GRESIK – Ratusan relawan turun tangan membersihkan Sungai Manyarsidomukti, Kecamatan Manyar, Gresik, Jumat (3/10/2025) pagi. Bukan sekadar gaya-gayaan selfie dengan karung sampah, tapi memang betulan ngangkut ratusan kilo plastik, popok, sampai sachet kopi bekas. Aksi ini bagian dari World Clean-Up Day 2025 yang digelar DLH Gresik bareng Gabungan Organisasi Wanita (GOW) dan Badan Riset Urusan Sungai Nusantara (BRUIN).
Dari jam 7.30 sampai 11 siang, para relawan berhasil mengumpulkan 809 kilogram sampah—setara berat satu sapi gemuk. Itu pun belum termasuk empat truk penuh sampah tambahan yang diperkirakan 10 ton lebih. Bayangkan, di sungai kecil saja bisa “panen” sampah segitu. Kalau diukur skala nasional, mungkin bisa bikin gunung baru: Gunung Plastik Nusantara.
#Dari relawan sampai ibu-ibu GOW
Yang datang bukan cuma aktivis atau mahasiswa pencinta lingkungan. Ada polisi, TNI, pejabat kecamatan, siswa SMK Yasmu, sampai ibu-ibu Nasyiatul Aisyiyah. Ketua GOW, Dr. Shinta Puspitasari, bilang kalau urusan sampah sebenarnya ada di tangan ibu-ibu.
“Ibu-ibu itu garda terdepan. Kalau mereka sudah bisa memilah, kompos, dan ngurangi plastik sekali pakai, setengah masalah sampah selesai,” ucapnya.
Singkatnya, kalau masih hobi belanja pakai kresek double dan doyan beli es teh plastik tiap sore, ya jangan salahkan siapa-siapa kalau sungai kita jadi kali plastik.
#Sungai bukan cuma buat buang sampah (halo, warga!)
Lokasi yang dipilih bukan asal comot. Sungai Manyarsidomukti ini bermuara ke Kalimireng, sub DAS Bengawan Solo. Di sekitarnya ada tambak udang dan bandeng. Artinya, kalau plastik nyasar ke sana, ujung-ujungnya bisa balik lagi ke meja makan kita dalam bentuk bandeng goreng bumbu kuning rasa mikroplastik.
Direktur Eksekutif BRUIN, Azis, sampai wanti-wanti, “Kalau sungai tercemar, risiko mikroplastik bisa masuk lewat biota tambak.”
Artinya, kalau udang terasa agak “kriuk”, jangan-jangan itu bukan tepung crispy, tapi fragmen plastik.
#Jargon bagus, praktiknya gimana?
DLH Gresik membawa jargon “Bersihkan, Rapikan, Indahkan Lingkungan”. Kepala DLH, Sri Subaidah, menegaskan acara ini bukan sekadar simbolis. Katanya, menuju Indonesia Bersih 2029 butuh konsistensi, bukan cuma acara tahunan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Acara ini bukan sekadar momentum tahunan, melainkan pengingat bahwa kita harus konsisten menjaga lingkungan terutama ekosistem yang menjadi sumber kehidupan dalam hal ini sungai dari ancaman sampah plastik. Sungai yang sehat berarti masyarakat yang sehat,” tegasnya.
Nah, ini yang agak menggelitik. Soalnya jargon itu cakep, tapi fakta di lapangan bilang lain. Setiap tahun sungai dibersihkan, tiap tahun juga penuh lagi. Sama kayak janji politik, rajin diucap, tapi cepat basi.
Kalau serius mau “Indonesia Bersih 2029”, harusnya bukan cuma satu hari bersih-bersih ramai-ramai. Tapi ada kebijakan tegas: pembatasan plastik sekali pakai, fasilitas pengolahan sampah di desa, sampai sanksi buat industri yang bandel. Tanpa itu, ya ujung-ujungnya relawan cuma jadi “tukang pungut sampah gratisan” sementara produksi plastik jalan terus.
#Sinergi atau pencitraan?
Acara ini juga disponsori sektor industri, PT Maspion Industrial Estate, PT Siam Maspion Terminal, PT Arsynergy, sampai PT Liwayway. Dukungan industri tentu bagus, asal bukan sekadar “greenwashing”. Jangan sampai logonya mejeng di spanduk, tapi pabriknya di belakang masih buang limbah ke sungai.
#Indonesia Bersih atau Indonesia Basa-Basi?
World Clean-Up Day di Gresik jelas punya semangat bagus. Relawan kerja nyata, keringat keluar, sungai jadi lebih rapi. Tapi masalahnya jauh lebih besar, produksi plastik yang nggak ada habisnya, kebijakan setengah hati, dan budaya buang sampah seenaknya.
Kalau 2029 kita beneran mau “Indonesia Bersih”, yang harus dibersihkan bukan cuma sungai. Tapi juga pola pikir, kebiasaan, dan… ya, sedikit banyak janji-janji pejabat yang suka lebih manis dari minuman sachet isi tiga sendok gula itu.***