- Delegasi Uni Emirat Arab mempelajari pengelolaan sampah sungai bersama warga Surabaya.
- Kampung Zero Waste memperlihatkan pengurangan sampah dimulai dari rumah tangga.
- Ecoton mengungkap popok sekali pakai masih mendominasi sampah yang diangkut dari sungai.
- Kunjungan membuka ruang pertukaran pengalaman pengelolaan sungai antarnegara.
- Pengendalian plastik memerlukan keterlibatan masyarakat sejak sumber sampah.
DELEGASI Clean Rivers, organisasi nirlaba internasional yang bergerak di bidang pemulihan sungai, mengunjungi sejumlah lokasi pelaksanaan Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution (#SungaiLestari) di sepanjang Kali Tebu Surabaya. Rombongan melihat langsung cara warga mengurangi sampah rumah tangga agar tidak berakhir di sungai.
Kunjungan diikuti perwakilan Kementerian Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup Uni Emirat Arab, Clean Rivers, dan Emirates Foundation. Mereka berdialog dengan warga, meninjau sistem pemilahan sampah, serta mengamati kegiatan pengelolaan di Kampung Zero Waste.
Direktur Ecoton Daru Setyorini menjelaskan persoalan sampah sungai tidak akan selesai apabila penanganannya hanya dilakukan di hilir. Menurutnya, perubahan harus dimulai dari rumah tangga melalui pengurangan timbulan sampah, pemilahan sejak sumber, dan pengolahan di lingkungan tempat tinggal.
“Kami mencari penyelesaian bersama masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan sungai. Sistem Zero Waste memperkuat kelembagaan warga agar pengelolaan sampah dimulai dari sumber dan sebagian besar dapat diselesaikan di tingkat rumah,” kata Daru saat memberikan keterangannya di sela-sela kunjungan, Ahad (2/8/2026).
Daru juga menyebut perubahan tidak dimulai dari pembangunan fasilitas baru, melainkan dari penguatan organisasi warga. Karena itu, ia mengatakan Ecoton mengembangkan Zero Waste Network, sebuah model yang menempatkan masyarakat sebagai pengelola utama sistem persampahan di lingkungannya.
“Yang kami bangun pertama adalah kelembagaan masyarakat. Setelah itu, warga menjalankan sistem pengelolaan sampah dari sumbernya dengan mengutamakan pengurangan timbulan sampah. Sampah yang dihasilkan diupayakan selesai dikelola di tingkat rumah tangga,” jelas Daru.

#Belajar dari Kampung Zero Waste
Selama kunjungannya, delegasi menghabiskan waktu cukup lama berdiskusi dengan pengelola kampung. Mereka menanyakan cara warga membangun kesadaran bersama, membagi peran, hingga menjaga kegiatan tetap berjalan meski tanpa pengawasan setiap hari.
Bagi Ecoton, keberhasilan pengelolaan sampah tidak ditentukan oleh banyaknya armada pengangkut. Hasilnya lebih bergantung pada kebiasaan warga mengurangi sampah sejak dari rumah.
Sistem itu membuat sampah organik diolah di lingkungan sendiri, sedangkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dipilah sebelum dikirim ke bank sampah atau pengepul. Volume sampah yang masuk ke sungai pun berkurang.

#Popok Masih Mendominasi Sampah Sungai
Pendiri Ecoton Prigi Arisandi yang ikut serta di kegiatan kunjungan, mengajak delegasi melihat kondisi Kali Tebu. Ia menjelaskan hasil pemantauan menunjukkan 60–80 persen sampah yang diangkut dari sungai berupa popok bayi sekali pakai.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel“Karena mereka tidak sepatutnya menggunakan pakaian plastik. Karena pakaian plastik ini akan mengganggu kesehatan hormonal mereka dan juga kesehatan mereka di masa depan,” kata Prigi.
Menurut Prigi, temuan itu menggambarkan persoalan yang masih dihadapi banyak kawasan permukiman. Popok sekali pakai masih sering dibuang bersama sampah lain hingga akhirnya terbawa aliran sungai.
“Popok sekali pakai masih kerap dibuang begitu saja bersama sampah domestik. Akibatnya, limbah itu berakhir di sungai dan mencemari perairan,” ujar Prigi.
Ia juga mengungkap hasil penelitian Ecoton mengenai pencemaran mikroplastik. Penelitian menemukan gangguan pada ikan di Sungai Surabaya, termasuk ketidakseimbangan rasio jenis kelamin dan ditemukannya ikan interseks di beberapa lokasi pengamatan.
“Mari kurangi penggunaan plastik sekali pakai. Saya ingin mengingatkan bahwa sungai adalah sumber kehidupan. Sungai adalah rumah bagi keanekaragaman hayati, bukan tempat membuang sampah. Berhentilah mencemari tanah dan sungai di Indonesia dengan sampah dan mikroplastik karena kita tidak ingin mewariskan pencemaran itu kepada generasi berikutnya,” ujar Prigi.

#Berbagi Pengalaman Pengelolaan Sungai
Tampak Associate Director Programmes and Impact Clean Rivers Reinier van der Lely bersama anggota delegasi lain beberapa kali berdiskusi dengan pengelola kampung. Mereka menanyakan cara melibatkan warga, menjaga partisipasi, hingga mempertahankan kegiatan dalam jangka panjang.
Kunjungan itu juga diikuti Ahlam Abdulmuhsen Abdulla Ahmed Almannaei dari Kementerian Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup Uni Emirat Arab, Aza Wee Sile, Maryam Al Memari, Wadha Al Mazrouei, serta Hassan Ali Abdulla dari Emirates Foundation.
Bagi Clean Rivers, pengalaman warga Surabaya memperlihatkan bahwa pengelolaan sungai dapat tumbuh dari lingkungan permukiman. Kebiasaan memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan mengolah sampah organik ikut menentukan kualitas Kali Tebu.***