Lewati ke konten

Gaji DPRD Bojonegoro: 36 Juta per Bulan, Rakyat Cuma Bisa Ngiler

| 4 menit baca |Sorotan | 23 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Hamim Anwar Editor: Supriyadi

BOJONEGORO – Anggota DPRD Bojonegoro belakangan jadi bahan gibah hangat di warung kopi. Bukan karena ada yang viral bikin konten TikTok sambil sidang, tapi gara-gara slip gajinya tembus Rp 36,4 juta per bulan. Itu pun sudah bersih, lho, alias setelah dipotong sana-sini.

Bayangin, Rp 36,4 juta sebulan. Kalau dibandingkan dengan UMK Bojonegoro yang sekitar Rp 2,4 juta, berarti satu anggota dewan setara 15 pekerja pabrik yang tiap hari ketemu mesin, panas, dan lembur. Lebih gampangnya, satu kursi dewan sama nilainya dengan satu RT penuh yang isinya buruh pabrik semua.

“Kalau dibanding gaji buruh sekitar Rp 2,5 juta, ya jelas jomplang banget. Makanya ini bukan cuma soal angka, tapi soal kepekaan wakil rakyat,” begitu komentar salah satu warga brpakaian sales yang ikut nimbrung sambil ngopi.

Warga lain, Ribut dari Sroyo, malah lebih ketus. “Wong gaji segitu, nek tenan digae mikir rakyat yo ora popo. Tapi sing kelakon seringe mung mikir wetenge dewe. Ngene iki nggawe ati jengkel, rasane arep tak wedalno poster nang warung, tak ganteni daftar utang warung kopi,” ujarnya sambil manyun.

#Tunjangan Berasa “All You Can Eat”

Kalau kita kulik lebih dalam, gaji dewan itu bukan sekadar angka tunggal, tapi tumpukan tunjangan yang bikin mata warga berkedip-kedip. Ada tunjangan representasi Rp 1,5 juta, tunjangan khusus Rp 2,2 juta, komunikasi intensif Rp 14,7 juta (komunikasi sama siapa, ya?), perumahan Rp 12 juta, plus transportasi Rp 10 juta.

Lha wong gaji pokoknya aja kalah pamor sama tunjangan. Boro-boro komunikasi intensif, rakyat komunikasi sama BPJS aja sering putus nyambung.

“Ngopo akeh menune ngono, sing mangan mung siji. Wong cilik koyo aku yo mung bisa nyruput wedang jahe tok, ora iso milih paket lengkap,” kelakar Ribut, warga Sroyo, yang ikut nimbrung obrolan warung kopi.

Belum selesai, masih ada tunjangan keluarga Rp 220 ribu, jabatan Rp 289 ribu, beras Rp 157 ribu, komisi Rp 91 ribu, badan anggaran Rp 91 ribu, jaminan kesehatan Rp 194 ribu, jaminan kematian Rp 11 ribu, sampai tunjangan badan pembentukan perda Rp 152 ribu.

Kalau dibaca satu-satu, kayak lagi buka menu angkringan, lengkap banget dari nasi kucing sampai sate usus. Bedanya, kalau angkringan bikin perut kenyang, tunjangan ini bikin dompet makin gendut.

#Klaim: “Tetangga Lebih Tinggi”

Menariknya, salah satu anggota dewan yang nggak mau disebut namanya (biar nggak dikejar netizen) bilang, angka Rp 36 juta itu sebenarnya rendah dibanding kabupaten/kota sekitar. Jadi kalau dibanding tetangga, mereka masih “miskin” katanya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Pernyataan ini mirip kayak orang pamer motor Beat tapi bilang minder karena tetangga punya NMAX. Padahal, rakyatnya masih ada yang jalan kaki ke sawah.

Jiono, warga Sroyo yang lain, cuma geleng-geleng kepala. “Lha, wong gaji Rp 36 juta kok isih ngaku miskin. Nek aku sing gajiane Rp 80 ribu saben dina iki berarti opo? Mlarat turunan? Wes koyo guyonan sing ora lucu, mas,” ucapnya sambil nyulut rokok lintingannya.

#Realita Warga: Gaji vs Janji

Di tengah kabar fantastis itu, rakyat Bojonegoro masih sering ketemu jalan bolong, puskesmas antri panjang, sampai sekolah bocor pas hujan. Ironis memang, gaji DPRD bisa untuk beli motor baru tiap bulan, sementara warga masih harus patungan aspal jalan gang.

Tapi ya begitulah politik lokal: dewan bilang kerja keras bikin perda, rakyat bilang kerja keras cari beras. Dua-duanya sibuk, tapi hasilnya beda jauh.

Kalau ditanya, apakah gaji Rp 36 juta itu pantas? Jawabannya bisa macam-macam. Bagi dewan: “itu wajar, tanggung jawab besar.” Bagi rakyat: “wajar? wong kita bayar pajak, kok yang kenyang malah sampeyan.”

#Kenyang di Atas, Puasa di Bawah

Gaji DPRD Bojonegoro ini jadi cermin ketimpangan klasik. Yang di atas kenyang, yang di bawah masih sering puasa pembangunan. Rasanya mirip kayak pesta tumpengan, tapi rakyat kebagian daun pisangnya saja.

Dan jangan lupa, setiap kali lihat baliho anggota dewan senyum manis sambil janji “untuk rakyat”, bayangkan slip gaji Rp 36 juta itu. Karena senyum manisnya bukan cuma untuk kamera, tapi juga untuk ATM tiap awal bulan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *