Lewati ke konten

Ngintir Kali Surabaya, AKAMSi: Sungai Masih Bisa Dipulihkan

| 4 menit baca |Sorotan | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus

Etape ketiga Ngintir Kali Surabaya menemukan ratusan bangunan bantaran dan timbulan sampah di kawasan padat menuju Surabaya kota.

Tim Ngintir Kali Surabaya menemukan kepadatan bangunan bantaran dan timbulan sampah dalam etape ketiga penyusuran sungai dari kawasan Bambe, Driyorejo, Gresik hingga Karangpilang, Surabaya. Temuan itu memperlihatkan tekanan kawasan urban terhadap kondisi ekologis sungai yang menjadi sumber air baku masyarakat hilir.

Penyusuran sejauh sekitar 16 kilometer, dimulai pukul 14.00 – 16.35 wib, melibatkan relawan lingkungan Heri Purnomo, Ketua Aliansi Komunitas Penyelamat Bantaran Sungai (AKAMSi) Blak Alan, Kepala Bidang Biro Pengaduan Environmental Sovereignty Goal (ESC), yang juga anggota AKAMSi Jofan Ahmad Arianto, pendiri Ecoton Prigi Arisandi, dan jurnalis media ini, Supriyadi.

Sepanjang jalur penyusuran, tim mendapati permukiman semakin padat saat memasuki kawasan mendekati Kota Surabaya. Sejumlah bangunan terlihat berdiri sangat dekat dengan bibir sungai tanpa jarak sempadan memadai.

Tim Ngintir Kali Surabaya menyusuri aliran sungai saat etape ketiga dari kawasan Bambe, Driyorejo menuju Karangpilang, Surabaya, Senin (1/6/2026). Penyusuran dilakukan untuk mendokumentasikan kondisi bantaran, timbulan sampah, serta kepadatan bangunan di sepanjang Kali Surabaya. | Dok Tim

#Ratusan Bangunan Berdiri di Bantaran

Di sisi kanan aliran sungai yang masuk wilayah Desa Krembangan dan Tawangsari, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, tim mencatat sekitar 280 bangunan berdiri di bantaran sungai. Bangunan terdiri dari rumah warga, rumah ibadah, hingga tempat usaha kecil dan menengah.

“Tercatat sekitar 280 bangunan di sepanjang bantaran kanan yang masuk wilayah Kabupaten Sidoarjo,” kata Heri Purnomo saat penyusuran, Senin (1/6/2026).

Selain kepadatan bangunan, tim juga menemukan timbulan sampah di hampir setiap segmen sungai. “Sedikitnya terdapat 102 titik timbulan sampah kategori kecil, sedang, hingga besar, ‘ sebut Heri.

Jenis sampah yang ditemukan didominasi plastik rumah tangga, styrofoam, kayu bercampur limbah domestik, dan material lain yang tersangkut di vegetasi bantaran. Pada sejumlah titik, sampah terlihat menumpuk di sela bambu dan akar pohon.

Supriyadi, salah satu tim Ngintir Kali Surabaya, menunjuk bangunan yang berdiri sangat dekat dengan bibir sungai saat etape ketiga penyusuran di kawasan menuju Karangpilang, Surabaya, Senin (1/6/2026). Tim mencatat kepadatan bangunan bantaran masih menjadi persoalan serius di sepanjang aliran Kali Surabaya. | Dok Tim

Selain itu juga, pabrik-pabrik masih gemar membuang limbahnya di Kali Surabaya. “Mungkin saja baru saja musim Idul Kurban. Bau aliran sungai lebih didomiasi bau dari hasil pencucian daging. Dan banyak juga ditemukan organ sembelihan tersangkut di beberapa tempat, “ jelas Heri.

Kondisi tak jauh beda juga ditemukan di sisi kiri sungai sepanjang jalur, Bambe hingga kawasan PDAM Surya Sembada Surabaya di Karangpilang. “Kami mencatat bangunan padat yang berdiri di tepi aliran sungai, “ ucap Jofan.

Dalam pendataan penyusuran, lanjut Jofan, sekitar 214 bangunan di sisi kiri sungai. “Dari kawasan PDAM Surya Sembada Surabaya, hingga titik akhir penyusuran yang berjarak sekitar 6-8 kilometer, tim masih menemukan sekitar 152 bangunan lain berdiri rapat di tepian sungai, “ kata Jofan.

Selanjutnya Jofan juga menyebutkan,  tim mencatat timbulan sampah dalam jumlah besar di sisi kiri sungai. Berdasarkan pendataan, terdapat 68 titik timbulan sampah kategori kecil, 43 kategori sedang, dan 15 kategori besar.

“Kondisinya hampir sama dengan etape sebelumnya. Semakin masuk kawasan padat penduduk, tekanan terhadap sungai makin tinggi,” kata Jofan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel
Jofan Ahmad Arianto duduk di dekat timbunan sampah di bibir Kali Surabaya saat etape ketiga penyusuran sungai menuju Karangpilang, Surabaya, Senin (1/6/2026). Tim Ngintir menemukan sampah domestik masih mendominasi bantaran sungai di kawasan padat permukiman. | Dok Tim

Menurut Jofan, pola pencemaran di kawasan perkotaan menunjukkan hubungan erat antara kepadatan permukiman dan lemahnya pengelolaan limbah domestik. Ia menduga sebagian sampah berasal langsung dari aktivitas rumah tangga di bantaran sungai.

“Dan ini perlu diperhatikan. Perlu adanya pengelolaan sampah,” tandas Jofan.

#Sungai Masih Bisa Dipulihkan

Sementara itu, Ketua AKAMSi Blak Alan melihat, Kali Surabaya masih memiliki peluang dipulihkan sebagai kawasan wisata sungai maupun ruang edukasi lingkungan. Namun, menurut dia, pemulihan sulit dilakukan jika bantaran terus dipadati bangunan dan sungai tetap menjadi tempat pembuangan limbah domestik.

“Jadi pemikiran warga soal dekat dengan sungai itu bukan berarti ada kelonggaran mendirikan bangunan di bantaran atau bibir sungai,” kata Alan.

Alan mengatakan kedekatan masyarakat dengan sungai seharusnya diwujudkan melalui upaya menjaga kualitas lingkungan sungai. Menurut dia, kesadaran itu penting karena Kali Surabaya menjadi sumber air baku bagi jutaan warga di wilayah hilir.

“Dekat dengan sungai itu maksud kami menjaga sungai supaya jangan dicemari, baik limbah domestik mamupun pabrik, ” ujarnya.

Ia menambahkan, pencemaran yang berlangsung terus-menerus berdampak terhadap kualitas lingkungan bantaran sungai. Timbulan sampah tidak hanya menimbulkan bau, tetapi juga berpotensi memperburuk sedimentasi dan menghambat aliran air saat debit sungai meningkat.

“Kalau sungai bersih, kita juga nyaman. Tidak ada rasa bau,” katanya.

Etape ketiga Ngintir Kali Surabaya merupakan bagian dari rangkaian penyusuran menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni. Tim mengakui, selama melakukan penyusuran sungai aman.

“Hal ini menunjukkan Kali Surabaya itu aman, selama kami melakukan penyusuran tiga hari. Kalau sungai aman masih ada harapan untuk dipulihkan, “ pungkas Heri. ***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *