Lewati ke konten

Tiga Nama Berebut Kursi Sekda Bojonegoro, Saat Kopi dan Bisik Kencang di Ujung Oktober

| 2 menit baca |Sorotan | 15 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Hamim Anwar Editor: Marga Bagus

KURSI Sekretaris Daerah (Sekda) Bojonegoro akhirnya masuk babak akhir. Dari empat nama yang ikut seleksi terbuka, cuma tiga yang berhasil menembus tahap final dan direkomendasikan resmi oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN). Mereka adalah Edi Susanto (Sekwan DPRD Bojonegoro), Eka Atikah (Sekwan DPRD Kota Blitar), dan Sukaemi (Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan).

Satu nama yang tereliminasi, Mahmudi, Kepala Bakesbangpol Bojonegoro, harus rela keluar dari gelanggang di detik akhir. Kepala BKPP Bojonegoro, Hari Kristianto, menegaskan bahwa hasil itu sudah sah dan resmi dari BKN. “Tiga nama yang lolos ini merupakan hasil rekomendasi dari BKN,” ujarnya, Kamis (23/10/2025).

#Kursi Panas Sekda: Dari Plt ke Definitif

Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, kini memegang kunci. Ia harus memilih satu dari tiga nama itu untuk menjadi Sekda definitif. Menurut jadwal, keputusan akan diumumkan akhir Oktober 2025.

Posisi Sekda Bojonegoro sendiri sudah lama kosong sejak September 2024, setelah Nurul Azizah mundur untuk maju di Pilkada. Sejak itu, jabatan vital yang juga merangkap Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) ini diisi secara bergantian oleh para pelaksana tugas (Plt) dan penjabat sementara (Pj), mulai dari Djoko Lukito, Andik Sudjarwo, hingga kini dijabat Plt Kusnanda Tjatur.

Kursi Sekda memang bukan sembarang kursi. Ia bukan cuma simbol birokrasi, tapi juga “pintu rahasia” yang menghubungkan teknis dan politik. Maka wajar kalau tiap pergantian, aroma perebutannya selalu terasa.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Siapa yang Akan Menang, Siapa yang Akan Mengingat

Di luar daftar resmi dan rekomendasi BKN, publik tentu punya versi “pemantauan” sendiri. Ada yang menilai Edi lebih matang, ada yang bilang Eka lebih segar, ada pula yang menilai Sukaemi lebih berpengalaman. Tapi, pada akhirnya, pilihan tetap di tangan Bupati. Dan mungkin sedikit di tangan “politik angin” yang bertiup dari berbagai arah.

Yang jelas, siapa pun yang terpilih, PR-nya sudah menumpuk di meja, mulai dari memperkuat koordinasi OPD, mempercepat serapan anggaran, sampai menambal kepercayaan publik yang makin cerewet tapi juga makin melek birokrasi.

Bojonegoro sedang menunggu, bukan hanya siapa yang duduk di kursi Sekda, tapi juga siapa yang masih bisa berdiri tegak setelahnya.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *