Lewati ke konten

Green Jobs Festival 2026 Surabaya: Riset Mikroplastik dan Tuntutan EPR pada Produsen Jawa Timur

| 5 menit baca |Ide | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Festival di Surabaya membuka diskusi keras soal masa depan kerja berbasis lingkungan, dari riset mikroplastik hingga tekanan pada produsen plastik di Jawa Timur.

Green Jobs Festival yang digelar di Surabaya mengerucut pada satu nama: Amiruddin Muttaqin. Senior Researcher ECOTON Foundation itu mengularkan gagasan di depan pengunjung. Tak hanya terdengar sederhana, tetapi mengandung konsekuensi radikal: “Everyone is Scientist, Everyone is Activist.”

Pernyataan Amiruddin itu bukan slogan semata. Tetapi ai memosisikan krisis lingkungan yang terjadi, sebagai ruang produksi kerja baru. Hal ini tentu sebuah keniscayaan yang harus ditanggung bersama.

“Krisis lingkungan dan krisis iklim memang peluang baru bagi lahirnya green jobs di Jawa Timur ini. Tetapi peluang ini harus terbuka lebar,” kata Amiruddin memulai bicara, Sabtu, 18 April 2026.

Festival yang digelar Go Forest Jatim di Hall AMEC Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya itu, menghadirkan lebih dari 200 peserta. Mayoritas mahasiswa, sisanya komunitas lintas kota: Surabaya, Gresik, Mojokerto, Bojonegoro, hingga Malang. Mereka datang dengan satu keresahan yang sama—lingkungan rusak, lapangan kerja menyempit.

Di tengah atmosfer itu, booth ECOTON menjadi magnet tersendiri. Rata-rata pengunjung mengerumuni layanan uji mikroplastik pada kulit, sebuah pendekatan yang terasa provokatif. Karena riset tidak lagi diposisikan sebagai produk laboratorium, melainkan pengalaman personal yang bisa disentuh langsung oleh publik.

Ada yang perlu diluruskan dari cara pandang lama yang terlalu nyaman: krisis lingkungan sering diposisikan sebagai urusan segelintir ahli. Amiruddin Muttaqin justru membongkar asumsi itu.

Melihat kenyataan ini, mulai dari sungai tercemar hingga mikroplastik yang merayap masuk tubuh manusia. Amiruddin meminta harus dilakukannya pergeseran perspektif.

Peneliti tidak lagi berdiri di menara gading, sementara aktivisme berhenti sebagai letupan sesaat. Keduanya dipaksa bertemu dalam satu ruang: kerja kolektif berbasis data.

“Setiap orang dapat berperan sebagai peneliti yang menghasilkan data sekaligus menjadi penggerak perubahan di lingkungannya,” ujarnya.

Gagasan ini sangat egaliter, memang, Tetapi tak menutup kemungkinan implikasinya keras. Karena jika semua orang adalah peneliti, maka produksi pengetahuan tidak lagi dimonopoli institusi. Jika semua orang adalah aktivis, maka tanggung jawab tidak bisa terus dilempar ke pemerintah atau industri. Di titik itulah, krisis lingkungan berubah dari isu teknokratis menjadi urusan politik sehari-hari, yang menuntut keterlibatan langsung, bukan hanya kepedulian simbolik.

Laboratorium sungai ini lahir dari inisiatif Amiruddin Muttaqin melalui konsep Citizen Science Tourism—model ekowisata berbasis riset partisipatif yang melibatkan warga dalam membaca dan merawat ekosistem Daerah Aliran Sungai Brantas.| Dok Fio

#Dari Sungai ke Kebijakan: Jejak Dua Dekade

Keberanian berbicara itu, karena jejak Amiruddin dalam isu lingkungan bukan cerita instan. Lebih dari dua dekade ia berkutat pada konservasi mata air dan perlindungan sungai.

Saat ini ia sedang menjalani fokus terbarunya, yaitu mengarah ke kawasan Kali Tebu di Surabaya utara, wilayah yang menjadi jalur tersembunyi aliran sampah plastik menuju Selat Madura.

Kerja lapangan dilakukan melalui pemantauan sungai, edukasi warga, dan advokasi kebijakan. Pendekatan ini menempatkan riset sebagai alat tekan terhadap negara dan industri.

“Pekerjaan masa depan harus menjaga keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan lingkungan. Orientasi kerja perlu memberi dampak nyata bagi kelestarian alam,” kata Amiruddin.

Posisi peneliti sungai dalam konteks green jobs menjadi strategis. Data yang dihasilkan tidak berhenti sebagai laporan, melainkan berfungsi sebagai amunisi untuk mendorong regulasi. Di titik ini, riset berubah menjadi instrumen politik.

Temuan Ekspedisi Sungai Nusantara memperlihatkan gambaran muram: sebagian besar sungai di Indonesia tercemar plastik. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cermin kegagalan sistemik—dari produksi hingga pengelolaan sampah.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Amiruddin menekankan pentingnya Extended Producer Responsibility (EPR). Produsen tidak bisa lagi bersembunyi di balik rantai distribusi. “Tanggung jawab harus ditarik sampai ke hulu, bukan berhenti di konsumen,” ujarnya.

#Mikroplastik dan Tubuh Manusia

Di sudut lain festival, pameran “Welcome Microplastic Island” menghadirkan realitas yang lebih mengganggu. Mikroplastik ditemukan di air, organisme perairan, hingga udara. Temuan paling mengkhawatirkan: partikel itu sudah masuk ke dalam tubuh manusia.

Koordinator Booth Ecoton, Tasya Husna menyebut, mikroplastik terdeteksi dalam sistem biologis, termasuk sistem reproduksi. Dampaknya belum sepenuhnya terpetakan, tetapi indikasi gangguan kesehatan jangka panjang mulai terlihat.

“Temuan ini menunjukkan pencemaran plastik sudah berada pada tahap serius dan menyentuh kehidupan manusia secara langsung,” kata Tasya, saat berbincang dengan pengunjung booth Ecoton.

Paparan paling sering berasal dari aktivitas sehari-hari, jelas Tasya. Wadah makanan, minuman, dan plastik sekali pakai. Serta pola konsumsi menjadi pintu masuk utama kontaminasi.

Di titik inilah, narasi green jobs baru menemukan konteksnya. Pekerjaan berbasis lingkungan tidak berhenti pada penciptaan lapangan kerja, melainkan harus menyasar perubahan perilaku bersama. Edukasi, riset, dan advokasi menjadi tiga pilar yang saling mengunci.

Ecoton mengungkap lima merek penyumbang mikroplastik di perairan Indonesia. Prigi Arisandi (kiri) bersama Amiruddin Muttaqin (kanan) dalam dokumentasi riset Ekspedisi Sungai Nusantara. | Foto: Arsip Ecoton

#Negara, Program, dan Realitas Lapangan

Pemerintah Provinsi Jawa Timur turut hadir melalui sejumlah dinas. Asisten II Sekretariat Daerah, Dydik Rudy Prasetya, membuka acara dengan memaparkan program Nawa Bhakti Satya Laksana Jatim Lestari.

Program tersebut mencakup ekonomi sirkular, kampung iklim, desa berseri, energi hijau, hingga kehutanan sosial. Daftar itu terdengar ambisius. Pertanyaannya: sejauh mana implementasi berjalan di lapangan?

Perwakilan pemerintah mengakui sektor green jobs berkembang cepat—restorasi hutan, pertanian berkelanjutan, analitik lingkungan, smart farming, energi terbarukan, hingga teknologi pengolahan limbah.

“Green jobs harus mampu memberikan solusi nyata terhadap persoalan lingkungan, sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat,” ujar Dydik.

Diskusi lanjutan menghadirkan berbagai aktor: Dinas Kehutanan, Bank Sampah Induk Surabaya, Profauna Indonesia, dan ECOTON. Semua sepakat pada satu hal: kolaborasi lintas sektor menjadi kunci.

Di tengah berbagai program dan jargon, posisi Amiruddin terasa berbeda. Ia tidak menawarkan janji besar, melainkan kerja konkret berbasis data. Pendekatannya mengandung tekanan sekaligus ajakan.

Green jobs, dalam kerangka yang ia dorong, bukan sekadar tren ekonomi hijau. Ini adalah medan konflik antara kepentingan lingkungan dan logika industri. Di sanalah riset berubah menjadi alat tawar, dan masyarakat didorong menjadi aktor utama.

Gagasan “Everyone is Scientist, Everyone is Activist” akhirnya menjadi lebih dari slogan. Slogan itu tentu saja bekerja sebagai strategi—menggeser pusat pengetahuan dari laboratorium ke ruang publik, dari elit ke warga biasa. Sebuah upaya membongkar jarak antara data dan tindakan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *