Lewati ke konten

Hutan Tua Hilang, Banjir Bandang Melanda Pulau Sumatra: Penanda Nyata Kerusakan Ekosistem Hulu

| 6 menit baca |Ekologis | 27 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus
Terverifikasi Bukti

Banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa pekan terakhir bukan sekadar peristiwa alam, melainkan pertanda betapa keras tentang hilangnya penopang kehidupan, yaitu hutan tua. Ketika tegakan berumur ratusan tahun itu musnah, lenyap pula kekuatan alam yang seharusnya menjaga tanah, air, dan manusia.

#Hutan Tua: Penjaga Sunyi yang Selalu Bekerja untuk Kita

Usia sebuah hutan tidak hanya diukur dari umur pohon, tetapi juga dari kisah panjang interaksi antara tanah, air, mikroorganisme, dan gangguan alam yang disembuhkan secara perlahan.

Semakin tua sebuah hutan, semakin komplek pula tatanan ekologinya – dan semakin besar manfaatnya bagi kehidupan manusia. Itulah sebabnya dunia menetapkan hari-hari penting seperti Hari Hutan Internasional, 21 Maret dan Hari Menanam Pohon, 21 November.

Peringatan itu bukan apa-apa, tetapi sebagai pengingat bahwa keberadaan pohon tua bukanlah sesuatu yang bisa diganti dalam hitungan tahun.

Dracontomelon mangiferum, raksasa hutan setinggi 40–50 meter, menjadi penghuni utama Hutan Ranjuri yang berdiri di tengah permukiman Desa Beka, Kecamatan Marawola Barat, Sigi, Sulawesi Tengah. Sabuk hijau ini membentengi Dusun II dan III, menjadi pelindung alami saat gempa besar dan banjir bandang 26 Maret 2021. | Foto: Minnie Rivai/Mongabay Indonesia

Namun, keberadaan hutan tua jauh lebih rumit daripada sekadar kalender peringatan. Di Indonesia, pohon masih sering dipandang hanya sebagai batang kayu.

Dalam review “Old-growth forests as global carbon sinks”, ditemukan bahwa hutan tua (usia 15–800 tahun) sering memiliki produktivitas bersih (net ecosystem productivity) positif. Artinya mereka tetap menyerap CO₂ dari atmosfer dan menyimpannya dalam kayu hidup, kayu mati, litter, dan tanah.

Sementara di banyak negara hari menanam pohon berbeda-beda, usia hutan tetap satu, panjang, lambat, dan penuh nilai. Di sinilah peran hutan tua tak tergantikan. Sayangnya, justru hutan-hutan seperti ini yang kini tersisa paling sedikit.

#Ketika Tegakan Tua Hilang, Tanah Kehilangan Penopangnya

Banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang menyeret kayu gelondongan, lumpur pekat, hingga bongkahan batu besar membuat banyak orang bergidik. Peristiwa itu menunjukkan bahwa bencana tersebut bukan hanya soal air, melainkan potret runtuhnya hutan dari tempat hutan seharusnya berdiri.

Hutan tua, yang semestinya menjadi benteng alami, memiliki peran kompleks dalam menahan air, menyimpan karbon, dan menjaga kelembapan tanah. Di dalamnya hidup pohon lintas generasi, mulai dari anakan, pohon dewasa, hingga pohon lapuk dan batang-batang mati yang masih berdiri.

Struktur berlapis inilah yang bekerja seperti spons raksasa, menyerap air berlebih dan memperlambat alirannya ke hilir.

Catatan Greenpeace, tutupan hutan alam di Pulau Sumatra kini tinggal sekitar 11,6 juta hektare atau 24,4% dari total. Artinya, lebih dari tiga perempat hutan alam telah hilang akibat deforestasi besar-besaran.

Para pakar sejak lama mengingatkan korelasi kuat antara deforestasi – alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit, HTI, tambang – dengan meningkatnya risiko banjir dan longsor.

Di banyak hulu daerah aliran sungai (DAS) di Sumatra, kerusakan hutan menyebabkan sistem penyerapan air alami runtuh. Ketika hujan lebat turun, air tak lagi meresap perlahan, melainkan langsung meluncur deras ke lembah dan permukiman, memicu banjir bandang.

Kerusakan tata air ini juga berdampak pada lahan gambut dan wilayah basah. Berbagai laporan menunjukkan lahan gambut di Indonesia makin rentan terhadap banjir karena degradasi, memperburuk risiko bencana hidrometeorologi.

Peristiwa banjir bandang, menegaskan bahwa kerusakan hulu DAS adalah faktor penting yang tak bisa diabaikan. Curah hujan memang tinggi, tetapi kondisi hutan yang rusak mempercepat dan memperparah dampaknya.

Pemerintah pun mulai menanggapinya. Kementerian Kehutanan dan lembaga terkait menyebut bencana ini sebagai momentum untuk mengevaluasi ulang tata kelola hutan dan lingkungan hidup, terutama di kawasan hulu.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Lebih ironis lagi, hutan tua sering dianggap “tidak produktif”. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa hutan tua tetap menyimpan karbon secara stabil selama ratusan hingga enam ratus tahun. Mereka bukan beban, melainkan benteng terakhir yang menjaga iklim dan siklus air.

#Ekosistem Tua, Ekosistem Jenius yang Tak Bisa Direplikasi

Hutan-hutan yang telah melewati perjalanan panjang – dari fase inisiasi tegakan, eksklusi batang, tumbuhnya kembali vegetasi bawah, hingga mencapai tahap hutan tua – menyimpan dinamika biologis yang mustahil ditiru oleh hutan tanaman industri.

Di dalamnya, hidup simbiosis yang kompleks, jamur, invertebrata, mamalia kecil, burung, hingga jutaan mikroorganisme yang tak terlihat mata.

Di hutan tua, setiap elemen memiliki peran. Pohon mati yang masih berdiri menjadi rumah bagi burung. Batang lapuk di lantai hutan menjadi tempat tumbuh jamur dan sarang bagi berbagai serangga. Bahkan bukaan kanopi akibat pohon tumbang bukanlah kerusakan, melainkan peluang regenerasi bagi spesies yang mampu tumbuh dalam naungan.

Seluruh proses ini membangun sebuah keseimbangan ekologis yang halus, cerdas, dan terbentuk oleh waktu yang sangat panjang.

Itulah sebabnya ketika banjir bandang terjadi, kerugian yang muncul bukan hanya rumah warga dan jembatan yang hanyut. Yang hilang sebenarnya adalah struktur ekologis berusia ratusan tahun – fondasi alami yang selama ini mengatur aliran air jauh lebih baik daripada teknologi apa pun yang dibuat manusia.

Air yang mengalir dari hulu sungai tidak semata bergantung pada curah hujan atau jenis tanah, tetapi sangat ditentukan oleh usia pohon yang berdiri di sekitarnya. Pemahaman mengenai penyerapan air di kawasan hulu menunjukkan betapa besar perbedaan kapasitas pohon dalam menyimpan air seiring bertambahnya usia.

Perbedaan antara hutan primer dan hutan sekunder (atau hasil restorasi / monokultur) bukan sekadar usia, tapi juga keragaman spesies dan struktur hutan. Hutan alami cenderung lebih kaya keanekaragaman hayati, tanah yang lebih subur, dan struktur ekologis lebih stabil dibanding hutan hasil penanaman intensif.

Pohon muda berumur 0–10 tahun masih memiliki akar dangkal dan menyerap hanya sekitar 10 persen air, sehingga kontribusinya terhadap stabilitas tanah terbatas. Memasuki usia remaja, 10–30 tahun, akar mulai berkembang dan daya serap meningkat menjadi sekitar 40 persen.

Pada fase dewasa, usia 30–60 tahun, pohon berfungsi sebagai spons alami yang mampu menahan aliran permukaan dan mencegah erosi, dengan kemampuan penyerapan mencapai 70 persen.

Namun peran paling krusial justru dipegang oleh pohon berusia lebih dari 60 tahun—pohon tua yang memiliki jaringan akar kuat, dalam, dan stabil. Mereka mampu menyerap lebih dari 90 persen air hujan, sekaligus menjaga kestabilan air tanah dan mencegah limpasan ekstrem yang sering menjadi awal bencana banjir bandang.

Kesimpulannya jelas, semakin tua pohon, semakin vital perannya sebagai penjaga hulu dan penyangga ekosistem. Dalam usia pohon, terkandung kematangan ekologis yang melindungi kehidupan di bawahnya dan yang tidak bisa digantikan oleh hutan muda atau hutan tanaman cepat tumbuh. Usia bukan sekadar angka; bagi pohon, usia adalah kemampuan menjaga bumi.***

Referensi: 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *