Lewati ke konten

DLH Jombang Ngebut Bangun TPS3R: Tapi, Siapa yang Akan Mengelola Setelah Pita Peresmian Dipotong?

| 3 menit baca |Sorotan | 14 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Denny Saputra Editor: Supriyadi

DINAS Lingkungan Hidup (DLH) Jombang sedang gaspol. Empat titik Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) sedang dikebut pembangunannya. Hingga pertengahan Oktober, progres fisiknya sudah mencapai 60–80 persen. Targetnya? Rampung awal Desember 2025.

Kepala DLH Jombang, Miftahul Ulum, menyebut pembangunan di Desa Tanjunggunung, Kecamatan Peterongan, jadi yang paling cepat, 80,46 persen. “Lebih cepat karena sumber anggarannya dari APBD. Sudah masuk termin ketiga, jadi prosesnya lebih lancar,” ujarnya.

Sementara tiga lokasi lain, Desa Pucangsimo (Bandarkedungmulyo), Desa Keboan (Ngusikan), dan Desa Cukir (Diwek), masih berjuang di angka 60-an persen. Maklum, ketiganya dibiayai Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik dari pusat. Dana cairnya masih “ngantre di sistem”, menunggu termin ketiga.

Kalau dijumlah, tiga proyek DAK itu menyedot Rp 1,8 miliar, sementara Tanjunggunung yang dibiayai APBD menghabiskan Rp 460 juta. Ulum menargetkan semuanya rampung paling lambat akhir Desember. “Harapannya November–Desember sudah bisa dilakukan pendampingan, sekaligus operasional awal,” ujarnya penuh optimisme.

#Infrastruktur Boleh Jadi, Tapi Sampah Tak Akan Hilang Sendiri

Pembangunan TPS3R adalah kabar baik. Tapi, seperti kata Ulum sendiri, “kunci pengelolaan sampah bukan hanya sarana.” Betul. Karena seindah apa pun bangunan TPS3R, kalau masyarakat masih menganggap membuang sampah sembarangan itu “biasa”, ya hasilnya nihil.

Bayangkan, kita bikin TPS3R Rp 600 juta, tapi di rumah masih malas memilah organik dan anorganik. Kita bangun tempat daur ulang megah, tapi plastik sachet masih numpuk di Sungai Avur, Sungai Gunting, Sungai Mojoranu, maupun Sungai Ngotok Ring Kanal Madiopuran.

Tentu ini sama saja seperti beli mesin cuci mahal, tapi tetap cuci baju pakai tangan, karena “nggak biasa pakai tombol.”

Masalah sampah bukan di tong atau truknya, tapi di kesadaran sosial. Dan itu tidak bisa dibangun dalam satu proyek, apalagi satu tahun anggaran.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Tahapan dan Target Pekerjaan TPS3R 2025

  • Termin ke-2 (DAK): sedang proses pencairan pada Oktober 2025.
  • Termin ke-3 (DAK): dijadwalkan pada minggu ke-4 Oktober 2025.
  • Target selesai pembangunan: awal Desember 2025.
  • Pendampingan dan operasional awal: November–Desember 2025.
  • Target tuntas maksimal: akhir Desember 2025.

#Ketika TPS3R Jadi Proyek, Bukan Gerakan

“Reduce, Reuse, Recycle” Bisa Jadi “Rencana, Resmi, Runtuh”?

“Kalau melihat pola lama, proyek seperti ini sering berhenti di papan nama dan potongan pita,” ujar Afrianto Rahmawan, Koordinator Brantas Mbois, komunitas yang selama ini lantang mengkritisi persoalan sampah dan limbah di DAS Brantas.
Ia menambahkan dengan nada setengah bercanda, setengah serius, “Jangan sampai kejadian lagi. DLH Jombang harus benar-benar belajar dari pengalaman.”

Ucapan Afrianto bukan tanpa alasan. Banyak proyek pengelolaan sampah yang semangatnya tinggi di awal, tapi redup setelah seremoni. Setelah diresmikan, tinggal tunggu waktu: mesin rusak, operatornya pindah, warga lupa memilah, lalu TPS3R berubah jadi TPA mini, penuh, bau, dan tak lagi berfungsi.

Pertanyaannya, apakah DLH Jombang kali ini bisa memutus rantai nasib serupa? Apakah pembangunan TPS3R disertai pendampingan sosial, pelatihan warga, dan rencana eberlanjutan operasional yang nyata? Atau, jangan-jangan, begitu selesai Desember nanti, TPS3R hanya jadi spot foto peresmian yang bagus untuk unggahan website DLH?

Sampah tidak menunggu seremoni. Ia menumpuk setiap hari, bahkan di depan rumah kita sendiri.

Maka, semoga pembangunan TPS3R bukan sekadar lomba menyelesaikan proyek, tapi juga awal dari gerakan panjang untuk mengubah budaya buang—dari “tanggung jawab pemerintah” menjadi “kesadaran bersama.”***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *