Lewati ke konten

Wajah Baru Siola: Upaya Merawat Ingatan di Tengah Modernitas Surabaya

| 6 menit baca |Rekreatif | 17 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Supriyadi

Gedung Siola merekam kejayaan Tunjungan sebagai pusat belanja kolonial hingga modern, menyimpan memori kota, perubahan ekonomi, dan upaya menghidupkan kembali ruang publik bersejarah.

Ritme kota mulai terasa di Jalan Tunjungan pada Senin pagi, 16 Maret 2026. Kendaraan melintas perlahan, sementara pejalan kaki menyusuri trotoar di antara deretan bangunan tua yang berdiri berdampingan dengan wajah modern kota.

Di antara semuanya, Gedung Siola tetap mencolok, berdirti diam, kokoh, sekaligus menyimpan cerita panjang tentang masa ketika Tunjungan menjadi jantung gaya hidup urban.

Orang-orang kini datang ke gedung itu untuk mengurus dokumen kependudukan atau sekadar mengunjungi Museum Surabaya. Beberapa dekade lalu, tempat yang sama merupakan pusat keramaian yang berbeda.

Orang datang bukan untuk administrasi, melainkan untuk berbelanja, berjalan-jalan, dan menikmati suasana kota yang sedang tumbuh menjadi pusat perdagangan penting di Hindia Belanda.

“Dulu, kalau ke kota ya pasti ke Tunjungan,” kata Dedi (52), warga yang tinggal lama kawasan tersebut. “Siola itu seperti pusat segalanya.”

Suasana Jalan Tunjungan pada masa kolonial, ketika Gedung Siola masih dikenal sebagai Whiteaway Laidlaw, department store modern yang menjadi pusat belanja masyarakat kota pada awal abad ke-20 di Surabaya. | Foto: @surabayarollcake

#Tunjungan sebagai Etalase Modernitas Kolonial

Sejak awal abad ke-20, kawasan Tunjungan telah dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi di Surabaya. Letaknya strategis, menghubungkan kawasan perdagangan lama di sekitar pelabuhan dengan wilayah permukiman Eropa yang berkembang di pusat kota.

Pada masa itu, Surabaya berkembang pesat sebagai kota pelabuhan besar di Jawa Timur. Aktivitas perdagangan dari berbagai wilayah Nusantara dan mancanegara menjadikan kota ini ramai oleh pedagang, pekerja, dan pejabat kolonial. Jalan Tunjungan kemudian menjelma menjadi kawasan bisnis modern dengan toko-toko besar, hotel, dan kantor perusahaan.

Dalam konteks itulah Gedung Siola berdiri. Bangunan ini mulai dibangun pada awal dekade 1920-an. Awal berdiri gedung itu dikenal sebagai Whiteaway Laidlaw, sebuah perusahaan ritel asal Inggris yang membuka department store modern di berbagai kota besar Asia.

Konsep yang ditawarkan terbilang baru pada masa itu. Whiteaway Laidlaw bukan toko biasa, yang menjual kebutuha warga kota. Tapi ruang yang menghadirkan pengalaman berbelanja modern. Pengunjung bisa menemukan berbagai barang kebutuhan dalam satu tempat, mulai dari pakaian, perlengkapan rumah tangga, hingga produk impor dari luar negeri.

“Ini adalah simbol kemajuan kota,” tulis sebuah arsip kolonial tentang keberadaan toko tersebut. “Tempat di mana gaya hidup modern mulai diperkenalkan kepada masyarakat urban.”

Etalase besar yang menghadap jalan menampilkan barang-barang terbaru, menarik perhatian pejalan kaki. Di dalam, rak-rak barang tersusun rapi, menciptakan suasana yang berbeda dari pasar tradisional yang sebelumnya lebih dominan.

Di luar gedung, suasana Tunjungan juga tidak kalah hidup. Trem kota melintas, kendaraan kuda masih sesekali terlihat, dan orang-orang berjalan kaki menyusuri trotoar. Kawasan ini perlahan menjadi ruang sosial baru, tempat warga kota bertemu dan berinteraksi.

Museum Surabaya yang berada di dalam Gedung Siola di kawasan Jalan Tunjungan, Surabaya. Museum ini menyimpan berbagai arsip, foto, dan koleksi yang merekam perjalanan sejarah kota dari masa kolonial hingga perkembangan Surabaya modern. | Foto: Shella

#Siola dan Puncak Keramaian Kota

Seiring berjalannya waktu, nama Whiteaway Laidlaw perlahan menghilang. Masyarakat mulai mengenalnya dengan nama Siola. Nama yang kemudian melekat kuat dalam ingatan warga Surabaya.

Memasuki masa setelah kemerdekaan Indonesia, Siola tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota. Dalam dekade 1950-an hingga 1980-an, tempat ini menjadi tujuan utama warga yang ingin berbelanja di pusat kota.

Banyak warga Surabaya yang masih mengingat pengalaman datang ke Siola pada masa itu. Ada yang membeli pakaian baru, mencari perlengkapan rumah tangga, atau sekadar melihat-lihat barang yang dipajang di etalase.

“Kalau akhir pekan, penuh sekali,” kenang Dedi. “Orang-orang datang dari berbagai daerah.”

Bagi sebagian orang, perjalanan ke Tunjungan selalu terasa istimewa. Jalan itu bukan hanya tempat transaksi ekonomi, tetapi juga ruang pertemuan sosial. Orang bertemu teman, keluarga, atau kolega sambil berjalan di antara toko-toko besar yang berjajar di sepanjang jalan.

Lampu-lampu toko yang terang membuat kawasan ini tetap hidup bahkan pada malam hari. Suasana santai namun ramai menjadi ciri khas Tunjungan pada masa itu.

Seorang warga lain menggambarkan suasana tersebut dengan sederhana. “Rasanya seperti pusat kota benar-benar ada di sini.”

Gedung Siola berdiri sebagai salah satu pusat dari keramaian itu. Tempat itu menjadi titik temu berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kalangan menengah hingga elite kota. Tidak hanya sebagai tempat belanja, tetapi juga sebagai ruang rekreasi dan simbol gaya hidup.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Dari Pusat Belanja ke Ruang Ingatan Kota

Memasuki akhir abad ke-20, wajah Surabaya mulai berubah. Pusat-pusat perbelanjaan modern bermunculan di berbagai bagian kota. Mal dengan konsep baru menawarkan fasilitas yang lebih lengkap dan ruang yang lebih luas.

Aktivitas ekonomi perlahan bergeser dari pusat kota lama ke kawasan baru. Tunjungan yang dulu menjadi pusat keramaian mulai kehilangan sebagian perannya. Gedung Siola pun mengalami masa sepi setelah lama menjadi tempat belanja favorit warga.

“Perubahannya terasa sekali,” ujar Dedi. “Dulu penuh orang jalan kaki, lama-lama jadi sepi.”

Bagi banyak orang, perubahan itu terasa seperti berakhirnya satu bab penting dalam sejarah kota. Tunjungan tidak lagi menjadi pusat utama kehidupan urban seperti sebelumnya.

Namun perjalanan Siola tidak berhenti di sana.

Pemerintah Kota Surabaya kemudian melakukan revitalisasi terhadap bangunan ini. Gedung tersebut tidak dibiarkan hilang begitu saja dari ingatan kota. Sebagian ruangnya difungsikan sebagai kantor pelayanan publik, sementara bagian lainnya menjadi Museum Surabaya.

Di dalam museum, pengunjung dapat melihat berbagai arsip, foto, dan benda yang merekam perjalanan sejarah kota—dari masa kolonial hingga perkembangan modern.

Koleksi itu mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari transportasi hingga dinamika sosial masyarakat.

Putri (24), seorang pengunjung, mengaku baru mengetahui sejarah panjang gedung ini setelah mengunjungi museum. “Awalnya saya kira ini cuma kantor biasa,” katanya. “Ternyata dulu pusat belanja besar.”

Menurutnya, keberadaan museum memberikan perspektif baru bagi generasi muda. “Kita jadi tahu bagaimana kehidupan kota dulu. Jadi bukan cuma cerita orang tua.”

Di luar gedung, Tunjungan hari ini kembali hidup dengan wajah yang berbeda. Revitalisasi kawasan menghadirkan kafe, ruang publik, dan jalur pedestrian yang lebih nyaman. Orang-orang kembali berjalan kaki, menikmati suasana kota yang perlahan dibangun ulang.

Meski tidak sama persis dengan masa kejayaannya, kawasan ini menemukan identitas baru, sebagai ruang publik yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.

Gedung Siola tetap berdiri sebagai penanda perjalanan itu. “Kota tidak hanya merupakan kumpulan bangunan, tetapi juga wadah dari memori dan perjalanan sejarah  masyarakatnya,” tulis Handinoto dalam Arsitektur dan Kota-Kota di Jawa pada Masa Kolonial (2012).

Bangunan seperti Siola, dengan demikian, bukan sekadar struktur fisik, melainkan pengingat akan jejak kehidupan kota yang terus berlapis dari waktu ke waktu.

Di tengah lalu lintas yang terus bergerak dan bangunan modern yang terus tumbuh, Siola menjadi simbol bahwa sejarah tidak pernah benar-benar hilang. Ia tetap ada, tersimpan dalam ruang, cerita, dan ingatan warga kota—menunggu untuk terus diceritakan kembali.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *