Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Trunojoyo Madura mempelajari sistem IPAL Klinik UTM Bangkalan, menelusuri tahapan filtrasi limbah hingga pengujian biologis sebelum dilepas ke lingkungan.
Puluhan mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) Universitas Trunojoyo Madura memadati area Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Klinik UTM Bangkalan pada Rabu (25/2/2026).
Mereka datang bukan untuk berkunjung, melainkan melakukan studi lapangan untuk memahami langsung bagaimana limbah medis dan domestik dari layanan kesehatan diolah sebelum dilepas ke lingkungan.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 09.00 WIB itu merupakan bagian dari pembelajaran mata kuliah Pengelolaan Limbah.
Para mahasiswa didampingi dosen pengampu Dyos Bobby Chandra, S.Si., M.Si., yang menilai pengalaman lapangan penting agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga praktik pengelolaan limbah.
Penjelasan mengenai sistem IPAL disampaikan Syifauddin, staf administrasi Poliklinik UTM yang turut mengelola fasilitas tersebut. Ia memaparkan bahwa limbah cair dari berbagai aktivitas klinik—seperti wastafel, kamar mandi, dan fasilitas pelayanan lainnya—tidak langsung dibuang ke lingkungan.
“Limbah dari kegiatan klinik terlebih dahulu masuk ke bak penampungan awal sebelum melalui proses filtrasi,” ujar Syifauddin kepada para mahasiswa dalam rilis yang dikirim, Selasa, (10/3/2026).
Bak penampungan awal berfungsi sebagai tempat pengumpulan sementara limbah cair medis dan domestik. Dari sana, air limbah dipompa menuju unit filtrasi utama menggunakan pompa diesel.
Unit filtrasi utama terdiri dari tiga sekat atau tabung penyaringan yang berfungsi memisahkan partikel padat, lumpur, serta berbagai zat pencemar. Proses penyaringan dilakukan secara bertahap agar kualitas air meningkat sebelum masuk ke tahap berikutnya.
Jika pada proses penyaringan pertama air limbah belum memenuhi standar kejernihan, sistem akan secara otomatis mengembalikannya ke bak penampungan awal untuk diolah kembali.
“Air yang belum terfiltrasi dengan baik akan kembali ke bak penampungan pertama untuk diproses ulang,” kata Syifauddin.

#Dari Filtrasi Bertingkat Hingga Indikator Ikan
Setelah melewati filtrasi utama, air limbah dialirkan menuju tandon penampungan sementara. Dari tandon ini, air kemudian menjalani proses filtrasi lanjutan melalui dua tabung penyaring tambahan sebelum dinyatakan layak dibuang.
Menurut Syifauddin, tahap akhir pengolahan melibatkan metode pengujian sederhana namun efektif, yaitu indikator biologis menggunakan ikan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Air hasil olahan akan diuji menggunakan indikator biologis, salah satunya ikan. Jika ikan dapat bertahan hidup, berarti kualitas air cukup aman,” ujarnya.
Setelah melalui seluruh tahapan tersebut, air limbah yang telah diolah dapat dialirkan ke selokan atau dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman di sekitar area klinik.
Bagi para mahasiswa, kunjungan ini membuka perspektif baru mengenai pengelolaan limbah skala fasilitas kesehatan. Meir Tsabita Rihadatul Aisy, salah satu peserta studi lapangan mengatakan, praktik langsung seperti ini membantu mahasiswa memahami bagaimana teori pengolahan limbah diterapkan di lapangan.
“Dengan melihat langsung sistem IPAL, kami jadi lebih memahami bagaimana limbah dari fasilitas kesehatan harus dikelola agar tidak mencemari lingkungan,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Fikri Iqbal Rahmatullah dan Dwi Ayu Lestari. Mereka menilai sistem filtrasi bertingkat yang digunakan di IPAL Klinik UTM menunjukkan upaya pengelolaan limbah yang cukup serius di lingkungan kampus.
Mahasiswa lain seperti Dwi Kartini, Aswinnia Buatan, dan Mohammad Rafil Maulana juga menyoroti pentingnya sistem pengolahan limbah yang terintegrasi. Menurut mereka, limbah medis yang tidak dikelola dengan baik berpotensi mencemari air dan membahayakan organisme perairan.
Dyos Bobby Chandra menjelaskan bahwa studi lapang semacam ini dirancang agar mahasiswa memahami keterkaitan antara pengelolaan limbah dan kelestarian sumber daya perairan.
“Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana sistem pengolahan limbah bekerja. Dari situ mereka bisa memahami dampaknya terhadap lingkungan jika pengelolaan dilakukan dengan benar atau sebaliknya,” ujarnya.
Menurutnya, pengolahan limbah merupakan bagian penting dari upaya menjaga kualitas lingkungan, terutama di kawasan dengan aktivitas manusia yang tinggi seperti fasilitas kesehatan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teknologi pengolahan limbah, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis dalam menjaga kualitas air dan keberlanjutan ekosistem perairan.***