Lewati ke konten

#Zero Waste Academy 2026: Pilah Sampah dari Rumah, Jalan Sunyi Kurangi Krisis Sampah

| 4 menit baca |Ekologis | 45 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Muhammad Faizul Adhim Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Pemilahan sampah dari rumah menjadi langkah awal perubahan perilaku warga. Upaya berbasis komunitas di Wringinanom menunjukkan pengelolaan sampah bisa dimulai dari skala terkecil.

Setiap pagi, deru kendaraan pengangkut sampah menyusuri gang-gang permukiman. Di balik rutinitas itu, ada pekerjaan yang kerap dipandang sebelah mata, yakni mengelola sisa konsumsi manusia. Padahal, tanpa kerja para petugas sampah, wajah kota akan jauh lebih semrawut.

Warga Wringinanom menerima edukasi pemilahan sampah organik dan anorganik sebagai upaya membangun kebiasaan pengelolaan sampah dari sumbernya. | Foto: Faiz

Masalahnya bukan semata pada volume sampah yang terus meningkat, melainkan pada kebiasaan masyarakat yang belum memilah sampah sejak dari sumbernya. Sampah organik dan anorganik kerap tercampur, menyulitkan pengelolaan di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) hingga Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kondisi inilah yang masih menjadi persoalan klasik di banyak daerah di Indonesia.

Di tengah keterbatasan sistem pengelolaan sampah nasional, inisiatif berbasis komunitas mulai tumbuh. Salah satunya dilakukan oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) di Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik.

#Mengubah Kebiasaan dari Rumah Tangga

Ecoton bekerja sama dengan TPS3R Wringinanom untuk mendorong pemilahan sampah langsung dari rumah tangga. Setiap pelanggan TPS3R diwajibkan memiliki dua tempat sampah terpisah yaitu organik dan anorganik.

Langkah ini disertai edukasi intensif melalui pendekatan dari rumah ke rumah, pembagian poster, hingga pemantauan rutin.

Pemantauan yang dilakukan pada Selasa (27/1/2026) menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Sekitar 90 persen rumah tangga pelanggan TPS3R telah memilah sampah dengan benar. Angka ini menunjukkan, perubahan perilaku bukan sesuatu yang mustahil, selama didukung edukasi dan sistem yang konsisten.

Namun, proses tersebut tidak sepenuhnya bebas dari keraguan warga. Novis, warga Gang 2 Jalan Krajan, mengaku memahami pentingnya memilah sampah, tetapi masih menyimpan kekhawatiran.

“Saya sudah tahu pentingnya memilah sampah. Tapi sedih kalau sudah dipilah dari rumah, lalu dicampur lagi saat diambil,” ujarnya.

Kekhawatiran semacam ini kerap muncul karena praktik pengelolaan sampah di banyak daerah masih belum konsisten. Meski begitu, sebagian warga tetap menunjukkan optimisme. Maharani, warga setempat, berharap kebiasaan memilah sampah bisa ditiru oleh tetangga lain agar manfaatnya dirasakan bersama.

Nira, Eka, dan Kartika, mahasiswa Departemen Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang angkatan 2023, saat mengecek tong sampah pilah dalam kegiatan studi independen di Ecoton. | Foto: Faiz

#Perubahan Kecil dan Tanggung Jawab Besar

Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, menekankan, perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil. Menurut dia, skala komunitas merupakan fondasi penting dalam membangun kesadaran lingkungan yang berkelanjutan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Keteladanan, konsistensi, dan kerja sama menjadi kunci agar kebiasaan baik menyebar secara alami, “ ujar Prigi dalam kesempatan berbincang bersama mahasiswa yang sedang studi independen di Ecoton.

Pemilahan sampah, lanjut Prigi, bukan sekadar memudahkan kerja petugas. Lebih dari itu, langkah ini berkontribusi langsung terhadap peningkatan angka sampah yang terkelola di Indonesia, sekaligus mengurangi beban TPA yang semakin sesak.

Meski demikian, pemilahan hanyalah tahap awal. Upaya pengurangan sampah perlu dilanjutkan dengan perubahan pola konsumsi, seperti mengurangi barang sekali pakai dan beralih ke produk yang dapat digunakan berulang kali. Praktik ini masih terus diperjuangkan oleh komunitas dan pegiat lingkungan.

Kolaborator Ecoton, Amiruddin Muttaqin, menambahkan persoalan sampah di Indonesia sarat dengan polemik. “Masalah sampah ada di mana-mana. Tinggal bagaimana pembuat kebijakan menentukan regulasi yang tepat dan konsisten,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan, peran pemerintah tetap krusial. Tanpa kebijakan tegas dan sistem pengelolaan yang menyeluruh, upaya masyarakat akan berjalan lambat dan terfragmentasi.***

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Faizul Adhim, mahasiswa Departemen Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan, Angkatan 2023 Universitas Negeri Malang yang tengah menjalani studi independen di Ecoton. Melalui pengalamannya di beberapa tempat yang ia lihat bahwa menjaga kesehatan lingkungan bukan hanya tugas aktivis atau pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama – yang bisa dimulai dari rumah masing-masing.

 

Artikel mengalami perubahan judul, yang semula “Pilah Sampah dari Rumah, Jalan Sunyi Kurangi Krisis Sampah” pada Rabu, 28 Januari 2026 menjadi  “#ZeroWaste Academy 2026: Pilah Sampah dari Rumah, Jalan Sunyi Kurangi Krisis Sampah.”

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *