Lewati ke konten

Aktivis Australia Tuding Bank Besar Biayai Deforestasi yang Membuat Banjir Parah di Sumatra

| 4 menit baca |Sorotan | 22 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Jaringan aktivis Melbourne Bergerak menuding bank-bank besar Australia membiayai industri sawit yang mempercepat deforestasi dan memperparah banjir ekstrem di sejumlah wilayah Sumatra.

#Banjir Disebut Bukan Sekadar Bencana Alam

Jaringan aktivis lingkungan yang berbasis di Australia, Melbourne Bergerak, menuding keterlibatan bank-bank besar Australia dalam pembiayaan industri sawit sebagai salah satu faktor utama yang memperparah banjir ekstrem di Pulau Sumatra. Tuduhan tersebut disampaikan melalui rangkaian infografis yang diunggah di akun Instagram mereka.

Dalam unggahan bertajuk Australian Banks are Drowning Sumatra dan “The Commonwealth Bank is Drowning Sumatra”, Melbourne Bergerak menegaskan bahwa banjir besar yang melanda Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh bukan semata-mata bencana alam. Menurut mereka, banjir itu merupakan bencana yang dipicu oleh aktivitas manusia, terutama deforestasi dan krisis iklim global.

“Banjir ini bukan musibah yang datang begitu saja. Ia adalah hasil dari keputusan ekonomi dan politik yang mengorbankan hutan serta keselamatan manusia,” ujar seorang aktivis Melbourne Bergerak dalam simulasi kutipan yang disertakan dalam infografis tersebut.

Melbourne Bergerak mengaitkan intensitas hujan monsun yang semakin ekstrem dengan pemanasan global. Kondisi ini diperburuk oleh hilangnya tutupan hutan selama puluhan tahun akibat ekspansi industri ekstraktif.

Warga bertahan di lokasi pengungsian pascabanjir bandang yang melanda Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Aceh, Selasa (9/12/2025). Banjir memaksa ratusan warga meninggalkan rumah dan aktivitas sehari-hari. | Foto: ANTARA/Bayu Pratama S via BBC Indonesia

#Dampak Sosial dan Lingkungan yang Meluas

Dalam infografisnya, Melbourne Bergerak merinci dampak banjir yang dinilai telah melumpuhkan kehidupan masyarakat. Banjir dilaporkan memutus akses jalan utama, merendam ribuan rumah warga, serta mengancam situs-situs warisan budaya. Selain itu, pasokan medis terganggu, jaringan komunikasi terputus, dan akses terhadap pangan serta air bersih menjadi semakin terbatas.

Sektor pertanian juga mengalami dampak signifikan. Panen padi di sejumlah wilayah gagal akibat sawah terendam dalam waktu lama. Kondisi tersebut dinilai memperbesar risiko krisis pangan di tingkat lokal.

Melbourne Bergerak mengklaim lebih dari 900.000 orang terpaksa mengungsi akibat banjir tersebut. Korban meninggal disebut mencapai lebih dari 1.000 orang, sementara ratusan lainnya masih dinyatakan hilang dan ribuan mengalami luka-luka.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Mereka menekankan bahwa deforestasi besar-besaran oleh industri minyak sawit, bubur kayu, dan pertambangan telah menghilangkan fungsi hutan sebagai penyerap alami air hujan. Situasi itu, menurut mereka, semakin diperparah oleh cuaca ekstrem yang dipicu fenomena langka berupa Siklon Senyar.

“Hutan yang hilang berarti hilangnya perlindungan alami bagi masyarakat. Ketika hujan ekstrem datang, bencana menjadi tak terelakkan,” kata aktivis tersebut.

Seorang warga korban bencana banjir berada di posko pengungsian Gedung BLK Blang Kejeren, Desa Lempuh, Kecamatan Blang Kejeren, Gayo Lues, Aceh, Minggu (21/12/2025). Warga mengandalkan bantuan logistik sambil menunggu kondisi berangsur pulih. | Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas via BBC Indonesia

#Bank Australia Disorot, Tuntutan Divestasi Menguat

Dalam slide lanjutan, Melbourne Bergerak secara terbuka menyebut empat bank besar Australia – Westpac, ANZ, National Australia Bank (NAB), dan Commonwealth Bank – sebagai lembaga keuangan yang dituding mendanai perkebunan sawit di Indonesia. Commonwealth Bank secara khusus disebut memiliki hubungan pendanaan dengan Wilmar International dan Astra Agro Lestari.

Infografis itu juga mengutip laporan Rainforest Action Network yang menyebut Wilmar memperoleh pasokan sawit dari perusahaan yang dituding terlibat deforestasi ilegal, termasuk di kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil, Aceh. Kawasan tersebut dikenal sebagai habitat penting bagi orangutan, gajah, badak, dan harimau Sumatra.

Melbourne Bergerak turut mengaitkan krisis banjir di Indonesia dengan kebakaran hutan besar di Australia pada 2019–2020. Menurut mereka, kedua negara berada dalam sistem iklim regional yang sama, seperti Indian Ocean Dipole serta siklus La Niña–El Niño, yang kini semakin tidak stabil akibat pemanasan global.

Sebagai respons, Melbourne Bergerak mendesak bank-bank besar Australia melakukan divestasi dari perusahaan sawit dan perkebunan yang merusak lingkungan. Mereka juga meminta pemerintah Australia mengirimkan bantuan kemanusiaan dan mendesak pemerintah Indonesia membuka akses bagi bantuan internasional.

“Dibutuhkan solidaritas lintas negara untuk menghadapi krisis iklim yang saling terhubung ini,” tulis Melbourne Bergerak. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari bank-bank yang disebutkan terkait tudingan tersebut.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *