Lewati ke konten

#Zero Waste Academy 2026: Idaman, Cerewet, dan Mendesak

| 3 menit baca |Ekologis | 20 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Kuesioner interaktif peserta Zero Waste Academy 2026 menunjukkan zero waste dipahami sebagai nilai hidup, bukan sekadar konsep teknis, dengan sorotan kuat pada urgensi pembatasan plastik.

Pendekatan kreatif dalam sesi Zero Waste kembali memperlihatkan cara pandang unik para peserta terhadap isu pengelolaan sampah. Melalui kuesioner interaktif Mentimeter, peserta diminta mempersonifikasikan konsep zero waste layaknya seorang pasangan hidup. Hasilnya, zero waste tidak hanya dipahami sebagai gagasan lingkungan, tetapi juga sebagai nilai hidup yang dekat dengan keseharian masyarakat.

Kegiatan yang dipandu oleh Thara Bening, kolaborator Ecoton, itu berlangsung pada Jumat, 20 Januari 2026, dan berlangsung menggugah susasana gayeng di acara hari kedua itu; cair, reflektif, sekaligus kritis, memperlihatkan bagaimana isu sampah tidak lagi dilihat sebagai persoalan teknis semata, tetapi sebagai persoalan sosial, budaya, dan kebijakan publik.

#Zero Waste sebagai “Pasangan Hidup”

Dalam pertanyaan “Kalau zero waste itu adalah pasangan anda, menurut anda seperti apa orangnya?”, mayoritas peserta menggambarkan zero waste sebagai sosok “bersih dan sehat”. Karakter lain yang muncul antara lain disiplin, peduli, ramah dan bijak, sabar, ikhlas, bahkan disebut sebagai “green flag” dan “idaman”.

Namun, respons kritis juga mengemuka. Zero waste dinilai “cerewet”, “ribet”, “ruwet”, hingga “merepotkan”, mencerminkan realitas bahwa praktik hidup minim sampah memang menuntut perubahan kebiasaan yang tidak sederhana.

Diskusi Zero Waste Academy 2026 membuka cara pandang peserta: zero waste bukan sekadar konsep, tetapi pilihan hidup yang menuntut disiplin, kesabaran, dan keberpihakan pada lingkungan. | Foto: Kurnia Rahmawati

Ungkapan lokal seperti “koyo bojoku” dan “ruwet crewet” memperlihatkan kedekatan emosional peserta dengan isu ini, sekaligus menggambarkan zero waste telah masuk dalam ruang personal, bukan lagi sekadar wacana lingkungan.

Sementara itu, terkait pemahaman awal sebelum mengikuti sesi, peserta umumnya mengaitkan zero waste dengan mengurangi sampah dan nol sampah.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Sebagian memaknainya sebagai 100 persen sampah terolah, kota tanpa sampah, hingga gerakan masif. Namun, muncul pula kesadaran bahwa zero waste adalah pekerjaan besar yang sulit terwujud tanpa sistem yang kuat dan dukungan kebijakan yang konsisten.

#Plastik, Kebijakan, dan Pengelolaan dari Hulu

Materi yang paling membekas dari sesi Zero Waste didominasi isu pembatasan plastik dan pengurangan sampah sekali pakai, khususnya kemasan saset. Peserta juga menyoroti bahaya mikroplastik, pencemaran sungai, konsep ekonomi sirkular, serta pentingnya pemilahan sampah dari sumbernya.

Alasan materi tersebut melekat beragam, mulai dari kesadaran bahwa sampah tidak pernah benar-benar hilang, hanya berubah bentuk, hingga kritik terhadap praktik pembakaran sampah dan ketergantungan pada TPA yang semakin penuh. Banyak peserta menekankan pentingnya regulasi pembatasan plastik, penegakan kebijakan, serta pengelolaan sampah dari hulu sebagai kunci perubahan.

Refleksi ini menunjukkan bahwa zero waste tidak lagi dipahami semata sebagai konsep lingkungan, melainkan sebagai perubahan pola pikir dan perilaku yang menuntut keterlibatan individu, komunitas, pemerintah, dan dunia usaha. Bagi peserta, zero waste mungkin terasa “ribet” dan “cerewet”, tetapi tetap dipandang sebagai jalan penting menuju keberlangsungan kehidupan dan lingkungan yang lebih sehat. ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *