Lewati ke konten

Ketika Warga Kota Surabaya Enggan Beralih ke Transportasi Umum

| 4 menit baca |Rekreatif | 19 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Supriyadi

Upaya pembenahan transportasi umum di Surabaya terus berjalan, namun minat warga masih rendah. Akses terbatas, waktu tunggu, dan kebiasaan lama menjadi kendala utama.

Kota Surabaya selalu menghadirkan lanskap seperti biasanya setiap hari, kepadatan kendaraan, deru mesin yang tak putus, serta sepeda motor yang mendominasi ruas jalan. Dalam situasi itu, kehadiran transportasi umum seperti Suroboyo Bus sebenarnya menawarkan alternatif. Realitas menunjukkan layanan ini belum menjadi pilihan utama warga.

Persoalan pertama yang mencuat soal akses. Keberadaan transportasi umum tidak cukup hanya dengan menyediakan armada yang nyaman. Kemudahan untuk menjangkaunya menjadi faktor penentu.

Rizal, seorang karyawan swasta, mengaku pernah mencoba menggunakan Suroboyo Bus. Ia menilai fasilitas yang tersedia cukup baik, mulai dari pendingin udara hingga kenyamanan tempat duduk. Hanya saja ia kembali menggunakan sepeda motor karena alasan praktis.

“Dari rumah ke halte cukup jauh. Kalau naik motor, lebih cepat dan langsung sampai,” katanya pada Kamis, 26 Maret 2026.

Pengalaman ini mencerminkan persoalan konektivitas yang belum optimal. Banyak halte yang belum terhubung dengan jalur pejalan kaki yang memadai atau moda transportasi pendukung. Akibatnya, warga harus menempuh jarak tambahan yang tidak selalu nyaman.

Di beberapa titik, fasilitas halte juga masih minim. Tidak semua halte dilengkapi tempat duduk atau peneduh. Kondisi ini membuat pengalaman awal menggunakan transportasi umum menjadi kurang menarik, terutama di tengah cuaca panas kota Surabaya.

Salah satu armada Suroboyo Bus melintas di ruas jalan Surabaya. Hadir sebagai alternatif transportasi umum yang ramah lingkungan, layanan ini menawarkan kenyamanan sekaligus menjadi upaya mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi di kota. Sumber: Pikiran Rakyat Surabaya

#Waktu Tunggu dan Ketidakpastian Layanan

Selain akses, faktor waktu menjadi pertimbangan utama bagi warga dalam memilih moda transportasi. Dalam kehidupan perkotaan yang dinamis, efisiensi perjalanan menjadi prioritas.

Siti, seorang ibu rumah tangga, menuturkan bahwa ia sesekali menggunakan Suroboyo Bus. Namun, ia menilai layanan tersebut belum sepenuhnya dapat diandalkan, terutama dalam kondisi mendesak.

“Kalau pas waktunya, enak. Tapi kadang harus menunggu lama,” ujarnya. “Kalau sedang terburu-buru, saya lebih memilih ojek online, ” ucap pada hari yang sama, Kamis, 26 Maret 2026.

Ketidakpastian jadwal dan waktu tunggu menjadi tantangan yang sering dihadapi pengguna transportasi umum. Bagi banyak orang, menunggu bukan sekadar jeda, melainkan bagian dari biaya perjalanan yang harus diperhitungkan.

Kondisi ini membuat kendaraan pribadi tetap menjadi pilihan yang lebih menarik. Sepeda motor, misalnya, menawarkan fleksibilitas waktu dan rute yang tidak dimiliki transportasi umum.

Padahal, peningkatan kualitas layanan, seperti kepastian jadwal dan informasi waktu kedatangan secara real-time, dapat meningkatkan kepercayaan pengguna. Tanpa kepastian tersebut, sulit bagi transportasi umum untuk bersaing dengan moda lain yang lebih fleksibel.

Halte Suroboyo Bus di kawasan Kertomenanggal Surabaya tampak minim fasilitas—hanya berupa penanda sederhana di tepi jalan tanpa tempat berteduh maupun area duduk. Kondisi ini mencerminkan tantangan akses yang masih dihadapi warga dalam menggunakan transportasi umum di Surabaya. | Foto: Shella

#Kebiasaan Lama dan Tantangan Perubahan

Di luar persoalan teknis, terdapat faktor yang lebih mendasar, yaitu kebiasaan. Selama bertahun-tahun, kendaraan pribadi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Surabaya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Transportasi umum sering kali diposisikan sebagai pilihan kedua, bukan sebagai kebutuhan utama. Moda kota digunakan ketika tidak ada alternatif lain, bukan karena menjadi preferensi.

Padahal, dari sisi lingkungan, penggunaan transportasi umum memiliki dampak yang signifikan. Satu unit bus mampu mengangkut puluhan penumpang sekaligus, sehingga dapat mengurangi jumlah kendaraan di jalan dan menekan emisi gas buang.

Suroboyo Bus bahkan menghadirkan inovasi dengan sistem pembayaran menggunakan botol plastik bekas. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan mempermudah akses, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah.

Meski demikian, perubahan perilaku tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan waktu, konsistensi layanan, serta dukungan kebijakan yang mendorong masyarakat untuk beralih.

Di berbagai kota besar, keberhasilan transportasi umum tidak hanya ditentukan oleh kualitas armada, tetapi juga oleh kebijakan yang membatasi penggunaan kendaraan pribadi serta menyediakan sistem transportasi yang terintegrasi.

Surabaya kini berada dalam fase transisi tersebut. Upaya pembenahan telah dilakukan, tetapi hasilnya belum sepenuhnya terlihat.

Pada akhirnya, masa depan transportasi umum di kota ini tidak hanya bergantung pada pemerintah atau penyedia layanan. Pilihan individu juga memegang peran penting.

Setiap keputusan sederhana—memilih naik bus atau tetap menggunakan kendaraan pribadi—akan menentukan arah perubahan. Jika dilakukan secara kolektif, perubahan kecil itu dapat membawa dampak besar bagi kota.

Perlahan, dengan perbaikan yang berkelanjutan dan meningkatnya kesadaran masyarakat, transportasi umum berpotensi menjadi tulang punggung mobilitas Surabaya. Namun, untuk mencapai itu, tantangan akses, waktu, dan kebiasaan harus terlebih dahulu diatasi. ***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *