Lewati ke konten

100 Persen Sampel Kulit di Gresik Ditemukan Terpapar Mikroplastik dalam Uji Mahasiswa K3

| 5 menit baca |Sorotan | 9 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Jofan Ahmad Arianto Editor: Supriyadi

Pemeriksaan 100 sampel kulit di Gresik menunjukkan seluruh partisipan terpapar mikroplastik, memunculkan pertanyaan serius tentang paparan harian, sumber polusi tersembunyi, serta kesiapan regulasi lingkungan di Indonesia saat ini.

Kelompok Studi Mahasiswa Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Sunan Gresik (USG) meluncurkan gerakan Environmental Sovereignty Goals (ESG) di Lobby Gedung Kampus B, Kamis (11/6/2026). Peluncuran ini diwarnai dengan pemaparan hasil uji awal yang mengejutkan, di mana partikel mikroplastik ditemukan menempel pada seluruh permukaan kulit partisipan yang diperiksa.

Dalam kegiatan yang dikemas lewat pameran interaktif tersebut, mahasiswa menggunakan mikroskop digital untuk mengajak pengunjung melihat langsung sampel kulit wajah dan tangan. Pemeriksaan acak ini dilakukan terhadap 100 partisipan yang terdiri atas mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum di Gresik. Hasilnya, 100 persen sampel menunjukkan keberadaan polutan tak kasat mata tersebut dengan karakteristik yang beragam.

Temuan ini menjadi landasan kuat bagi kelompok studi K3 USG untuk menyuarakan urgensi regulasi dan penetapan baku mutu mikroplastik di Indonesia.

Suasana edukasi di stan pameran interaktif gerakan ESG. Mahasiswa K3 USG memberikan penjelasan mendalam kepada para pengunjung mengenai hasil riset paparan mikroplastik dan bahaya polutan tak kasat mata di lingkungan sekitar. | Foto: Jofan

#Dari Sektor Domestik hingga Ancaman Kesehatan Nyata

Gerakan ini berakar dari kekhawatiran mahasiswa setelah mendiskusikan hasil riset mengenai paparan mikroplastik pada pekerja pengelola sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gresik. Sadar bahwa isu ini kerap kali hanya dipandang sebatas masalah pencemaran lingkungan makro, mahasiswa bergerak membawa isu tersebut ke ruang publik kampus agar dampaknya terhadap kesehatan manusia dapat dipahami secara menyeluruh.

Sebagaimana diketahui, tim riset dari Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton), sebuah lembaga yang belakangan fokus pada persoalan sampah plastik, bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), pernah mengungkap temuan pekerja sampah perempuan positif terpapar mikroplastik.

Temuan itu diketahui ketika Ecoton dan FK Unair, melakukan kolaborasi di Laboratorium Green Hospital Korea Selatan milik Wonjin Institute for Occupational Environmental Health. Di mana dalam penelitian terhadap 32 sampel, perempuan pemilah sampah di Gresik – terdiri dari 27 pekerja pemilah sampah dan lima perempuan nonpekerja sebagai kontrol. Dalam analisis terhadap 65 jenis bahan kimia dalam darah dan urine itu, terkonfirmasi jika para pekerja sampah perempuan, di Gresik positif terpapar mikroplastik.

Hal itu terjadi juga berdasarkan pengamatan di pameran, mayoritas partikel yang ditemukan pada kulit berbentuk serat (fiber), dengan kepadatan berkisar antara empat hingga tujuh partikel per orang. Polutan ini diidentifikasi berasal dari pelepasan serat bahan tekstil sintetis seperti nilon, poliester, dan akrilik. Kepadatan partikel bahkan ditemukan lebih tinggi pada individu yang mengenakan pakaian poliester bercorak tebal.

Selain jenis fiber, ditemukan pula fragmen mikroplastik dari hasil degradasi berbagai jenis polimer komersial seperti PET, PVC, PP, PS, dan HDPE. Sumber paparan disinyalir berasal dari aktivitas harian yang sulit dihindari, mulai dari gesekan pakaian sintetis, abrasi ban kendaraan di jalan raya, hingga fragmentasi sampah plastik yang melayang di udara bebas. Mahasiswa menekankan bahwa ancaman ini telah bergeser dari area TPA ke ruang domestik akibat tingginya ketergantungan masyarakat pada produk plastik.

Salah seorang peserta pemeriksaan, Deny Maulana Roziqin, mengaku terkejut dengan fakta baru tersebut.

“Sejauh ini saya belum mengetahui apa bahaya plastik, yang saya tahu hanya menjadi penyebab banjir. Tapi setelah mengetahui paparannya menempel pada kulit manusia, masuk ke dalam tubuh, bahkan sampai pada air ketuban, saya merasa memang Indonesia harus cepat-cepat membuat baku mutu mikroplastik,” kata Deny.

Ruang literasi dan advokasi yang inklusif. Di kelilingi poster edukasi dampak plastik bagi tubuh, mahasiswa lintas disiplin berkumpul dan berdiskusi mengenai pentingnya percepatan regulasi baku mutu mikroplastik nasional. | Foto Jofan

#Respons Lintas Disiplin dan Dukungan Akademik

Isu yang diangkat oleh kelompok studi K3 ini juga memantik perhatian dari disiplin ilmu lain. Yuli Ariyanti Wulandari, mahasiswa Program Studi Psikologi USG, menilai fenomena ini perlu dieksplorasi lebih jauh dari sudut pandang perilakunya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Pemaparan ini benar-benar memicu ketertarikan akademis saya. Sebagai bentuk respons nyata, saya merasa sangat terpanggil membawa isu ini ke dalam penelitian lebih lanjut di prodi saya, guna menggali sejauh mana polutan tak kasat mata ini mendistorsi kapasitas psikologis manusia modern,” tutur Yuli.

Dukungan penuh terhadap gerakan mahasiswa ini disampaikan oleh Kepala Program Studi K3 USG, Achmad Sakhowi Al Awwarij, S.K.M., M.KKK. Pengajar yang juga mengantongi sertifikat Ahli K3 Umum (AK3U) dari Kementerian Ketenagakerjaan RI tersebut menegaskan pentingnya pendampingan dosen agar nalar ilmiah mahasiswa terus terasah.

“Kegiatan seperti ini harus didukung dan didampingi secara penuh oleh jajaran dosen pengampu, “ katanya.

Uji kulit secara langsung! Mahasiswa memandu partisipan memindai permukaan tangan di bawah mikroskop digital untuk melacak keberadaan fragmen mikroplastik yang kerap berasal dari degradasi plastik harian atau udara. | Foto: Jofan

Kegiatan  ini penting, lanjutnya, untuk mematangkan nalar ilmiah dan ketajaman analisis mahasiswa dalam merespons isu mikroplastik. “Dalam kegiatan seperti ini, mahasiswa jangan hanya sebagai penyebar informasi, tetapi juga mampu membangun argumentasi yang ditopang metode dan analisis,” tegas Sakhowi.

#Desakan Penguatan Regulasi Hukum

Menutup rangkaian peluncuran, Mahasiswa Bidang Kajian Ekologi ESG, Dafa Ubaidillah Naufal Baihaqi, menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan payung hukum yang jauh lebih kuat untuk mengontrol polusi mikroplastik. Baku mutu yang jelas dinilai akan menjadi instrumen vital bagi pengawasan lingkungan serta edukasi publik.

“Baku mutu mikroplastik harus segera ditetapkan sebagai landasan regulasi dalam melawan ancaman ini. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat sangat krusial,” ujar Dafa.

Melalui bendera ESG, Kelompok Studi K3 Universitas Sunan Gresik berkomitmen menjadikan gerakan ini sebagai ruang literasi dan advokasi lingkungan yang berkelanjutan secara konsisten melalui instrumen riset, diskusi, dan publikasi ilmiah.***

 

*Jofan Ahmad Arianto, mahasiswa Fakultas Kesehatan Sains dan Psikologi Universitas Sunan Gresik, aktif  di Lembaga Pers Mahasiswa Satmata,  dan aktif di Ecological Observation dan Wetlands Conservation (Ecoton)

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *