Lewati ke konten

Perkuat Ekonomi Desa, BUMDes Bangun Mojokerto Kelola Greenhouse Cocopeat Hasil Inisiasi Mahasiswa KKN

| 3 menit baca |Rekreatif | 24 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: M Kholid Basyaiban Editor: Supriyadi

Mahasiswa KKN Universitas Uluwiyah Mojokerto meresmikan greenhouse cocopeat di Desa Bangun sebagai unit usaha BUMDes sekaligus sarana edukasi pertanian modern dan keberlanjutan lingkungan.

Harapan baru bagi penguatan ekonomi Desa Bangun, Pungging, Mojokerto, Jawa Timur, mulai ditanam melalui peresmian greenhouse berbasis cocopeat pada 5 Maret 2026.

Fasilitas yang merupakan inisiatif mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Uluwiyah Mojokerto ini, kemudian diserahkan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat untuk dikelola sebagai unit usaha produktif.

Greenhouse itu dirancang sebagai sarana budidaya tanaman hortikultura dengan metode pertanian yang lebih modern dan efisien. Media tanam cocopeat, yang berasal dari serat sabut kelapa, dipilih karena memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air dengan baik sehingga dapat menjaga kelembapan media tanam secara optimal.

Selain itu, penggunaan cocopeat dinilai cocok untuk pertanian di lahan terbatas. Tanaman tetap dapat tumbuh dengan baik meskipun tidak menggunakan tanah secara langsung. Konsep ini sekaligus menjadi alternatif bagi desa yang ingin mengembangkan pertanian intensif di ruang yang lebih sempit.

Ketua KKN Universitas Uluwiyah Mojokerto, Siti Zumaro mengatakan, greenhouse ini menjadi langkah awal membangun sistem ekonomi desa yang berbasis keberlanjutan. Ia berharap fasilitas itu tidak hanya dimanfaatkan sebagai tempat produksi tanaman, tetapi juga sebagai ruang belajar bagi masyarakat.

“Dari tanah sederhana inilah harapan itu tumbuh. Greenhouse ini bukan hanya tempat menanam, tetapi ruang belajar tentang tanggung jawab, kepedulian lingkungan, dan kemandirian ekonomi,” kata Siti dalam sambutannya peresmian.

Menurut dia, pengelolaan greenhouse oleh BUMDes diharapkan mampu menciptakan usaha baru yang dapat memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat desa dalam jangka panjang.

Peresmian fasilitas tersebut ditandai dengan pemotongan pita oleh perwakilan pemerintah desa. Setelah itu, para tamu undangan meninjau langsung bagian dalam greenhouse yang telah dilengkapi media tanam cocopeat dan sejumlah bibit tanaman hortikultura.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel
Siswa SDN Bangun mencoba praktik menanam menggunakan media cocopeat di dalam greenhouse saat kegiatan peresmian yang digagas mahasiswa KKN Universitas Uluwiyah Mojokerto. Foto: Dok KKN

#Edukasi Lingkungan Sejak Dini

Kegiatan peresmian greenhouse tidak hanya melibatkan perangkat desa dan mahasiswa KKN. Sejumlah siswa dari SDN Bangun juga ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut dengan mencoba praktik menanam secara langsung di dalam greenhouse.

Dengan penuh antusias, para siswa diperkenalkan pada media tanam cocopeat serta teknik dasar budidaya tanaman. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi lingkungan sejak dini kepada generasi muda desa.

Perwakilan Kepala Desa Bangun, Anang, menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa yang menghadirkan inovasi pertanian tersebut. Ia menilai greenhouse cocopeat berpotensi menjadi peluang usaha baru bagi desa sekaligus sarana pembelajaran pertanian modern.

“Kami menyambut baik inovasi ini. Greenhouse cocopeat dapat menjadi peluang usaha desa yang menjanjikan sekaligus sarana edukasi pertanian modern bagi masyarakat,” ujar Anang.

Ia berharap pengelolaan greenhouse oleh BUMDes dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan. Selain menghasilkan produk hortikultura, fasilitas tersebut diharapkan menjadi pusat pembelajaran pertanian bagi warga desa.

Melalui program ini, mahasiswa KKN tidak hanya menghadirkan pembangunan fisik berupa greenhouse, tetapi juga menanamkan nilai keberlanjutan, kepedulian sosial, serta kesadaran ekologis di tengah masyarakat.

Bagi Desa Bangun, greenhouse cocopeat itu kini menjadi simbol langkah kecil menuju kemandirian ekonomi desa yang berakar pada inovasi, kolaborasi, dan kepedulian terhadap lingkungan serta generasi masa depan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *