Lewati ke konten

DPRD Surabaya Ciptakan Sekolah Sampah Warga

| 5 menit baca |Sorotan | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Supriyadi

Program Sekolah Sampah diluncurkan di Sukolilo, tetapi efektivitas daur ulang dan tata angkut limbah masih jadi sorotan warga.

Tumpukan sampah yang terus membebani Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo mendorong DPRD Kota Surabaya meluncurkan program Sekolah Sampah di Kecamatan Sukolilo. Program ini diarahkan untuk mengubah pola pengelolaan limbah rumah tangga melalui edukasi pemilahan dari sumber.

Gagasan itu tampak masuk menarik memang. Namun ada persoalan yang harus diteliti ulang, salah satunya di Kota Surabaya ini, pemilahan sampah di tingkat rumah tangga selama ini kerap terputus, ketika memasuki rantai pengangkutan dan proses daur ulang.

Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya, Eri Irawan, mengatakan Surabaya memproduksi sekitar 1.800 ton sampah per hari. Beban itu dinilai terlalu besar, jika penanganan hanya bertumpu pada pengangkutan dan pembuangan akhir.

“Kalau warga mulai memilah dari rumah, beban TPA Benowo bisa ditekan cukup besar. Masalahnya selama ini penanganan masih dominan di hilir,” kata Eri saat membuka Sekolah Sampah di Sukolilo dikutip Disway pada Ahad, 24 Mei 2026.

Sebanyak 30 penggerak kampung mengikuti angkatan pertama pelatihan. Mereka mendapat materi pengomposan, pemilahan organik-anorganik, pengurangan residu dapur, hingga pengelolaan sampah bernilai ekonomi.

Program ini dicetuskan di tengah tekanan serius, terhadap sistem persampahan Surabaya. Sampah rumah tangga masih menjadi penyumbang utama dan terbesar. Sampah organik seperti sisa makanan, daun, dan residu dapur mendominasi timbulan harian.

Dalam pelatihan, DPRD menekankan perlunya memindahkan fokus pengelolaan sampah dari TPA ke rumah tangga. Sampah organik yang dibiarkan menumpuk di pembuangan akhir, memicu pembusukan anaerobik dan menghasilkan gas metana.

“Kalau sampah organik selesai di rumah melalui kompos atau maggot, dampaknya jauh ke volume TPA dan emisi,” ujar Eri.

Gas metana menjadi isu penting dalam diskusi itu. Emisi dari sampah organik memiliki kontribusi besar terhadap pemanasan global. Karena itu, pengolahan sisa makanan dinilai lebih strategis ketimbang menunggu pengangkutan ke tempat pembuangan.

DPRD juga membagikan komposter organik dan wadah pengumpulan botol plastik. Bantuan itu dimaksudkan agar pelatihan tidak berhenti di forum seremonial.

Tetapi ada pekerjaan rumah yang lebih besar: efektivitas sistem daur ulang kota. Selama bertahun-tahun, banyak warga mengeluhkan sampah yang sudah dipilah tetap bercampur kembali ketika diangkut. Situasi itu membuat edukasi pemilahan kerap kehilangan daya dorong.

Kritik lain mengarah pada rantai recycling. Tingkat pengumpulan material bernilai ekonomi seperti plastik, kertas, dan kaleng memang meningkat lewat bank sampah, tetapi tidak semua material benar-benar masuk ke daur ulang industri. Sebagian masih berakhir di penampungan sementara, dibakar, atau ikut terkirim ke TPA karena kualitas material rendah, tercampur residu, atau tak terserap pasar.

Artinya, pendidikan lingkungan tanpa pembenahan sistem pengangkutan, pemilahan lanjutan, dan pasar daur ulang berisiko hanya memindahkan masalah dari rumah ke titik lain.

Ilustrasi Sekolah Sampah Surabaya menyoroti besarnya beban 1.800 ton sampah per hari dan dominasi limbah organik yang mencapai 60 persen. Program ini mendorong pemilahan dari sumber, pengolahan kompos dan maggot, serta perbaikan sistem angkut untuk menekan beban TPA Benowo. | Desain AI

#Warga Minta Sistem, Bukan Pelatihan Saja

Sejumlah warga menyambut program ini, meski menaruh catatan pada implementasi lapangan.

Siti Aminah, kader lingkungan di Sukolilo, menilai materi pengomposan dan budidaya maggot cukup relevan, bagi warga yang menghasilkan banyak limbah dapur.

“Pelatihan maggot dan kompos cocok untuk rumah tangga. Sampah dapur bisa selesai lebih cepat, ada manfaat ekonomi juga,” kata Siti.

Budidaya maggot Black Soldier Fly diperkenalkan sebagai cara mengurai residu organik. Larva itu mampu mengonsumsi sisa makanan dalam waktu singkat dan hasilnya bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Di sisi lain, Siti mengingatkan persoalan yang kerap membuat warga jenuh: ketidaksinkronan sistem angkut.

“Kalau warga sudah pisah organik dan anorganik dari dapur, lalu di TPS tercampur lagi, lama-lama orang malas memilah,” ujarnya.

Keluhan serupa datang dari pengurus RW Menur Pumpungan, Bambang. Menurut dia, insentif ekonomi masih menjadi alat paling efektif mendorong disiplin warga.

“Kalau botol, kertas, atau kaleng bisa jadi tabungan lewat bank sampah, partisipasi warga biasanya naik,” kata Bambang.

Masalahnya, model recycling berbasis bank sampah juga menghadapi keterbatasan. Tidak semua RW memiliki jaringan pengelolaan stabil. Harga material fluktuatif. Plastik multilayer, styrofoam, dan residu kemasan sulit terserap pasar. Pada titik ini, ekonomi sirkular sering berhenti pada material bernilai tinggi, sementara residu rendah nilai tetap menjadi beban kota.

Hanya saja, dalam pelatihan itu tidak disebutkan bangunan sistem yang lebih terintegrasi: pemilahan rumah tangga, pengangkutan terpisah, fasilitas pengolahan organik, perluasan TPS3R, dan audit efektivitas daur ulang.

Sekolah Sampah dapat menjadi pintu awal perubahan perilaku memang. Tetapi perubahan perilaku tanpa infrastruktur pendukung akan mudah patah.

Salah satu fokus utama dalam Sekolah Sampah, yaitu penanganan sisa makanan rumah tangga. Hal ini penting karena komposisi sampah di Surabaya masih didominasi limbah organik, seperti sisa masakan, sayuran busuk, dan residu dapur, yang mencapai hampir 60 persen dari total timbulan sampah harian. Kondisi ini menjadikan pengelolaan sampah organik sebagai titik krusial dalam upaya menekan beban lingkungan kota.

Timbunan sampah organik yang tidak dipilah sejak dari permukiman berisiko mengalami pembusukan anaerobik saat menumpuk di TPA. Proses tanpa oksigen itu menghasilkan gas metana (CH4), salah satu gas rumah kaca dengan daya pemanasan sekitar 28 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2) dalam menahan panas di atmosfer.

Karena itu, pemilahan sisa makanan dan limbah organik dari rumah tangga dipandang sebagai langkah konkret untuk mengurangi emisi sekaligus menekan dampak krisis iklim dari sektor persampahan.

DPRD Surabaya menyatakan program ini akan diperluas hingga balai RW dan melibatkan Karang Taruna, kader kampung, serta komunitas lokal. Fokus berikutnya adalah penguatan rumah kompos dan perluasan pengolahan sampah berbasis masyarakat.

Bagi Surabaya, tantangan utamanya tak berhenti pada edukasi. Kota ini sedang menguji apakah pemilahan dari sumber dapat benar-benar menurunkan aliran sampah ke TPA Benowo, atau hanya memperpanjang rantai pengelolaan tanpa mengurangi volume limbah secara signifikan.

Jika sistem angkut, pasar daur ulang, dan pengawasan tidak dibenahi, Sekolah Sampah bisa menjadi ruang belajar yang baik, tetapi belum cukup kuat mengubah krisis persampahan kota.***

*) Shella Mardiana PutriMahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini. 

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *