Gedung Nasional Indonesia Surabaya tegak berdiri sebagai monumen perlawanan ekonomi. Soetomo memacu rakyat menyisihkan kepingan sen demi membangun markas mandiri tanpa sepeser pun dana dari penjajah.
Deru mesin kendaraan menggilas aspal Jalan Bubutan, Surabaya. Di sela kepungan beton modern, sebuah bangunan menantang waktu dengan keangkuhan yang santun. Pagar besinya kokoh, menaranya menjulang tenang, menawarkan sunyi yang kontras dengan hiruk-pikuk kota.
Inilah Gedung Nasional Indonesia (GNI), manifestasi harga diri bangsa yang terwujud tanpa melibatkan kas kolonial. Pada 1930, atmosfer Surabaya mendidih, menjadi kawah candradimuka bagi kaum intelektual pribumi. Martabat bangsa sedang dipertaruhkan di bawah bayang-bayang otoritas penjajah yang kian pongah.
#Kemandirian dari Kepingan Sen Rakyat
Dr. Soetomo meletupkan pemberontakan ekonomi yang elegan. Saban kali kaum pergerakan hendak berkumpul, aktivis terpaksa menyewa ruang milik pemerintah Belanda dengan tarif yang mencekik leher. Belum lagi pengawasan ketat aparat intelijen kolonial yang selalu mengintai di balik jendela, mencatat setiap gerak-gerik pribumi.
Gerah dengan intimidasi, Soetomo menggerakkan rakyat untuk memutus ketergantungan. Pedagang pasar loak hingga buruh pelabuhan yang bermandi keringat menyisihkan kepingan sen mereka. Denting koin perunggu itu perlahan menjelma menjadi pondasi beton.
GNI pun tegak berdiri sebagai antitesis dari kemewahan gedung kolonial yang dibayar dengan air mata rakyat. Supardi (50), penjaga yang setia merawat ubin-ubin sejarah, menangkap ruh di balik bangunan ini.
“Setiap pagi saat saya membuka gerbang, saya selalu merasa gedung ini punya nyawa. GNI ini milik rakyat Surabaya yang iuran koin demi koin supaya punya tempat rapat yang tidak diusir Belanda, ” kata Supardi, ketika ditemui, Kamis, (30/4/2026).
Sentimen kemandirian terpahat pada setiap jengkal ubin. Rakyat Surabaya membangun benteng politik mereka sendiri tanpa memelas bantuan kas Belanda. Bangunan tersebut menjadi bukti bahwa kemerdekaan sejati dimulai dari kedaulatan atas ruang sendiri.

#Markas Politik dan Napas Revolusi
Memasuki pendopo, aura pergerakan masih terasa kental. Di bawah naungan atap luas ini, strategi besar dirancang untuk meruntuhkan dominasi asing. GNI menjadi jantung Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), organisasi yang menyusup ke akar rumput demi membangkitkan kesadaran massa.
Di ruang-ruang remang ini, gagasan koperasi dan pendidikan kerakyatan diperdebatkan hingga fajar menyingsing. Ketika revolusi pecah pada November 1945, GNI bertransformasi menjadi dapur umum dan pusat komando informasi.
Jalan Bubutan berubah menjadi palagan maut. Meski mortir-mortir Sekutu menghujani Surabaya dengan dentuman yang memekakkan telinga, GNI menolak rubuh. Gedung ini tetap tegar berdiri, melindungi semangat pemuda yang terus berkobar di tengah kepulan asap mesiu dan bau karat senjata.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel#Pesan Terakhir di Balik Nisan
Di bagian belakang kompleks, kesunyian terasa lebih magis. Di sana terdapat makam Dr. Soetomo, sang dokter rakyat yang menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Beliau memilih menetap di rumah yang dibangun dengan cucuran keringat warga ketimbang bersanding dengan para petinggi di makam megah.
Di dekat area pemakaman, museum menyimpan alat-alat medis tua milik sang dokter, saksi bisu perjuangan menyembuhkan raga sekaligus martabat bangsa yang sedang sakit akibat penjajahan. Supardi melihat pilihan lokasi makam ini sebagai pengingat keras bagi mereka yang hidup di masa kini.
“Makam Dr. Soetomo di belakang itu pengingat agar tidak sombong. Beliau itu dokter hebat, tetapi mintanya dimakamkan di gedung rakyat, bukan di tempat elit, ” ucap Supardi.
Sementara itu Andini (19), mahasiswi yang datang untuk riset, GNI adalah cermin yang memantulkan kemiskinan visi generasi masa kini dibandingkan pemuda era 1930-an.

“GNI itu menurutku ‘hidden gem’ yang sebenarnya. Di luar sangat macet dan panas, tetapi pas masuk ke sini suasananya langsung beda, “ ucapnya.
“Kita seperti diajak bicara sama masa lalu tentang pentingnya punya prinsip sebagai sebuah bangsa. Bayangkan, tahun 1930 mereka sudah terpikir bikin gedung sendiri tanpa bantuan asing. Itu pelajaran besar buat generasi saya yang apa-apa serba instan sekarang, ” jelas Andini.
GNI hadir sebagai kompas moral. Situs tersebut mengingatkan bahwa bangsa ini pernah begitu percaya diri membangun istana perjuangan dengan tangan sendiri. Saat senja tiba di Bubutan, bayang-bayang menara GNI memanjang di atas aspal yang mulai dingin.
Di depan pusara sang dokter, waktu seolah berhenti berputar. Dari keheningan makam tersebut, mengalir bisikan yang menantang zaman: “Jangan tanyakan apa yang diberikan negaramu, tetapi tanyalah apa yang bisa kamu bangun dengan tanganmu sendiri, “***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.