- Sebanyak 15 mahasiswa KKN Kelompok 43 menggelar edukasi pencegahan bullying untuk siswa kelas 6 SDN 1 Lobuk.
- Materi membahas pengertian, jenis, dampak, hingga cara mencegah perundungan di lingkungan sekolah sejak dini.
- Edukasi dipadukan dengan permainan interaktif agar siswa memahami materi tanpa merasa bosan selama kegiatan berlangsung.
- Siswa diajak menuliskan pengalaman dan perasaan secara anonim untuk mengenali potensi perundungan di sekolah.
- Program diharapkan membangun budaya saling menghargai serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Penulis: Meir Tsabita Rihadatul Aisy adalah mahasiswa program studi Manajemen Sumber Daya Perairan di Universitas Trunojoyo Madura (UTM).
Edukasi Pencegahan Bullying Libatkan 15 Mahasiswa KKN
Sebanyak 15 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 43 melaksanakan sosialisasi pencegahan bullying kepada siswa kelas 6 SDN 1 Lobuk, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Madura, Selasa (14/7/2026).
Kegiatan bagian dari salah satu program kerja KKN ini, tujuannya pada penguatan karakter siswa dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dari perundungan.
Kepala SDN 1 Lobuk, Suhandi dalam keterangannya menyapaikan, sebagai langkah awal dilakukan koordinasi, agar materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan sekolah dalam mencegah terjadinya bullying di lingkungan belajar.
“Sebanyak 15 mahasiswa ini, dibagi ke dalam dua kelas. Agar penyampaian materi lebih efektif, “ kata Suhandi dalam keterangannya yang dikutip Meir Tsabita Rihadatul Aisy, Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Semester 6, Ahad, (19/7/2026).
Sosialisasi berlangsung selama satu jam, mulai pukul 08.00 hingga 09.00 WIB. Materi yang disampaikan meliputi pengertian bullying, berbagai bentuk perundungan, dampak yang ditimbulkan terhadap korban, serta langkah-langkah pencegahannya.
Pada awal kegiatan, mahasiswa memperkenalkan diri kepada para siswa untuk membangun suasana yang lebih akrab. Setelah itu, pemaparan materi disampaikan oleh Amada Nur Nabilah, mahasiswa Program Studi Akuntansi, Semester 6 dan Sabrina Yulia Dwiputri, mahasiswa Program Studi Psikologi, Semester 6.
Amada menjelaskan bahwa bullying tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Menurutnya, perundungan juga dapat terjadi melalui ucapan, tindakan nonverbal, hingga media sosial yang kini sudah akrab dengan kehidupan anak-anak.
“Bullying sering kali dianggap sekadar bercanda. Padahal, perkataan, ejekan, atau tindakan yang membuat teman merasa takut, sedih, dan tidak nyaman juga termasuk bentuk perundungan. Karena itu, kita harus belajar saling menghargai dan berani menghentikan perilaku tersebut,” ujar Amada Nur Nabilah.
Amada menambahkan bahwa pemahaman mengenai berbagai bentuk bullying perlu diberikan sejak usia sekolah dasar, agar anak-anak mampu mengenali tindakan yang berpotensi menyakiti orang lain maupun dirinya sendiri.
“”Sering kali bullying dianggap hanya candaan. Padahal, setiap ucapan atau tindakan yang menyakiti perasaan teman adalah bentuk perundungan yang harus dihentikan,” jelas Amada.

WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel#Materi Diselingi Ice Breaking dan Refleksi Pengalaman Siswa
Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan empat bentuk bullying, yakni verbal, nonverbal, fisik, dan perundungan melalui media sosial. Dampak yang dapat dialami korban antara lain kehilangan rasa percaya diri, menarik diri dari lingkungan pergaulan, mengalami gangguan kecemasan, hingga menurunnya semangat belajar.
Agar suasana kelas tetap hidup, kegiatan diselingi sesi ice breaking, permainan “Udara, Darat, Laut”. Siswa diajak menyebutkan nama hewan sesuai habitat yang disebutkan.
Selain mencairkan suasana, permainan juga melatih konsentrasi para siswa, sekaligus meningkatkan partisipasi siswa selama kegiatan.
Usai permainan, mahasiswa mengajak siswa melakukan refleksi sederhana. Siswa diminta menuliskan perasaan atau pengalaman yang pernah dialami pada secarik kertas tanpa mencantumkan nama. Cara ini dilakukan agar siswa dapat menyampaikan pengalaman secara jujur tanpa merasa takut atau malu.
Mahasiswa kemudian mengajak seluruh siswa menuliskan satu kebaikan yang pernah mereka lakukan pada kertas berbentuk daun. Seluruh daun ditempelkan pada sebuah gambar pohon yang diberi nama “Pohon Kebaikan” sebagai simbol komitmen untuk terus berbuat baik kepada sesama.

#Menanamkan Empati Sejak Dini di Lingkungan Sekolah
Semnetara itu, Sabrina Yulia Dwiputri mengatakan edukasi mengenai bullying perlu dilakukan sejak pendidikan dasar. Karena masa sekolah dasar merupakan periode penting dalam pembentukan karakter anak.
“Kami berharap adik-adik memahami bahwa setiap orang berhak merasa aman di sekolah. Hal sederhana seperti menghargai teman, tidak mengejek, dan berani membantu korban merupakan langkah awal mencegah bullying,” kata Sabrina.
Menurut Sabrina, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai perundungan, tetapi juga menanamkan nilai empati, kepedulian, dan keberanian untuk saling melindungi di lingkungan sekolah.
“Pemahaman tentang bullying sejak dini diharapkan dapat mencegah dampak psikologis seperti kecemasan dan hilangnya rasa percaya diri. Selain itu, siswa juga dapat membangun interaksi sosial yang lebih sehat sehingga proses belajar di sekolah berlangsung lebih nyaman dan optimal,” kata Sabrina.
Melalui edukasi tersebut, mahasiswa KKN Kelompok 43 berharap siswa mampu membedakan antara candaan yang sehat dan tindakan perundungan. Penanaman nilai empati sejak dini dinilai menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
“Selain mencegah dampak psikologis, seperti kecemasan dan hilangnya rasa percaya diri, pemahaman mengenai bullying diharapkan berkontribusi pada terciptanya interaksi sosial yang lebih sehat serta mendukung proses belajar siswa yang lebih kondusif di lingkungan sekolah,” pungkas Sabrina. ***
Daftar Mahasiswa KKN Kelompok 43 Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) Desa Lobuk, Kabupaten Sumenep, Madura.
- Muhammad Ryan Ardiansyah – Program Studi Agribisnis, Semester 6
- Syahdani Hasan – Program Studi Sosiologi, Semester 6
- Fauzin Nasrudin H – Program Studi Teknik Mekatronika, Semester 6
- Istiadati – Program Studi Agribisnis, Semester 6
- Meir Tsabita Rihadatul Aisy – Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Semester 6
- Amada Nur Nabilah – Program Studi Akuntansi, Semester 6
- Safitri Dwi Imelda – Program Studi Agroteknologi, Semester 6
- Nely Nur Aulia Rohmah – Program Studi Sosiologi, Semester 6
- Sabrina Yulia Dwiputri – Program Studi Psikologi, Semester 6
- Fitria Anggi Badriyani – Program Studi Sastra Inggris, Semester 6
- Anisa Kholistiyani – Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Semester 8
- Risal – Program Studi Ilmu Komunikasi, Semester 6
- Rosida Dwi Oktaviana – Program Studi Akuntansi, Semester 6
- Maghfira Rahmadani Hisbulwaton – Program Studi Sistem Informasi, Semester 6
- Ro’yal Dzunnurain Ayundi – Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Semester 6