan dengan aman dan lancar serta mendapat respons positif dari para siswa. Antusiasme terlihat dari keterlibatan mereka dalam diskusi dan refleksi terhadap kebiasaan sehari-hari.

Kepala Madrasah Al Hikam Jombang, Maftuhah Mustiqowati, menilai kegiatan ini sebagai bentuk pendidikan lingkungan yang nyata bagi siswa. Menurutnya, isu pencemaran udara selama ini terlalu abstrak bagi anak-anak karena tidak selalu terlihat secara kasat mata.

“Melalui praktik langsung seperti ini, anak-anak bisa memahami bahwa membakar sampah plastik bukan sekadar menghasilkan asap, tetapi juga menghasilkan partikel berbahaya yang bisa mereka hirup setiap hari,” kata guru yang akrab disapa bu Ika ini.

Ia berharap, kegiatan tersebut mampu membentuk kesadaran ekologis sejak dini, tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di rumah dan masyarakat sekitar.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Anak-anak akan menjadi agen perubahan. Mereka akan mengingatkan orang tuanya untuk tidak membakar sampah dan lebih peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.

Para siswa Madrasah Al Hikam Jombang mengamati partikel mikroplastik melalui mikroskop dalam kegiatan uji mikroplastik udara yang digelar Ecoton. | Foto: Ecoton

#Ancaman Kesehatan dan Dorongan Kebijakan

Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti, menjelaskan bahwa mikroplastik yang terhirup manusia tidak berhenti di saluran pernapasan. Partikel berukuran sangat kecil itu berpotensi masuk ke paru-paru, menembus aliran darah, bahkan mencapai organ tubuh lain.

Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan, paparan mikroplastik dapat memicu peradangan jaringan, gangguan sistem pernapasan, hingga meningkatkan risiko penyakit kronis apabila terakumulasi dalam jangka panjang. Risiko tersebut semakin besar ketika paparan terjadi secara terus-menerus, terutama di wilayah dengan kualitas udara yang buruk.

“Ketika sampah plastik dibakar, partikelnya mencemari udara. Ketika limbah plastik dibuang ke sungai, mikroplastiknya mencemari air. Siklusnya saling terhubung dan dampaknya kembali ke manusia,” kata Rafika.

Ia menegaskan, persoalan mikroplastik tidak bisa dilepaskan dari lemahnya sistem pengelolaan limbah dan pengawasan industri yang masih terjadi di banyak daerah. Selama sumber pencemar tidak dikendalikan secara serius, risiko paparan mikroplastik di udara akan terus meningkat.

“Masalahnya bukan hanya perilaku masyarakat, tetapi juga kebijakan. Pengawasan terhadap pembakaran sampah, emisi industri, dan pengelolaan limbah plastik masih sangat lemah,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya perubahan pola konsumsi dengan penerapan prinsip 3R secara berurutan. “Yang utama itu reduce, bahkan harus diulang-ulang. Baru setelah itu reuse dan recycle,” kata Rafika.

Selain aspek edukasi, kegiatan ini juga membuka ruang bagi suara generasi muda. Ashfa Nabiha, siswi kelas XI Kreatif, mengaku antusias mengikuti uji mikroplastik udara tersebut.

 

“Saya sudah lama menunggu kegiatan seperti ini. Selama ini saya membaca uji mikroplastik di beberapa sekolah, tetapi kebanyakan yang diuji adalah air hujan atau air sungai,” kata Ashfa.

Menurutnya, pengujian mikroplastik di udara memiliki urgensi tersendiri karena berkaitan langsung dengan aktivitas sehari-hari dan kesehatan manusia. “Udara itu kita hirup setiap hari. Jadi menurut saya ini sangat penting untuk diketahui, apalagi bagi pelajar,” ujarnya.

Hasil pengamatan terhadap sampel udara selama satu jam pengambilan menunjukkan variasi tingkat kontaminasi di sejumlah titik di Kabupaten Jombang.

Di depan Polres Jombang, peneliti menemukan 13 partikel mikroplastik yang seluruhnya berupa fiber. Sementara itu, di depan Lapas Jombang teridentifikasi 14 partikel mikroplastik, terdiri atas 10 fiber, 1 film, dan 3 fragmen.

Temuan lebih tinggi tercatat di wilayah Jatirejo, Cukir, dengan total 16 partikel mikroplastik yang terdiri dari 13 fiber, 2 film, dan 1 fragmen. Adapun di Kedai Sufi, Desa Sengon, ditemukan 4 partikel mikroplastik yang seluruhnya berupa jenis film atau filamen.

Kontaminasi paling mencolok tercatat di Perempatan Sengon. Di lokasi ini, peneliti menemukan total 58 partikel mikroplastik, terdiri atas 11 fiber, 6 film, dan 41 fragmen. Dominasi fragmen mengindikasikan kuatnya pengaruh aktivitas manusia dan degradasi plastik sekali pakai di ruang publik.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *