Lewati ke konten

Waspada Stres Oksidatif, Sofi Azilan Aini Ingatkan Dampak Mikroplastik dalam Film ‘Menolak Punah’

| 5 menit baca |Mikroplastik | 17 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Film Menolak Punah mengungkap jejak mikroplastik dari pakaian sintetis, menelusuri dampaknya pada tubuh manusia, lingkungan, serta ancaman kesehatan yang diwariskan lintas generasi.

Lampu redup di Balai Budaya Jakarta. Layar menampilkan potongan gambar kehidupan sehari-hari: orang berbelanja, memilih pakaian murah, mengenakan, lalu membuang. Film Menolak Punah karya Dandhy Laksono bergerak pelan, menyusuri kebiasaan yang terasa biasa.

Di balik kain yang melekat di tubuh, tersimpan cerita lain. Industri fashion modern bertumpu pada bahan sintetis seperti polyester, turunan langsung dari plastik. Pakaian menjadi lebih terjangkau, tren bergerak cepat, lemari berganti isi dalam hitungan bulan.

Setiap serat memiliki konsekuensi. Saat dicuci, kain sintetis melepaskan serpihan mikro. Dalam satu liter air limbah, jumlahnya dapat mencapai ratusan ribu partikel. Angka yang sulit dibayangkan, meski dampaknya terasa nyata.

Film ini menyorot hubungan yang kerap terlewat, antara kebiasaan mengenakan pakaian dan kualitas lingkungan. Serat mikro bergerak dari mesin cuci ke sungai, dari sungai ke laut, lalu kembali ke manusia melalui air dan makanan.

Dandhy mengingatkan, ancaman ini tidak berdiri sendiri. “Jika dikaitkan dengan isu kesehatan publik dan paparan mikroplastik yang besar, sistem seperti BPJS tidak akan sanggup menghadapi potensi ledakan penyakit di masa depan,” ujarnya dalam diskusi usai pemutaran film, Kamis, (9/4/2026).

Fragmen mikroplastik berukuran sekitar 5,3 mikrometer yang teramati di bawah mikroskop, menunjukkan partikel plastik berukuran sangat kecil yang berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia | Dok: Ecoton

#Ketika Serat Masuk ke Dalam Darah

Penelitian yang dilakukan Ecological Conservation and Wetlands (ECOTON) bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, telah membuka lapisan yang lebih dalam. Mikroplastik ditemukan dalam darah manusia, cairan ketuban, urin ibu hamil, hingga cairan semen.

Ukuran partikel berkisar 1,5 hingga 7,9 mikrometer. Cukup kecil untuk melewati dinding usus dan masuk ke aliran darah. Dari sana, partikel menyebar ke organ-organ vital.

“Tubuh merespons mikroplastik sebagai ancaman. Sel-sel imun bekerja keras, meski benda asing ini tidak dapat dihancurkan,” ujar Sofi Azilan Aini, peneliti Ecoton di Balai Budaya Jakarta usai menonton film “Menolak Punah” sekaligus menjadi narasumber di acara tersebut.

Menururt Sofi, respons  itu bisa memicu stres oksidatif. Radikal bebas terbentuk dalam jumlah besar, menyerang struktur sel, merusak membran, mitokondria, hingga inti sel.

“Kerusakan berlangsung perlahan, terjadi secara akumulatif, dan sering kali tidak disadari, “ ucap Sofi.

Sebagaimana dijelaskan dalam film, kata Sofi, dalam jangka panjang, kondisi ini berkaitan dengan penyakit degenerative, seperti kanker, diabetes, gangguan jantung, serta penyakit autoimun.

“Mikroplastik juga membawa zat kimia tambahan seperti ftalat. Ini yang perlu kita ketahui, senyawa pelentur plastik yang dikenal sebagai pengganggu hormon, “ urainya.

Gangguan hormon berdampak luas. Sistem reproduksi menjadi salah satu yang paling rentan. Penurunan kualitas sperma dan kesuburan mulai terlihat dalam berbagai penelitian.

Hal ini disampaikan mahasiswa Biologi Universitas Negeri Surabaya, Sri Astika, yang juga menjadi narasumber di acara menonton film “Menolak Punah”.  Ia mengaku kaget, saat momen melihat hasil uji laboratorium.

“Ada rasa kaget ketika mengetahui sampel yang saya periksa semuanya mengandung mikroplastik. Data yang saya temukan mengubah cara memandang sesuatu yang sebelumnya terasa aman, ” tuturnya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Astika yang saat ini sedang studi independen di Ecoton, fokus pada penelitian mikroplastik pada sperma, mengatakan jika temuannya juga memperlihatkan pencemaran mikroplastik telah melampaui batas lingkungan.

“Tubuh manusia menjadi ruang baru bagi akumulasi partikel plastic, termasuk sperma, “ ucapnya.

Peneliti ECOTON, Sofi Azilan Aini, menunjukkan temuan mikroplastik kepada khalayak pengunjung nobar film Menolak Punah | Dok: Ecoton

#Warisan Tak Terlihat untuk Generasi

Dampak mikroplastik tidak berhenti pada satu tubuh. Paparan terhadap ibu hamil membawa konsekuensi lintas generasi. Zat kimia dari plastik dapat memengaruhi janin, termasuk sel reproduksi yang sudah terbentuk sejak dalam kandungan.

Kepala Laboratorium ECOTON, Rafika Aprilianti menjelaskan, efek tersebut bersifat jangka panjang. “Paparan mikroplastik memicu peradangan kronis dan mengganggu sistem hormonal. Dampaknya tidak berhenti pada satu individu, melainkan dapat terbawa hingga generasi berikutnya.”

Dalam perspektif ini, plastik berubah makna. Dari benda praktis menjadi sumber ancaman yang tak terlihat. Setiap partikel yang masuk ke tubuh membawa kemungkinan kerusakan yang tidak langsung terasa.

Di sisi lain, lingkungan terus menanggung beban. Limbah tekstil sintetis sulit terurai. Serat poliester bertahan dalam waktu panjang, pecah menjadi partikel lebih kecil, lalu menyebar tanpa kendali.

“Yang perlu dipahami, mikroplastik ini tidak hilang. Ia hanya berubah bentuk menjadi semakin kecil dan semakin mudah masuk ke dalam tubuh manusia,” lanjut Rafika.

Kontras terlihat pada serat alami seperti kapas yang dapat terdegradasi. Ironi muncul ketika Indonesia masih bergantung pada impor kapas, meski memiliki potensi lahan luas, terutama di wilayah timur.

Film Menolak Punah mendorong refleksi atas pilihan sehari-hari. Pakaian yang dikenakan, frekuensi membeli, hingga kebiasaan mencuci menjadi bagian dari siklus besar pencemaran mikroplastik.

Rekomendasi para peneliti terdengar sederhana: mengurangi konsumsi pakaian berbahan sintetis, memperpanjang usia pakai pakaian, serta beralih pada praktik berbagi atau tukar pakaian. Di saat yang sama, penggunaan plastik sekali pakai perlu ditekan melalui kebiasaan membawa wadah sendiri dan tas guna ulang.

“Perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci. Mengurangi konsumsi produk sintetis dan plastik sekali pakai dapat menekan sumber utama mikroplastik sejak dari hulu,” kata Rafika.

Langkah kecil memiliki dampak kolektif. Setiap keputusan individu berkontribusi pada arah perubahan yang lebih luas.

Film ini meninggalkan kesan yang menetap. Mikroplastik tidak terlihat, tidak berbau, tidak terasa. Jejaknya hadir di dalam darah, bergerak diam-diam, menyusup ke masa depan.

Dalam keheningan layar yang telah padam, pesan itu tetap tinggal: apa yang dikenakan hari ini dapat menentukan kesehatan generasi yang belum lahir.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *