Lewati ke konten

#Zero Waste Academy 2026: Catatan dari Wringinanom Menjawab Krisis Sampah Nasional

| 4 menit baca |Ekologis | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Dari ujung selatan Gresik, Desa Wringinanom membuktikan pengelolaan sampah berbasis warga mampu berjalan mandiri, berkelanjutan, dan menjadi rujukan nasional dalam Zero Waste Academy 2026.

Desa Wringinanom, Kecamatan Wringinanom, terletak di ujung selatan Kabupaten Gresik, sekitar 47,7 kilometer dari pusat pemerintahan kabupaten. Jarak yang cukup jauh itu kerap dianggap sebagai keterbatasan.

Tumpukan sampah di TPS 3R Wringinanom, Gresik, dikelola melalui pemilahan ketat antara sampah organik, anorganik, dan residu sebelum diproses lebih lanjut. | Foto: Supriyadi

Namun bagi warga Desa Wringinanom, jarak justru membentuk karakter, yakni mandiri, ulet, dan terbiasa mengandalkan kekuatan bersama.

Di desa ini, gotong royong bukan sekadar jargon pembangunan, melainkan praktik yang hidup dalam keseharian warga. Dari urusan sosial, ekonomi, hingga lingkungan, warga Desa Wringinanom terbiasa membangun sistemnya sendiri tanpa selalu menunggu campur tangan pemerintah daerah.

Kemandirian itu tampak jelas dalam pengelolaan sampah. Ketika Desa Wringinanom menjadi lokasi pertama pelaksanaan Zero Waste Academy 2026, pada Rabu (28/1/2026). Terlihat ada sebuah pembelajaran intensif yang mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, aktivis lingkungan, hingga pengelola sampah dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Timur itu.

Sejak pagi, terlihat suasana desa memperlihatkan aktivitas yang bagi warga terasa biasa. Di depan rumah, di sudut gang, hingga di halaman belakang, warga memilah sampah organik dan anorganik. Tidak ada aba-aba khusus, tidak ada pengawasan ketat. Pemilahan telah menjadi bagian dari rutinitas harian.

Sampah yang telah dipisahkan itu kemudian diangkut oleh petugas TPST 3R Wringin Asih, unit pengelolaan sampah milik desa. Tanpa teknologi canggih dan tanpa fasilitas mahal, sistem ini berjalan konsisten dan berkesinambungan.

#Sederhana, tetapi Menggugah Kota-kota Besar

Kesederhanaan sistem pengelolaan sampah di Wringinanom justru menjadi kekuatan utamanya. Pengelolaan dilakukan berbasis warga, dikelola secara kolektif, dan dibiayai secara mandiri melalui iuran yang disepakati bersama. Sebuah praktik yang jarang ditemui, bahkan di kota-kota besar.

Pemandangan ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta Zero Waste Academy 2026 yang diselenggarakan oleh ECOTON Foundation, Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), dan Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA).

Delima Prischa Cahya Purnama, perwakilan Bappeko Kota Surabaya, mengaku kagum melihat TPST Wringinanom mampu membiayai operasionalnya secara mandiri.

“Saya kagum. TPS di Wringinanom bisa membiayai layanan operasionalnya sendiri. Di Surabaya, TPS sepenuhnya masih dibiayai APBD kota,” ujarnya.

Kekaguman serupa datang dari Supriadi, perwakilan Kota Malang. Menurutnya, praktik di Desa Wringinanom menunjukkan bahwa solusi pengelolaan sampah tidak selalu harus bergantung pada skema besar dan teknologi mahal.

“Sistem yang dibangun dari kesadaran warga, konsistensi, dan gotong royong justru lebih kuat dan berkelanjutan,” katanya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Bagi para peserta, Desa Wringinanom menjadi pengingat, jawaban atas krisis sampah nasional tidak selalu lahir dari kota besar dengan anggaran besar. Solusi itu justru bisa tumbuh dari desa, dari sistem sederhana yang dijalankan secara konsisten.

Pengelolaan sampah di TPS 3R Wringinanom, Gresik, menunjukkan bagaimana pemilahan dari sumber dan pengolahan di tingkat desa mampu menekan volume sampah ke TPA. | Foto: Supriyadi

#Kelembagaan Desa dan Kepemimpinan yang Peduli

Kegiatan Zero Waste Academy 2026 di Desa Wringinanom dilanjutkan dengan diskusi bersama Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) TPST 3R Wringinanom. Diskusi membahas aspek kelembagaan, administrasi, dan pendanaan, tiga hal yang sering menjadi titik lemah pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Diskusi yang menegaskan, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh tata kelola yang kuat, transparan, dan berkelanjutan.

Abdul Rokhim, Ketua KSM TPST 3R Wringinanom, mengungkapkan membangun sistem pengelolaan sampah berbasis warga bukan perkara mudah.

“Menjadi ketua KSM itu tantangannya banyak. Mulai dari membangun kepercayaan warga, menjaga konsistensi pemilahan sampah, sampai mengelola administrasi dan keuangan agar tetap transparan,” ujarnya.

Namun tantangan itu, kata Rokhim, dapat dilalui ketika masyarakat mulai merasakan manfaat langsung dari sistem yang dibangun. Dukungan regulasi kepala desa, terutama dalam penetapan tarif layanan dan penguatan tenaga kerja berbasis gotong royong, menjadi faktor penentu keberlanjutan.

Peran Kepala Desa Wringinanom, H Yoko, menjadi bagian penting dari cerita ini. Dalam fase awal pengelolaan sampah, ia bahkan menjual mobil pribadinya demi memastikan sistem pengangkutan dan pengelolaan sampah desa dapat berjalan.

Keputusan itu tidak hanya menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan warga. Kepemimpinan yang memberi teladan menjadi fondasi penting bagi lahirnya partisipasi kolektif.

Bagi banyak peserta Zero Waste Academy 2026, pelajaran paling berharga justru datang dari Desa Wringinanom. Dari desa yang jauh dari pusat kekuasaan, tetapi dekat dengan nilai kebersamaan dan tanggung jawab kolektif.

Wringinanom menunjukkan bahwa zero waste bukan sekadar konsep kebijakan atau wacana seminar. Di desa ini, zero waste hadir sebagai praktik hidup sehari-hari—dimulai dari rumah, dijaga oleh komunitas, dan diperkuat oleh kepemimpinan desa.

Dari Desa Wringinanom, krisis sampah tidak dihadapi dengan keluhan, melainkan dengan kerja bersama. Sebuah pelajaran sederhana, tetapi relevan bagi banyak daerah di Indonesia yang masih mencari jalan keluar dari persoalan sampah.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *