Pabrik Siropen Telasih di Jalan Mliwis Surabaya bertahan melewati kolonialisme, nasionalisasi, hingga gempuran sirup industri modern hari ini.
Lorong pendek Jalan Mliwis, Surabaya Utara, masih menyimpan bau gula yang mengendap lama di udara. Aroma karamel samar keluar dari sela jendela kayu tua saat truk-truk kontainer melintas menuju Pelabuhan Tanjung Perak. Aspal bergetar. Klakson bersahutan. Debu tipis beterbangan. Di tengah lalu lintas kasar kawasan pelabuhan, sebuah bangunan lawas berdiri tenang dengan cat kusam dan tembok tebal peninggalan kolonial.
Di nomor 70 jalan sempit itu, Pabrik Siropen Telasih tetap hidup setelah satu abad lebih.
Pagi datang pelan di Mliwis. Cahaya matahari jatuh miring menembus ventilasi kecil bangunan. Pintu kayu jati masih kokoh. Langit-langit tinggi menjaga udara dalam ruangan tetap adem walau panas Surabaya mulai menggigit sejak pukul sembilan pagi. Di bagian produksi, kuali tembaga besar terus mengepul. Uap gula memenuhi ruang.
Suasana seperti tertahan di masa silam.
“Kalau masuk sini orang langsung ingat masa kecil,” kata Dewi, 53 tahun, penjaga toko Siropen Telasih, Kamis siang, 28 Mei 2026.
Dewi sudah puluhan tahun bekerja di sana. Suara mesin rebusan gula dan denting botol kaca jadi rutinitas sehari-hari. Menurut dia, formula dasar Siropen nyaris tak berubah sejak era kolonial Belanda.
“Masih pakai gula asli. Rasa manisnya harus kesat di tenggorokan. Pelanggan lama hafal,” ujar Dewi sambil menata botol sirup rasa cocopandan di rak kayu tua.

#Dari Meja Dansa Kaum Elite
Sejarah Siropen dimulai pada 1923. Pengusaha Belanda J.C. van Drongelen mendirikan pabrik sirup itu di bawah perusahaan raksasa Handelsvereeniging Amsterdam atau HVA. Pada masa kolonial, Surabaya sedang tumbuh sebagai kota perdagangan penting Hindia Belanda. Pelabuhan ramai. Industri gula berkembang cepat. Kaum elite Eropa hidup dalam pesta dan jamuan mewah.
Pada masa itu, es batu masih barang mahal hasil impor. Sirup jadi simbol status sosial. Siropen hadir di meja dansa pejabat kolonial, saudagar kaya, sampai ruang perjamuan elite Eropa.
Botol kaca Siropen pernah dianggap lambang gengsi kota pelabuhan.
Dinding tua di Jalan Mliwis menyimpan jejak masa ketika Surabaya menjadi pusat gaya hidup modern kolonial. Di ruang produksi, ubin lawas motif klasik masih menempel utuh. Lorong-lorong sempit terasa remang dengan cahaya kuning lembut. Beberapa bagian tembok memperlihatkan lapisan semen lama yang mulai mengelupas.
Di dalam dapur produksi, pekerja mengaduk rebusan gula dengan ritme lambat. Panas dari tungku terasa menyesakkan dada. Aroma gula terbakar bercampur uap air memenuhi ruangan.
“Tiap hari ya begini. Panas terus,” kata seorang pekerja sambil tertawa kecil.
Di tengah industri makanan modern yang serba otomatis, proses produksi Siropen masih mempertahankan banyak cara lama. Kuali tembaga tetap dipakai. Sebagian peralatan terlihat menua. Waktu seperti berjalan lebih lambat di sana.
Dewi mengatakan banyak pelanggan sengaja datang dari luar kota hanya untuk membeli rasa lama yang masih bertahan.
“Ada yang datang bilang, ‘Saya minum ini sejak kecil.’ Jadi kalau rasa berubah pasti ketahuan,” ujar Dewi.
Selepas kemerdekaan Indonesia, pabrik Siropen masuk proses nasionalisasi. Pengelolaan kemudian berada di bawah badan usaha milik daerah Jawa Timur. Status baru itu mengubah posisi Siropen dari minuman elite kolonial menjadi produk rakyat.
Botol Siropen mulai hadir di meja tamu saat Lebaran, hajatan kampung, hingga pesta pernikahan warga Surabaya.
Perjalanan panjang itu membuat Siropen seperti punya dua wajah sekaligus: simbol nostalgia kolonial sekaligus memori kolektif warga kota.

#Melawan Rak Supermarket
Menjelang sore, Jalan Mliwis mulai sepi. Truk kontainer masih lewat sesekali. Cat bangunan tua tampak makin pucat diterpa cahaya jingga. Kawasan itu jauh dari kesan destinasi wisata populer. Tidak ada trotoar nyaman. Tidak ada kafe modern penuh lampu estetik. Hanya deretan bangunan lawas dan suara kendaraan berat.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Di tengah suasana itu, Siropen terus bertahan menghadapi pasar yang makin keras.
Rak supermarket hari ini penuh produk sirup industri dengan harga murah dan promosi agresif. Nama-nama besar hadir lewat iklan televisi, media sosial, sampai sponsor acara hiburan. Siropen datang dari gang sempit tua yang nyaris luput dari perhatian generasi muda.
Rian, 29 tahun, pegiat kuliner sejarah Surabaya, menilai kekuatan Siropen justru berada pada cerita panjang yang tak dimiliki produk modern.
“Minum Siropen dingin waktu siang panas rasanya beda. Ada memori kota yang ikut diminum,” kata Rian.
Menurut dia, kawasan Jalan Mliwis sebenarnya punya potensi besar menjadi destinasi wisata sejarah dan kuliner. Pengunjung bisa melihat langsung proses produksi tradisional sambil menikmati suasana kota lama Surabaya Utara.
“Anak muda sekarang suka tempat yang punya cerita,” ujar Rian.
Belakangan, pengelola Siropen mulai mencoba mendekati pasar generasi muda. Ruang display ditata lebih menarik. Banner bertuliskan “Sejak 1923” dipasang besar di bagian depan toko. Botol-botol sirup warna merah dan hijau dipajang dengan pencahayaan hangat agar tampak fotogenik.
Media sosial ikut dipakai sebagai ruang promosi baru.
Foto botol kaca Siropen berlatar tembok kolonial ternyata cukup menarik perhatian anak muda pemburu konten nostalgia. Ada daya tarik visual yang lahir dari perpaduan warna sirup, bangunan lawas, dan cerita sejarah panjang.
Meski begitu, tantangan tetap besar.
Jalan Mliwis belum sepenuhnya ramah wisatawan. Kawasan pelabuhan masih identik dengan kemacetan, debu, serta lalu lintas kendaraan berat. Revitalisasi kawasan kota lama Surabaya Utara juga berjalan lambat.
Siropen seperti bertahan sendirian di antara perubahan kota yang bergerak cepat.
Menjelang malam, suara mesin produksi masih terdengar lirih dari balik bangunan nomor 70. Aroma gula terus keluar pelan menuju jalan sempit yang mulai gelap. Dari kejauhan, lampu kendaraan pelabuhan berkelip samar.
Surabaya mungkin terus berubah dengan apartemen baru, pusat belanja modern, dan gedung tinggi kaca. Tetapi di Jalan Mliwis, waktu terasa bergerak dengan cara berbeda.
Mesin tua masih berputar. Kuali tembaga tetap mengepul. Botol kaca terus diisi cairan manis warna merah menyala.
Setelah lebih dari seabad, Siropen masih menjaga satu hal yang sulit dicari di kota modern: rasa lama yang menolak hilang.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.