Lewati ke konten

GP Ansor Lamongan: Dari Doa Bersama sampai Tuntutan Tegas

| 3 menit baca |Sorotan | 13 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Hamim Anwar Editor: Supriyadi

LAMONGAN – Ada yang bilang, Banser itu barisan terdepan di kampung—kadang lebih cepat nongol daripada aparat kalau ada tawuran remaja atau acara hajatan yang butuh penjagaan. Tapi kali ini, justru seorang anggota Banser, sahabat Rida, yang jadi korban penganiayaan. Ironi banget. Kayak satpam komplek yang malah rumahnya kemalingan.

Insiden ini terjadi di Tangerang. Viral di media sosial, ramai dikecam publik, dan menambah panjang daftar tontonan soal kekerasan yang seharusnya sudah masuk kotak “hal-hal basi yang mestinya nggak usah diulang”. Tapi ya namanya manusia, ada saja yang masih hobi menyalakan api di tumpukan jerami.

#Dari Doa Bersama ke Nada Tegas

Di Lamongan, GP Ansor nggak tinggal diam. Mereka menggelar doa bersama untuk sahabat Rida. Namanya juga tradisi: doa itu bukan cuma ritual spiritual, tapi juga simbol. Pesannya jelas: “Kami hadir, Bro.”

Ketua GP Ansor Lamongan, M. Muhlisin, menegaskan hal yang sebenarnya sudah jadi akal sehat semua orang: polisi harus cepat bergerak. Jangan tunggu warganet keburu bikin tagar #TangkapPelakuDuluan.

Menurut Muhlisin, ini bukan sekadar kasus gebuk-gebukan. Kekerasan terhadap Banser adalah tamparan telak bagi nilai yang mereka junjung: menjaga kerukunan, keamanan sosial, sampai ngawal pengajian. Jadi kalau Banser saja bisa dipukul, itu ibarat ada orang nekat meludah di tengah tahlilan—ganggu banget, dan bikin suasana panas.

“Ini aksi solidaritas kami untuk sahabat Rida, kader militan Gerakan Pemuda Ansor yang jadi korban penganiayaan di Tangerang,” ujar Muhlisin, Minggu (28/9/2025).

#Hukum Jangan Main Petak Umpet

Muhlisin juga menekankan: proses hukum harus transparan. Jangan ada yang ditutupi, apalagi melindungi pelaku. Kalau sampai begitu, berarti hukum kita masih hobi main petak umpet—yang dicari nggak ketemu, tapi yang nyari malah capek duluan.

“Polisi harus bergerak cepat menangkap semua pelakunya. Kalau kasus ini dibiarkan, kami khawatir akan terjadi di daerah lain,” tegasnya.

Dan ini penting: kasus kayak gini jangan sampai molor. Kalau dibiarkan berlarut-larut, masyarakat bisa berpikir hukum itu kayak bola futsal—hari ini digiring ke kanan, besok ditendang ke kiri.

#Kekerasan Bukan Alat Mediasi

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Ada satu kalimat Muhlisin yang lumayan nempel: “Ketika ada kader menjadi korban kekerasan, itu alarm bagi kita semua.”

Masalahnya, alarm ini bukan alarm HP yang bisa kita snooze lalu tidur lagi. Kalau didiamkan, kekerasan bisa jadi budaya. Padahal kita semua tahu, kebiasaan buruk kalau sudah jadi budaya, mencabutnya susah banget.

Apalagi ini terjadi di forum pengajian. Tempat yang seharusnya adem, penuh doa, dan jadi ruang mencari berkah. Masa iya, pulangnya malah bawa lebam di wajah?

#Solidaritas, Tapi Tetap Tenang

Meski tegas, Muhlisin juga mengingatkan seluruh kader Ansor dan Banser di Lamongan untuk tetap tenang. Jangan sampai emosi bikin suasana makin panas.

“Solidaritas kita tetap satu barisan. Tapi, sikap kita jelas: hukum harus ditegakkan,” katanya.

Artinya, mereka nggak mau turun ke jalan sambil bawa pentungan. Mereka memilih jalur hukum. Dan kalau dipikir-pikir, itu justru lebih bikin pelaku ketar-ketir. Karena ketika Banser menahan diri, itu tandanya mereka benar-benar serius.

#Dari Tangerang ke Lamongan

Kasus penganiayaan ini jadi pengingat pahit: di tengah masyarakat yang katanya cinta damai, api kecil bisa muncul kapan saja. Untungnya, ada suara tegas dari daerah—termasuk Lamongan—yang ikut menekan agar kasus ini benar-benar dituntaskan.

Karena sekali lagi, Banser bukan sekadar organisasi. Ia simbol keberanian, pengabdian, dan ya… kadang memang jadi tukang parkir kalau acara kampung rame banget. Tapi kalau sampai mereka disakiti, itu bukan cuma urusan internal. Itu tamparan untuk kita semua yang percaya bahwa kekerasan tidak boleh lagi punya panggung di republik ini.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *